Tak sedikit generasi muda yang punya gaya hidup berkelas (Sumber gambar: Unsplash/Helena Lopes)

Fenomena Gaya Hidup Generasi Muda, Antara Citra & Realita (1)

25 September 2022   |   16:22 WIB

Like
Naiknya bahan bakar kendaraan bermotor tak ayal berimbas pada pola gaya hidup pekerja di kota-kota dalam mengelola keuangan agar tetap bisa bersosialisasi dan mengabadikan kegiatan mereka di media sosial. Kali ini, tim Hypeabis.id membuat liputan khusus bagaimana generasi muda, Z dan Y (milenial) menyiasati gaya hidup mereka di tengah kenaikan harga-harga. Yuk simak laporan selengkapnya. 

Ramdhani (27 tahun), karyawan perusaahan asal Jepang di kawasan segitiga emas, Kuningan, Jakarta Selatan mengatakan naiknya harga-harga kebutuhan pokok membuatnya lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan dan menyesuaikan gaya hidup yang lebih realistis. 

"Kerja di Jakarta ini baru aku mas, sebelumnya di Surabaya dengan gaji UMR sana. Karena enggak betah dan dapat tawaran yang menggiurkan akhirnya ya ambil kerjaan ini," katanya saat ditemui Hypeabis.id di sebuah kafe di kawasan Blok M. 

Dapat pekerjaan dengan gaji dua digit di bidang Human Resources (HR), Dani mengakui sempat hidup hedon dan sering menghabiskan waktunya untuk nongkrong di restoran mahal bersama teman-teman influencer-nya. Akan tetapi seusai kongko, meski ada rasa puas tersendiri, dia mengatakan ada sedikit penyesalan karena mengeluarkan banyak uang yang bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain. 

Oleh sebab itu dengan kondisi yang ada sekarang, dia mengakui mulai meminimalisir kegiatan nongkrong yang tidak terlalu penting. Tentunya, kegiatan ini tidak sepenuhnya hilang, tapi lebih terorganisir misalnya dengan alokasi bujet hangout untuk akhir pekan, Sabtu dan Minggu saja bukan setiap hari. 

Saat ditanya mengenai caranya memanajemen keuangan, dia pun merinci pengeluaran yang diperlukan selama sebulan untuk ongkos bolak-balik dari kantor ke kos, biaya hidup sehari-hari, serta kebutuhan hidup yang lain.

"Buat ojol aja sebulan bisa abis Rp600 ribu, terus kost Rp2 juta, terus buat makan dan yang lain-lain itu katakanlah Rp3,5 juta. Jadi dapet bersihnya itu nggak jauh dari gaji di Surabaya. Cuma selisih Rp3 juta," paparnya.

Lelaki tegap yang memiliki hobi fitness ini pasca kenaikan BBM memang mulai mengevaluasi kembali kondisi finansialnya. Cara yang dilakukan adalah dengan membagi-bagi gajinya ke berbagai kebutuhan agar mudah dikelola. Dia juga menyiapkan alternatif misalnya kredit motor untuk kegiatan komuter dan menyewa tempat tinggal yang lebih murah. 
 

Nongkrong di kafe jadi salah satu gaya hidup anak muda (Sumber gambar: Unsplash/Nathan Dumlao)

Nongkrong di kafe jadi salah satu gaya hidup anak muda (Sumber gambar: Unsplash/Nathan Dumlao)

Sementara itu, Syahidah Multazimah, seorang akuntan perusahaan swasta di Jakarta Barat mengaku gaya hidupnya mulai berubah setelah adanya kenaikan harga bahan-bahan pokok. Salah satunya adalah mengurangi kegiatan membeli makan secara daring, dan memilih opsi beli langsung di warung makan sekitar. 

"Setelah harga-harga pada naik, pola hidup aku udah  bener-bener berubah nih bang, yang tadinya kerja bawa mobil sekarang aku selang-seling atau malah banyakin motornya," paparnya lewan pesan tertulis. 

Tak hanya itu, dia juga mulai menyisihkan uang untuk ditabung setelah mengelompokkannya ke berbagai jenis kebutuhan seperti makan, jajan, transportasi, dan servis berkala kendaraan yang dipakai untuk bekerja. 

Dia menuturkan bahwa saat ini setelah mendapatkan gaji, dana yang masuk langsung dipisah-pisah sesuai dengan alokasi kebutuhan yang ada. Tak ketinggalan, dia juga menyisihkan dana sisa yang ada untuk tambahan tabungan. "Untung-untung sampai akhir bulan ga kepake, berarti buat tamabahan nabung, kalo kepake ya gapapa," katanya sambil mengirim emot tertawa. 

Baca juga artikel terkait laporan khusus ini:
1. Gaya Hidup Pekerja Muda vs Kenaikan Harga (2)
2. Siasat Berhemat di Tengah Godaan Gaya Hidup Mewah (3)
3. Pintar memilih Tempat Makan Murah di Kawasan Mewah (4) 


Gaya Hidup & Media Sosial 

 

Media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat (Sumber gambar: Unsplash/Yoav Aziz)

Media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat (Sumber gambar: Unsplash/Yoav Aziz)

Sementara itu, pengamat media sosial dari Komunikonten, Hariqo Satria, mengatakan gaya hidup pekerja muda pada zaman kiwari memang tidak bisa dipisahkan dari citra yang ditampilkan di media sosial, seperti nongkrong atau yang lain. 

Dia menilai media sosial yang menjadi tempat berbagi informasi bisa juga dianalogikan sebagai ruang personal branding atau resume singkat, melalui berbagai macam postingan yang bisa dianggap menunjukan kelas sosial seseorang.

"CV ini konteksnya tidak hanya untuk melamar kerja saja ya, tapi juga mencitrakan diri ke orang lain, makanya mereka ingin terlihat sempurna dan terlihat sudah sukses hidupnya di media sosial, seperti makan di tempat mewah, memiliki kendaraan, dan yang lain," katanya kepada Hypeabis,id.

Kendati begitu, menurutnya gaya hidup seseorang di dunia maya dengan pola hidup mereka di dunia nyata bisa saja sangat jauh berbeda. Hal ini karena di platform digital tidak terjadi interaksi secara langsung antar penggunanya, bahkan seseorang bisa menjadi sosok anonim di sana.

"Misal di dunia nyata sosok satu ini dikenal religius, tapi saat di medsos dia bisa sangat bebas,  dia juga tidak menggunakan nama asli atau anonim, tapi tetap menggunakan foto aslinya," jelasnya. 

Dia juga mengatakan gaya hidup pekerja yang diunggah di medsos sah-sah saja dilakukan, selama hal itu tidak digunakan untuk hal-hal negatif. Misalnya menipu atau bentuk flexing, yakni sikap menyombongkan diri agar mendapat pengakuan dari orang lain. 

Menurutnya, saat ini sangat banyak orang melakukan hal-hal yang demikian. Berfoto di depan mobil dan rumah orang lain atau screenshoot ponsel iPhone agar terlihat seolah-olah memilikinya. Hal ini yang dinilai sangat berbahaya, baik itu bagi diri sendiri dan orang lain. 

Tren gaya hidup generasi muda, lanjutnya, jika diperhatikan mulai cenderung mengarah pada sosok-sosok yang ingin terlihat apa adanya. Tidak perlu terlalu dipoles dengan segala hal agar tampak mewah di platform media sosial; Instagram, Twitter, TikTok, dan lainnya. 

"Intinya, orang juga enggak suka melihat seseorang yang terlalu sempurna. Justru di media sosial itu, orang ingin melihat sosok yang apa adanya," kata Hariqo. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)

Editor: Syaiful Millah 
SEBELUMNYA

5 Tip Street Photography Biar Hasil Jepretanmu Tambah Keren

BERIKUTNYA

Suka Panjat Tebing? Yuk Jajal 5 Lokasi yang Menantang Ini!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: