Ketoprak Financial lakon Ken Dedes: Harta, Tahta, & Cinta. (Sumber gambar: Hypeabis/Susilo Jati)

Seni Ketoprak Harus Lentur Menghadapi Zaman

30 July 2022   |   15:04 WIB

Panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat, 29 Juli 2022 malam terasa begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan penonton menyambut penampilan para pemain Ketoprak Financial dengan lakon Ken Dedes: Harta, Tahta, & Cinta.

Mereka tertawa dan terhibur dengan pertunjukan pelawak Polo dan Tessy yang menjadi pembuka dalam pagelaran ketoprak financial, yang dimainkan oleh banyak eksekutif dari sektor perbankan, keuangan, pemerintah, dan sebagainya.

Tessy dan Polo, dalam pertunjukannya, membahas mengenai nasib para seniman pertunjukan seni tradisi di panggung teater dengan lawakannya. Meskipun berkarya merupakan hal yang sangat penting, seniman juga harus tetap memikirkan kondisi ekonominya.

Baca juga: Kala Eksekutif Perbankan, Jurnalis hingga Anggota DPR & Pejabat BUMN Bermain Ketoprak
 
Sutradara Aries Mukadi mengatakan bahwa seniman seni tradisi ketoprak di dalam negeri sangat terdampak dalam beberapa tahun belakangan karena pandemi Covid-19. Sejumlah seniman, menurutnya, menggantungkan kehidupannya dengan seni pertunjukan ketoprak.

“Bukan hanya [Seni pertunjukan] ketoprak, tapi pelaku seninya mati,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa terdapat dua macam seniman di dalam seni tradisi pertunjukan ketoprak. Pertama, adalah seniman yang menjadikan seni pertunjukan ketoprak sebagai prestasi atau hanya untuk seninya.

Kedua, seniman yang menjadikan seni tradisi ketoprak sebagai kehidupannya. Seniman ini, paparnya, mengandalkan seni tradisi pertunjukan ketoprak untuk hidup selain untuk kesenian.

Para pelaku seni ini, sambungnya, terus menyeimbangkan sendiri antara kesenian dan kehidupan lantaran tangan pemerintah belum sampai ke mereka. Pria yang telah menggeluti seni pertunjukan wayang orang selama puluhan tahun ini menuturkan pemerintah belum sepenuhnya melihat ke arah seni pertunjukan tradisi ini.

“Kebetulan zaman ini, ada youtube, agak mau melihat. Kesempatan itu kita mesti lebih ditekankan lagi kepada kepentingan seni, kesejahteraannya,” katanya.

Dia menilai peminat seni tradisi ketoprak mengalami pasang dan surut sesuai dengan zamannya dan politik negara. Dahulu, lanjutnya, terdapat banyak grup ketoprak, dan kerap memberikan pembinaan.

Kemudian, keadaan negara, politik, dan keuangan membuat grup ketoprak tidak lagi banyak di ibu kota. Pada saat itu, grup-grup ketoprak yang ada mendapatkan kucuran dana bukan dari pemerintah. Mereka mendapatkan dana dari swasta.

“Ini seperti orang bekerja tanpa hasil. Hasilnya hanya hasil yang tidak kasat mata. Kepuasan dan merasa bangga. Berhasilnya cuma itu, berhasil keuangan belum terjadi,” katanya.

Seni tradisi ketoprak, menurutnya, harus lentur dalam menghadapi zaman agar tetap dilirik oleh masyarakat. Pakem-pakem yang ada di dalam ketoprak, paparnya, juga telah mengalami sejumlah perubahan dalam menghadapi zaman.

Penyesuaian, lanjutnya, penting bagi seni tradisi ini unuk bisa mengikuti zaman. Meskipun begitu, paparnya, perlu ada pemahaman dari para pihak terhadap unsur yang ada dalam ketoprak.

Dia menuturkan ada hal-hal yang harus dipertahankan dalam seni tradisi ketoprak di dalam negeri. Seni tradisi ketoprak, lanjutnya, juga mengandung unsur kemanusiaan selain pelajaran-pelajaran kehidupan yang disampaikan.

“Yang penting untuk ketoprak, saya rasa semua penting. Yang jelas harus ada penampilannya,” katanya.
 

Bergantung produksi

Pengembangan seni tradisi ketoprak, lanjutnya, akan sangat tergantung terhadap produksi. Dia pun berharap akan makin banyak pihak yang peduli dengan seni tradisional ketoprak selain ketoprak financial.

Menurutnya, seni tradisional ketoprak adalah seni pertunjukan yang harus dilestarikan. Seni ini, merupakan peninggalan para leluhur.

Dilansir dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, ketoprak merupakan jenis pertunjukan rakyat yang memiliki gabungan seni, seperti musik, drama, tari, dan sebagainya. Kesenian ini, masih dalam laman Kemdikbudristek, diperkirakan lahir di daerah Jawa Tengah.

Namun, waktu pasti dan tempat kelahiran seni ini tidak dapat dipastikan – termasuk penciptanya.
Pada mulanya, cerita ketoprak berasal dari kehidupan para petani yang ingin memajukan pertanian di dalam negeri.

Nama ketoprak diambil dari bunyi alat musik yang digunaka dalam pertunjukannya. Alat musik seperti lesung, suling, kendang, dan sebagainya menimbulkan irama dung, dung, prak, prak yang membuat banyak orang akhirnya menyebut kesenian itu dengan ketoprak.

Seiring dengan perkembangan zaman, masih dalam laman Kemdikbudristek, ketoprak menjadi teater rakyat yang lengkap. Seni ini dikatakan sebagai seni tradisional lantaran drama yang disajikan tanpa menggunakan teks.

Para pemain bahkan tidak perlu menghafal teks sebelum melakukan permainan. Mereka mengucapkan dialog dengan melakukan improvisasi atau menggunakan kalimat tertentu yang dikenal oleh masyarakat secara tradisi.

Baca juga: Ketoprak Financial Kembali Digelar, Edisi Kali Ini Terasa Spesial

Masyarakat dapat menemukan banyak filosofi dalam pertunjukan ketoprak lantaran biasanya kritik sosial, agama, bahkan politik disampaikan dalam adegan-adegan tertentu. Tidak hanya itu, musik yang mengiringi penampilan ketoprak juga memiliki daya tarik tersendiri.

Editor: Dika Irawan
 
 
SEBELUMNYA

5 Rekomendasi Destinasi Staycation di Malang yang Tawarkan Keindahan Pemandangan Alam

BERIKUTNYA

Mari Berkenalan Dengan Teknologi IMAX yang Digunakan Film Pengabdi Setan 2: Communion

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: