Ilustrasi terkait telinga (Sumber gambar: Unsplash/Jaee Kim)

Mendengar dengan Implan Koklea, Apa Itu?

31 August 2022   |   20:40 WIB

Dave baru berusia 2 tahun saat didiagnosis mengalami masalah pendengaran. Sang ayah, Wira, menceritakan bahwa awalnya Dave sering tidak merespons saat dipanggil. Sang anak juga tidak bisa berbicara dengan lancar karena memorinya tidak pernah merekam kata-kata. 

“Awalnya cukup pakai alat bantu pendengaran biasa, tetapi lama-lama tidak berfungsi juga,” tutur Wira.

Baca juga: Kenali Jenis-jenis Gangguan Pendengaran & Pemicunya

Pada usia 5 tahun, kemampuan berbicara Dave belum juga menunjukkan perkembangan. Artikulasinya tidak jelas sehingga tidak bisa dipahami. Wira akhirnya memutuskan membawa Dave ke Singapura untuk memasang implan koklea. 

Koklea merupakan bagian dalam telinga berbentuk tabung yang berisi cairan yang mengelilingi tulang. Oleh masyarakat awam, organ ini biasa disebut rumah siput. Pemasangan alat ini membawa perubahan besar bagi perkembangan Dave. 

Kemampuan pendengarannya meningkat drastis. Kendati demikian, masih diperlukan upaya terapi agar Dave mampu berbicara. Kini, setelah beberapa tahun berlalu, Dave sudah biasa berbicara dengan lancar baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. 

Apa yang sebenarnya terjadi pada Dave? Dikutip dari Bisnis Indonesia Weekend edisi 5 Februari 2017, Ratna Dwi Restuti, Dokter Spesialis THT mengatakan, berdasarkan data WHO, 1 dari 1.000 kelahiran bayi di Indonesia mengalami gangguan pendengaran. 

Masalah gangguan pendengaran tersebut tentunya sangat mengganggu produktivitas dan membuat penderitanya terisolasi dari lingkungan. Pada anak-anak, dampak gangguan pendengaran dapat membatasi masa depannya karena kehilangan kemampuan mendengar dan berbicara. 

“Prevalensi kasus gangguan pendengaran di Indonesia dijumpai sebanyak 4,6 persen, dengan estimasi penderita gangguan pendengaran sebanyak 9,6 juta orang. Indonesia mempunyai kasus gangguan pendengaran yang kedua tertinggi di Asia Tenggara selepas India ,” ujarnya. 

Gangguan pendengaran seperti yang dialami Dave sebenarnya bermuara dari tidak berfungsinya koklea. Rumah siput dalam telinga tersebut berfungsi mengirim pesan ke saraf pendengaran dan otak. Suara ditangkap daun telinga kemudian dikirim ke tulang pendengaran dan bergerak menuju koklea. 
 

Menanam Elektroda 

Saat ini gangguan koklea bisa diatasi dengan menanam elektroda yang berisi saraf-saraf koklea. Implan ini terutama diperuntukkan bagi mereka yang sudah tidak tertolong lagi oleh alat bantu pendengaran biasa. Jika Dave saat itu harus menjalani operasi di Singapura, tindakan tersebut sudah bisa dilakukan di RSCM. 

Harim Priyono, Dokter Spesiallis THT mengatakan telah dilakukan operasi implan koklea untuk 80 pasien selama periode 2009-2016. Harim menuturkan, operasi penanaman koklea biasanya melibatkan beberapa dokter dengan berbagai multidisiplin ilmu, mulai dari spesialis neurologi anak dan dewasa, spesialis penyakit dalam, spesialis radiologi, spesialis anestesi, spesialis tumbuh kembang anak, farmasis klinik dan spesialis psikiatri anak. 

Agar implantasi berjalan dengan lancar juga diperlukan penyesuaian pengaturan dan kualitas suara sebagai tindak lanjut pascaoperasi. Pada bulan-bulan pertama setelah operasi implantasi, beberapa sesi penyesuaian akan dimintai untuk secara bertahap meningkatkan kualitas informasi suara. 

Pada prinsipnya, alat ini terdiri dari dua bagian yaitu impan yang ditanam di bagian dalam telinga dan penerima gelombang suara yang dipakai pasien di daun telinga. Suara yang diterima perangkat di daun telinga tersebut akan diubah menjadi gelombang elektrik dan dilanjutkan ke implan. Gelombang inilah yang akan diubah kembali menjadi suara. 

Kendati demikian, keberhasilan alat ini bergantung pada deteksi dini yang dilakukan. Semakin cepat alat ini dipasang, maka kemungkinan anak untuk dapat belajar berbicara semakin besar. Dalam hal ini, Dave sudah membuktikannya. 

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

5 Bahaya Overwork Bagi Kesehatan Tubuh

BERIKUTNYA

Masakan Rumahan Bisa Menjadi Silent Killer Jika Diproses dengan Keliru

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: