Lukman Sardi (Sumber gambar: Titimangsa Foundation)

Cerita Dira Sugandi & Lukman Sardi Mainkan Monolog Di Tepi Sejarah

20 August 2022   |   16:30 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Titimangsa Foundation berkolaborasi dengan KawanKawan Media dan Kemendikbudristek kembali menghadirkan serial monolog Di Tepi Sejarah. Berbeda dengan musim sebelumnya, pertunjukan kali ini menampilkan tokoh-tokoh penting Indonesia dalam bidang kesenian. 

Ada lima figur penting dalam lima judul lakon yang kisahnya diangkat dalam serial monolog tersebut. Kelimanya adalah Sjafruddin Prawiranegara (Kacamata Sjafruddin), Kassian Cephas (Mata Kamera), Gombloh (Panggil Aku Gombloh), Ismail Marzuki (Senandung di Ujung Revolusi), dan Emiria Soenassa (Yang Tertinggal di Jakarta). 

Kelima judul serial monolog Di Tepi Sejarah itu bisa mulai ditonton di kanal YouTube Budaya Saya dan Indonesiana TV mulai 17 Agustus 2022, yang diunggah secara berkala selama bulan ini.

Baca juga: Titimangsa Foundation Sajikan Serial Monolog Di Tepi Sejarah Musim Kedua

Pada serial monolog Di Tepi Sejarah kali ini juga menghadirkan wajah-wajah aktor baru sebagai pemain di antaranya Dira Sugandi dan Lukman Sardi. Dira Sugandi berperan sebagai Emiria Soenassa dalam lakon Yang Tertinggal di Jakarta, sedangkan Lukman Sardi berperan sebagai Ismail Marzuki dalam lakon Senandung di Ujung Revolusi.

Emiria Soenassa adalah perempuan pelukis pertama di Indonesia yang hidup pada 1895-1964. Dia baru mulai melukis saat telah berusia 45 tahun, tetapi masih terbilang sangat produktif untuk menghasilkan karya.

Dia lantas bergabung dalam organisasi Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) yang mana kebanyakan anggotanya adalah laki-laki, dengan usia yang lebih muda darinya. Dia juga aktif mengikuti berbagai pameran lukisan dan memenangkan beberapa penghargaan.

 


Aktris sekaligus penyanyi Dira Sugandi mengatakan ini merupakan pertama kalinya bermain dalam sebuah pertunjukan monolog. Dalam proses persiapannya, Dira mengaku mengalami kesulitan dalam menginterpretasikan sosok karakter Emiria Soenassa lantaran terbatasnya sumber-sumber informasi sang pelukis.

Meski begitu, untuk memahami karakternya, dia selalu berdiskusi dengan produser, sutradara, dan penulis naskah, sehingga dia mampu menginterpretasikan sosok Emiria di atas panggung.

Menariknya, untuk mendalami perannya, Dira juga mengaku melakukan meditasi, kegiatan yang beberapa tahun terakhir ini digelutinya. "Di setiap meditasi itu saya hadirkan Emiria, seperti saya berdialog saja sama dia," katanya kepada Hypeabis.id saat ditemui di acara konferensi pers Di Tepi Sejarah, baru-baru ini.

Dengan meditasi, Dira mengaku mendapatkan perasaan lebih tenang dan fokus dalam menjalani proses latihan. Selain itu, guna menguatkan karakter Emiria, Dira juga terus mempelajari naskah monolog yang telah disusun oleh penulis Felix K. Nesi, termasuk berkonsultasi dengan Sri Qadariatin selaku sutradara. 

"Jadi saya merasa bersyukur sekali punya partner Kak Felix dan Mbak Uung [Sri Qadariatin], yang memudahkan proses saya dalam latihan, tapi juga sosok Emiria itu sendiri yang kayaknya orangnya sangat persisten, jadi spirit dia itu kerasa banget di saya," ungkap Dira.
 


Monolog Di Tepi Sejarah juga mengangkat kisah Ismail Marzuki dalam lakon Senandung di Ujung Revolusi yang dimainkan oleh Lukman Sardi. Pentas ini menceritakan bagaimana pada usia 17 tahun, Ismail menciptakan lagu O Sarinah, yang mengajak para perempuan desa untuk giat bekerja di sawah agar dapat membangun negara.

Sejak itu, dalam pasang surutnya sebagai pemusik dan penyanyi, Ismail seperti tak henti mencipta lagu. Masa kreatifnya sebagai musisi terjadi pada saat penjajahan Jepang, sampai agresi militer oleh Belanda pada akhir tahun 1940-an.

Lagu-lagu ciptaannya yang populer seperti Rayuan Pulau Kelapa, Sapu Tangan dari Bandung Selatan, Indonesia Pusaka, dan Sepasang Mata Bola, telah menjadi inspirasi para pejuang di garis depan. Bersama kelompoknya, Ismail kerap menghibur para pejuang di tempat-tempat persembunyian mereka.

Sama seperti Dira, pertunjukan Di Tepi Sejarah juga merupakan momen pertama bagi Lukman Sardi bermain dalam sebuah monolog. Dia mengaku bahwa pertunjukan ini menjadi tantangan tersendiri untuknya lantaran diharuskan dapat memainkan alat musik biola.

"Saya senang sekali diminta berperan sebagai Ismail Marzuki, rasanya itu seperti diminta oleh ayah saya [Idris Sardi] untuk bermain biola lagi,” katanya.

Baca juga: Serial Monolog Di Tepi Sejarah, Bawa Kisah 5 Tokoh Penting Bangsa Lebih Personal

Menurut Lukman, Ismail Marzuki adalah seorang komponis dan pemusik yang tak tergantikan, sekaligus sosok yang menyampaikan nilai-nilai perjuangan, imajinasi dan harapan tentang Indonesia dari sisi yang berbeda.

Keindahan lagu-lagu yang diciptakan Ismail Marzuki, katanya, seperti puisi yang melampaui zaman. Lirik dan melodi dalam berbagai nuansa musik melayu, jazz dan keroncong begitu lembut namun menyiratkan banyak cinta dan kasih sayang kepada negeri ini. "Bagi saya, Ismail Marzuki itu nasionalis romantik," kata Lukman.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Serupa Tapi Tak Sama, Ini 5 Perbedaan Netbook dan Notebook

BERIKUTNYA

3 Ide Bekal Makan Siang Untuk ke Sekolah dan Kantor, Praktis Anti Ribet!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: