pegunjung membaca arsip di pameran Dipl.-Ing.Arsitek (sumber gambar: Hypeabis.id/prasetyo agung)

Telusur Karya Pelopor Arsitek Indonesia 60-an di Taman Ismail Marzuki

13 December 2022   |   17:53 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Kisah para arsitek Indonesia belum banyak terungkap ke publik. Kiprah mereka dalam mengembangkan langgam arsitektur seolah tenggelam dalam gegap gempita pembangunan. Hal inilah yang memicu diadakannya pameran pelopor arsitek Tanah Air di Galeri Emiria Soenasa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Mengambil tajuk Dipl.-Ing. Arsitek: Arsitek Indonesia Lulusan Jerman dari Tahun 1960-an, pameran yang berlangsung dari 12 Desember 2022 hingga 12 Januari 2023 itu mencoba menggali kisah dari delapan arsitek Indonesia yang pernah menuntut ilmu ke Jerman pada 1960-an.

Baca juga: Tren Arsitektur & Desain Interior 2022, Gaya Berkelanjutan Jadi Idaman

Melalui arsip tersebut, pengunjung diajak untuk menyelami kiprah mereka melalui arsip gambar, maket, hingga catatan pribadi. 
 

ilustrasi pameran (sumber gambar hypeabis.id/prasetyo agung)

Ilustrasi pameran (sumber gambar hypeabis.id/prasetyo agung)


Beberapa pelopor arsitek yang dokumentasi dan karyanya ditampilkan antara lain adalah Suwondo Bismo Sutedjo, Soejoedi Wirjoatmodjo, Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Bianpoen, Han Awal, Mustafa Pamuntjak, Herianto Sulindro, dan Jan Beng Oei.

Kurator pameran, Setiadi Sopandi mengatakan melalui pameran tersebut diharapkan dapat memungkinkan pengunjung untuk menelusuri karya profesional para arsitek dalam mengarungi karier, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebab dari sanalah generasi muda bisa memetik nilai-nilai berharga dari masa lalu.

"Berbagai arsip dan dokumen bersejarah ini memungkinkan kita untuk menelusuri karya profesional dan latar pendidikan mereka secara seksama, baik dalam konteksnya pada masa silam dan masa kini," tulis Setiadi dalam catatan kuratorial.

Setiadi mengungkapkan, bagi para arsitek Indonesia, tokoh-tokoh tersebut mungkin merupakan sosok yang sangat dekat, baik sebagai guru, senior atau ayah. Tapi menurutnya hal itu tidak menjamin bahwa mereka dapat memahami lika-liku kiprahnya sebagai arsitek. 

 

Ilusrasi pameran (sumber gambar hypeabis.id/prasetyo agung)

Ilusrasi pameran (sumber gambar hypeabis.id/prasetyo agung)


Sementara itu, bagi masyarakat awam, melalui pameran ini juga dapat menjadi pintu utama untuk memperkenalkan kembali tokoh-tokoh tersebut sebagai sosok di balik bangunan-bangunan ikonik di Indonesia, seperti Gedung DPR/MPR RI, hingga Museum Bank Indonesia di Jakarta.   

Adapun saat memasuki ruang pamer, pengunjung langsung disuguhi rimba arsip teks dan gambar. Di bilik pertama,  kita akan melihat sejarah pembangunan arsitektur di Jerman seusai Perang Dunia II pada 1950-an. Saat itu Berlin yang sebagian besar hancur akibat perang, akhirnya menjadi tempat eksperimentasi arsitektural dunia.

Di kamar pamer lainnya, pengunjung akan disuguhi juga berbagai arsip dan cetak biru dari hasil tugas akhir para mahasiswa arsitektur yang pernah belajar ke Jerman Barat. Ada juga video pendek mengenai pemikiran mereka saat diwawancarai para jurnalis.

Bagian paling menarik dari pameran ini adalah linimasa kiprah para arsitek tersebut yang panjangnya kurang lebih 15 meter dari tahun 1927 hingga 2021. Pada bagian ini sejarah kehidupan pribadi mereka juga turut dipadankan dengan peristiwa-peristiwa besar di dunia yang turut memengaruhi lanskap arsitektur modern.
 

Ilustrasi pemeran (sumber gambar hypeabis.id/prasetyo agung)

Ilustrasi pemeran (sumber gambar hypeabis.id/prasetyo agung)


Sekadar informasi, pameran Dipl.-Ing. Arsitek: Arsitek Indonesia Lulusan Jerman dari Tahun 1960-an, merupakan puncak dari serangkaian kegiatan yang meliputi penelitian, simposium, pameran, dan penerbitan mengenai sejarah arsitektur di Indonesia. 

Baca juga: 3 Bangunan dengan Arsitektur Unik & Aneh di Dunia, Bisa Jadi Pilihan Tempat Wisata

Pameran  tersebut merupakan hasil  produksi kerja sama antara sbca, institusi yang berfokus pada pengembangan dan perencana kota, arsitektur dan budaya bangunan yang berbasis di Berlin, dan Yayasan Museum Arsitektur Indonesia dengan arahan kuratorial dari Setiadi Sopandi dan Avianti Armand berkerja sama dengan Sally Below, Moritz Henning, dan Eduard Kogel.

Catatan redaksi: Nama Lem Bian Poe dalam artikel ini telah diubah menjadi Bianpoen setelah mendapat masukan dari pihak Yayasan Museum Arsitektur Indonesia. 

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Intip Penampilan Para Pemain Serial Mendua di Momen Gala Premiere, Adinia Wirasti hingga Tatjana Saphira

BERIKUTNYA

Daftar Set Lego Termahal di Dunia, Barang Koleksi dengan Harga Selangit

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: