Ilustrasi pendampingan penggunaan gawai. (Sumber gambar : Pexels/Julia Cameron)

Gadget Ancam Tumbuh Kembang? Ini Kata Dokter Spesialis Anak

23 July 2022   |   16:01 WIB

Perkembangan teknologi semakin pesat dan menyasar ke seluruh aspek kehidupan. Alhasil, mayoritas orang saat ini menggunakan gawai untuk menunjang kehidupan dan pekerjaan, tidak terkecuali anak-anak yang menggunakannya sebagai alat untuk belajar maupun bermain. 

Dikenal sebagai generasi Alpha, anak yang lahir di atas tahun 2012 ini dianggap sebagai generasi paling terpelajar karena melek teknologi. Mereka mendapatkan informasi dengan begitu mudahnya. Ini menjadi tantangan bagi para orang tua karena informasi yang hadir di gawai melalui internet tidak sepenuhnya baik untuk anak. 

Selain itu, Dokter Spesialis Anak dari RS Primaya Bekasi dr. Citra Amelinda mengatakan gawai yang digunakan sejak dini tanpa batasan waktu dapat membuat anak sulit berinteraksi dengan orang lain. 

Baca juga: 5 Kiat Pola Asuh yang Tepat Untuk Anak Hebat

Dia menjelaskan bahwa domain perkembangan anak terdiri dari bahasa, motorik halus, motorik kasar, dan sosial emosional. Kecerdasan ini harus diajari sejak usia 2-5 tahun. 

"Kemampuan untuk mengenal emosi, mengenali perasaan orang lain, cara berpikir, diajari. Fungsi luhur juga diajari. Dasar-dasar kecerdasan diajarkan di usia batita dan balita agar mereka cerdas di sekolah. Cerdas bukan hanya hitungan, bahasa, tapi banyak (skala ukurnya)," ujarnya dalam diskusi virtual, Sabtu (23/7/2022). 

Namun demikian, perangkat elektronik seperti gawai ini tidak perlu dimusuhi. Orang tua cukup memberi batasan waktu penggunannya. Untuk anak di bawah dua tahun, kata Citra, sebaiknya tidak diperkenalkan gadget. 

Anjuran waktu layar (screen time) pada anak di atas dua tahun cukup satu jam namun harus dengan pengawasan orang tua. "Dikontrol. Gunakan gadget sebagai alat bantu interaksi," saran Citra.

Dia menyebut jika tidak dibatasi waktu dan diawasi, anak dengan gawai biasanya menjadi pribadi yang tidak sabaran dan tidak bisa mengontrol emosi. 

"Anak di bawah lima tahun butuh 180 menit atau tiga jam per hari untuk bergerak. Kadang orang tua bingung kenapa anak agresif, sudah cukup tidak waktu bergeraknya?" tegas Citra.

 

Ilustrasi. (Sumber gambar: Pexels/Jessica Lewis Creative)

Ilustrasi. (Sumber gambar: Pexels/Jessica Lewis Creative)


Soal anak yang kecanduan gawai, dia mengimbau agar orang tua pun harus memberi contoh. Anak-anak terutama usia balita dan batita tidak bisa dilarang.

Nah, ketika di rumah, orang tua sebaiknya membiasakan diri untuk tidak selalu memegang gawai. Kalaupun ada keperluan mendesak, sebaiknya cari tempat di luar rumah seperti pekarangan untuk menelpon, jangan di depan anak. 

Sikap ini sangat baik agar anak merasa dihargai dan mendapatkan waktu berkualitas bersama orang tuanya. 

Baca juga: 6 Rekomendasi Genre Buku Anak untuk Kembangkan Imajinasi

Kemudian, Citra mengingatkan bahwa jangan pernah memberi gawai untuk menenangkan anak yang rewel ataupun nangis. Anak menangis ataupun rewel terutama di usia 1-5 tahun adalah sikap yang normal. Orang tua hanya perlu menenangkan mereka dengan mendengarkan mengapa mereka berbuat seperti itu. 

Terkadang, anak dan rewel di usia tersebut adalah kondisi ketika dia ingin sesuatu namun tidak bisa menjelaskannya karena keterbatasan bahasa. "Normalkan anak menangis, merengek, tidak apa-apa," tegasnya. 

Kemudian, dia menjabakan bahwa menurut penelitian, anak paling butuh interaksi bersama orang tua. Ketika anak rewel atau menangis, usahakan untuk mendampingi mereka dan bermain bersama mereka.

 

Ilustrasi. (Sumber gambar: Pexels/Julia M. Cameron)

Ilustrasi. (Sumber gambar: Pexels/Julia M. Cameron)

 

Mimpi Generasi Teknologi

Tidak sedikit dari generasi Alpa ini ingin memiliki profesi baru yang muncul seiring perkembangan teknologi, seperti YouTuber, Influencer, atau atlet eSport. Tidak dipungkiri, ada kepanikan dari para orang tua. 

Menurut Citra, rasa panik itu wajar ketika menghadapi sesuatu yang baru. Toh, di zaman saat ini, para orang tua yang kebanyakan generasi Milenial pun memiliki profesi yang belum ada di zaman orang tuanya. 

Citra mengingatkan bahwa generasi Alfa adalah generasi kecerdasan buatan (artificial intelegence), yang melek teknologi, dan dominan berinteraksi melalui media sosial. 

Oleh karena itu, menurutnya tidak apa-apa jika mereka mempunya cita-cita yang berkaitan dengan teknologi tersebut. Adapun yang perlu dilakukan orang tua kepada anak generasi Alfa ini adalah menanamkan nilai-nilai kehidupan yang kita punya saat ini. 

Perhatikan pula potensi selama masa perkembangan mereka di usia batita sampai remaja. "Buat anak menjadi yang dia mau sesuai keinginan dan kebahagiannya, yang penting bermanfaat untuk orang lain. Itu enggak apa-apa," tutur Citra. 

Editor: Nirmala Aninda
SEBELUMNYA

The Resonanz Children Choir akan Berlaga di Bali International Choir Festival 2022

BERIKUTNYA

Wow, Amerika Bangun Kantor Penelitian UFO

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: