Ilustrasi transplantasi ginjal (Sumber gambar: Freepik)

Mengenal 3 Sumber Donor Ginjal

16 January 2023   |   15:24 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Penyakit ginjal kronis saat ini telah menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia dengan perkiraan saat ini 850 juta orang terkena penyakit tersebut. Ketua Tim Transplantasi Ginjal RS Siloam ASRI Endang Susalit mengatakan di Indonesia angka prevalensi kasusnya mencapai 10 persen pada orang dewasa.

Sayangnya, penyakit ginjal kronis hanya sebuah awal. Penyakit ginjal kronis yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan akan berujung pada gagal ginjal. Pada umumnya, orang yang sudah terkena penyakit ginjal kronik memang akan mengarah ke gagal ginjal.

Alasannya, penyakit ini kerap tidak menunjukkan gejala tertentu. Fungsi ginjal yang tidak normal baru dirasakan oleh pasien saat fungsinya tinggal 25 persen.

Baca juga: Menengok Kemajuan Teknologi Transplantasi Ginjal di Indonesia

Saat fungsi ginjal tinggal 25 persen, seseorang baru akan merasakan gejala bengkak-bengkak, hipertensi, sesak napas, mual, anemia, dan lainnya. Jika sudah sampai pada tahap tersebut, pasien akan merasakan kualitas hidupnya menurun.

Meskipun demikian, pasien gagal ginjal masih bisa diobati. Ada dua cara yang umum dilalakukan dokter, yakni dialisis dan transplantasi ginjal.

Namun, Endang menyebut transplantasi ginjal merupakan terapi gagal ginjal yang ideal karena bisa mengatasi permasalahan akibat penurunan ginjal, sedangkan dialisis hanya mengatasi sebagian masalah saja.
 

3 Sumber Pasien Mendapatkan Donor Organ Ginjal

Ketua Tim Transplantasi Ginjal RS Siloam Hospitals ASRI Endang Susalit mengatakan saat ini ada 3 sumber pasien mendapatkan donor organ.

Pertama, pasien mendapatkan donor dari pendonor kadaver. Ginjal dari donor kadaver didapat dari orang yang baru saja meninggal dunia dan langsung menyumbangkan organ tubuhnya ke pasien yang membutuhkan.

Kedua, donor sedarah, yakni proses donor organ tubuh yang dilakukan oleh pendonor yang masih memiliki hubungan keluarga kandung dengan pasien. Ketiga, donor tidak sedarah, yakni proses donor organ tubuh yang dilakukan oleh pendonor dari kalangan non-sedarah, seperti suami atau istri, teman, dan orang lain.

(Sumber gambar: Bisnis Indonesia Weekly)

(Sumber gambar: Bisnis Indonesia Weekly)


Secara umum, donor yang didapat dari orang yang sudah meninggal maupun orang hidup tidak jauh berbeda. Dokter Endang menjelaskan perbedaannya hanya terletak pada waktu transplantasinya saja.

Jika pada orang hidup, proses perpindahan donor bisa dilakukan dalam sekali waktu dengan melakukan operasi kedua pihak secara bersamaan. Namun, pada donor kadaver, organ biasanya akan diambil terlebih dahulu sebelum akhirnya dipindahkan ke pasien yang membutuhkan.

Namun, waktu tunggu organ sebelum dipindahkan juga terbatas. Normalnya antara 6-8 jam, meski kini bisa sampai 24 jam dengan teknologi khusus.

Endang mengatakan, saat ini Indonesia telah menerapkan metode pemeriksaan persiapan operasi dan imunosupresan terbasi sehingga mengurangi angka rejeksi. Teknik operasi ini sama dengan yang sudah dilakukan di luar negeri.

Dengan demikian, angka keberhasilan harapan hidup, baik pendonor maupun pasien, sudah sangat tinggi. Oleh karena itu, masyarakat tak perlu takut melakukan transplantasi ginjal di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda
 

SEBELUMNYA

Jual Ginjal Demi Uang, Pakar Sebut Tak Masuk Akal

BERIKUTNYA

Varian Kraken Bisa Picu Long Covid, Ini yang Dikhawatirkan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: