Ilustrasi generasi strawberry (Sumber gambar: Yulia Khlebnikova/Unsplash)

Kenalan dengan Generasi Stroberi yang Katanya Cerdas dan Kreatif Tapi Gampang Menyerah

22 December 2022   |   13:36 WIB
Image
Indah Permata Hati Jurnalis Hypeabis.id

Genhype, kalian mungkin pernah mendengar jika generasi Z saat ini kerap dijuluki juga sebagai generasi stroberi alias strawberry generation. Yup, istilah itu muncul mengambil nama buah-buahan yang terlihat cantik, tetapi mudah hancur layaknya stroberi. Tapi, kenapa ya generasi ini dijuluki dengan istilah tersebut?

Dilansir dari situs Kementerian Keuangan, istilah generasi stroberi pertama kali munculk di Taiwan. Mereka menamai generasi ini sesuai dengan karakteristik buahnya yang dinilai lunak tetapi berpenampilan indah dan menyegarkan.

Tidak sedikit persepsi yang menyebutkan generasi ini memiliki kreativitas dan standar yang tinggi, tetapi mudah tersinggung dan menyerah. Apakah persepsi mengenai generasi stroberi ini benar?

Baca juga: 5 Tren Kerja Ini Bakal Dibentuk Generasi Alfa pada Masa Depan

Psikolog Samanta Elsener mengatakan bahwa memang generasi Z saat ini memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap gangguan psikologis seperti cemas dan stres.

“Yang perlu ditonjolkan dalam hal ini adalah latar belakang dan faktor yang membuat generasi muda tampak lemah. Mereka punya banyak faktor yang memengaruhi kerentanan mereka terhadap gangguan psikologis,” ungkap Samanta.

Penyematan istilah generasi stroberi ini juga turut mengundang persepsi jika generasi masa kini memiliki kecerdasan tinggi, tetapi dihantui kecerdasan emosional yang lebih rentan.

Samanta mengutip sebuah riset yang dilakukan Geher (2017) justru mengungkap.jika ada hubungan positif yang signifikan antara kreativitas dengan kecerdasan emosional. “Melalui studi ini, terbukti jika seorang yang memiliki kreativitas yang tinggi, maka kecerdasan emosionalnya juga tinggi,” ungkapnya.

Jadi, generasi saat ini bisa menyeimbangkan antara kecerdasan otak dengan kecerdasan emosional dengan melakukan aktivitas yang memancing kreativitas dan berpengaruh baik untuk kesehatan mental.

“Generasi saat ini bisa fokus meningkatkan suasana hati yang positif dan membahagiakan, juga semangat optimisme. Hal ini juga senada dengan ungkapan dokter di Diversus Health, lembaga konseling dan perawatan kesehatan mental di AS, yaitu Kim Nyuen yang menyebut bahwa dengan mengasah kreativitas bisa melatih pelepasan hal negatif untuk jiwa dan pikiran sekaligus.

Dari sisi psikologi, penggunan pemikiran kreatif akan sangat berguna, tidak hanya bagi pengembangan kecerdasan emosional, tetapi juga menghilangkan emosi yang bersifat negatif. Untuk itu, akan sangat baik jika setiap orang menerapkan cara-cara kreatif dalam beraktivitas agar terjadi keseimbangan dalam kecerdasan.

“Dalam psikologi, terapi seni menjadi hal penting, di mana individu sebaiknya beraktivitas menggunakan kreativitas untuk merilis emosi-emosi negatif,” ungkap Samanta.


Apalagi, batas setiap orang dalam bekerja tidak bisa dipukul rata. Menurut Samanta, setiap manusia memiliki resiliensi atau ketangguhan yang berbeda-beda. Untuk itu, limitasi orang dalam mengejar target dalam ragam aktivitas juga berbeda-beda.

Baca juga: Awas, Generasi Sandwich Rentan Burnout hingga Depresi

“Sebaiknya memang bekerja keras boleh, tetapi jika sudah burnout atau merasa overwhelmed, artinya itu sudah sinyal atau kode dari tubuh kita untuk bilang bahwa kita perlu istirahat,” jelas Samanta.

Editor: Fajar Sidik
 

SEBELUMNYA

Eileen Pandjaitan Berdamai dengan Diri Sendiri lewat Single To Let You Go

BERIKUTNYA

Mau Liburan Natal 2022 & Tahun Baru 2023? Yuk Perhatikan Imbauan BMKG

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: