Ilustrasi perajin batik (Sumber gambar: Mahmur Marganti/Unsplash)

Perajin Sebut Batik Mengalami Alih Budaya, Kenapa Ya?

30 November 2022   |   20:37 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Sejak lama, wastra telah menjadi warisan kebudayaan Indonesia yang tak ternilai harganya. Makna filosofis pada setiap corak dan motifnya, membuat wastra menjadi salah satu komoditas budaya yang luhur dan bernilai tinggi.

Namun, seiring waktu, wastra juga kini menjadi salah satu komoditas ekonomi di bidang kreatif yang dikreasikan menjadi beragam bentuk fesyen dengan gaya yang terus dinamis.

Perajin batik sekaligus pemilik Apip's Batik, Afif Syakur, mengatakan sebagai komoditas ekonomi, ekosistem industri wastra khususnya batik saat ini telah mampu mengikuti perkembangan tren fesyen yang ada. Namun, dalam prosesnya, hal itu membuat terciptanya alih budaya pada batik.

Sejak dahulu, batik dikenal dengan tiga metode pembuatan yakni batik tulis, cap, dan kombinasi dari keduanya. Namun, seiring waktu, pembuatan menjadi lebih mudah dengan bantuan teknologi seperti batik tekstil ataupun batik printing.

Baca juga: Dari Parang hingga Tujuh Rupa, Yuk Kenalan dengan 5 Jenis Motif Batik Ini

Menurut Afif, fenomena seperti itu membuat pemahaman banyak orang tentang batik pun mulai bergeser. Padahal, menurutnya, batik bukan sekadar kain yang bisa dikreasikan menjadi beragam bentuk fesyen, tetapi batik merupakan proses yang membutuhkan teknik khusus serta memiliki nilai filosofi yang tinggi.

"Kami berharap bagi seorang perajin batik atau siapapun, pada saat mereka bertanya tentang batik, itu ada standar nasional atau SNI. Sekarang dengan teknologi, banyak tiruan-tiruan batik," tuturnya kepada Hypeabis.id, belum lama ini.

Meski demikian, kenyataannya masih banyak permintaan batik tekstil di masyarakat karena alasan lebih murah dan praktis. Afif menilai hal itu sah-sah aja asalkan para konsumen diberikan pemahaman bahwa produk tersebut bukan merupakan kain batik tetapi tekstil motif batik, sehingga tidak merugikan pihak UMKM yang memang membuat batik sesuai standar.

Sebagai perajin, Afif konsisten mengamati sekaligus mengoleksi batik-batik yang ada di seluruh pelosok Nusantara. Koleksi batik tersebut lantas dijadikannya sebagai modal untuk pengembangan batik sekaligus inspirasi dalam mendesain produk batiknya, seperti sarung, selendang, bahan kemeja, stola, pareon dan berbagai kebutuhan pakaian pria dan wanita.


Menjaga Filosofi Batik

Afif tidak memungkiri bahwa saat ini para desainer dan UMKM telah mengkreasikan batik menjadi beragam bentuk produk fesyen. Namun, sebagai produk budaya, makna dan filosofi yang melekat pada setiap helai kain batik menurutnya penting untuk terus dilestarikan.

Hal itu, menurutnya, bisa dilakukan sesuai dengan kreativitas para desainer untuk menciptakan nilai atau filosofi yang mereka inginkan dalam kain batik sesuai dengan perkembangan tren yang lebih kekinian, tidak melulu terpaku pada motif kain yang telah dibuat oleh para perajin.

Dalam hal ini, para desainer bisa berkolaborasi dengan para perajin dalam membuat motif batik yang lebih eksploratif. "Saya berharap para desainer itu menciptakan motif-motif batik yang kekinian tapi dengan falsafah, supaya nilai budaya itu melekat di satu rancangannya itu," imbuhnya.

Untuk tetap menjaga marwah wastra sebagai produk budaya yang memiliki nilai tinggi, Afif mengatakan diperlukan konsistensi dari pihak desainer untuk menggunakan kain yang asli, sekaligus memberikan pemahaman kepada konsumen bahwa dengan membeli produk tersebut, mereka juga turut membantu keberlangsungan UMKM.

Dia menuturkan bahwa saat ini kain wastra bisa dibeli dengan harga yang lebih terjangkau, mengingat material pembuatannya juga dapat ditemukan dengan mudah, sehingga produk fesyen wastra yang dihasilkan tidak selalu dibanderol dengan harga yang mahal.

"Kalau desainer mau, dia bisa ngobrol dengan perajinnya soal motif kain batik yang diinginkan, misalnya motifnya yang enggak penuh. Sebenarnya dibutuhkan itu. Jadi UMKM-nya jadi tambah pinter, desainernya makin tahu tentang batik. Jadi jangan hanya membeli barang jadi," terangnya.

Hal itulah yang konsisten Afif lakukan selama 26 tahun terakhir berkecimpung di dunia batik. Dengan tren yang terus berkembang, Afif mengaku tak lagi terpaku untuk mengolah kain-kain batik tradisional yang terdiri dari beberapa ornamen motif yakni pokok, pelengkap, dan isian, karena biaya produksinya yang tinggi.

Alhasil, dia pun membuat kreasi kain-kain batik yang baru dengan ornamen motif yang lebih sederhana, namun tetap memiliki nilai dan estetika yang sengaja diciptakan. Kendati begitu, dari segi pewarnaan, dia cenderung menggunakan warna-warna kimiawi dan tak lagi mengandalkan warna-warna alam yang dinilai sulit mengikuti tren yang ada.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Nirmala Aninda

SEBELUMNYA

Fakta Menarik Qorin, Film Horor Pertama Sutradara Ginanti Rona

BERIKUTNYA

Tips Kembangkan Minat & Bakat Anak Sambut Indonesia Emas 2045

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: