Ilustrasi daging (Sumber gambar: Unsplash/ Usman Yousaf)

Jangan Kebanyakan Konsumsi Daging, Risiko Kesehatan ini Mengancam

12 July 2022   |   18:22 WIB

Wah, kalian sudah makan berapa tusuk sate? Atau, sudah berapa porsi tongseng yang sudah kalian lahap? Dalam beberapa hari terakhir, kemungkinan besar menu di rumah kalian dipenuhi dengan olahan daging hasil dari kurban Iduladha beberapa waktu lalu. 

Namun, di balik kenikmatan mengonsumsi aneka olahan daging merah, seperti kambing atau sapi, tersemat risiko besar bagi kesehatan. Untuk itu, kalian mesti mengerem atau mengonsumsi secukupnya daging. Hal ini penting agar kesehatan kalian terjaga. 
 

Konsumsi sewajarnya dan waspada kolesterol

Mengutip Bisnis Indonesia Weekend edisi 25 September 2016, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Djoko Maryono mengingatkan agar mengonsumsi daging kedua hewan tersebut dilakukan dalam porsi secukupnya.  “Daging merah seperti kambing dan sapi akan meningkatkan risiko kolesterol dan kanker,” ujarnya. 

Baca juga: Daging Sapi dan Kambing, Mana yang Lebih Tinggi Kolesterolnya?

Kolesterol biasanya disebabkan oleh dua hal yaitu faktor genetik dan makanan. Djoko menjelaskan, kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk memproduksi hormon dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Setelah tugasnya selesai kolesterol harus dibuang dari tubuh melalui liver. 

Namun, tidak semua pengolahan kolesterol ini berjalan lancar. Nah, bagi mereka yang fungsi tubuhnya tidak bisa membuang kolesterol secara maksimal harus serius menyiasati hal tersebut. Djoko menjelaskan, terapi penderita kolesterol tinggi akibat faktor genetik harus melakukan tiga hal, mulai dari olahraga, diet ketat, hingga mengonsumsi obat penurun kolesterol. 
 

Risiko peningkatan kolestrol semakin besar

Pada saat lebaran, risiko peningkatan kolesterol semakin besar karena terlalu banyak mengonsumsi daging merah. Apalagi, jika daging tersebut dimasak dengan santan. Djoko menuturkan, kelapa mengandung fito kolesterol dan medium chain triglycerides (MCT) yang bagus bagi sumber energi. Minyak kelapa biasanya mengandung sembilan kalori dalam setiap gram. 

Oleh karena itu, dalam dunia olahraga penggunaan minyak kelapa justru jamak dilakukan untuk menambah sumber energi. Namun, ketika makanan bersantan tersebut dipanaskan berulang-ulang akan meningkatkan natrium yang menjadi pemicu utama beberapa penyakit seperti kolesterol dan hipertensi. 
 

Soal masakan bersantan, ikuti saran ini

Djoko menyarankan masakan bersantan sebaiknya langsung dihabiskan atau maksimal mengalami dua kali proses pemanasan. Dalam keadaan normal kadar kolesterol yang ideal bagi tubuh mencapai 160 mg-200 mg. 

Apabila sudah berada di atas 240 mg bisa dikatakan tubuh tersebut memiliki risiko yang besar terserang stroke dan penyakit lainnya. Kolesterol baru akan menjadi masalah jika terkontaminasi oleh polusi udara dan gangguan elektromagnetik. Kolesterol akan mengendap di pembuluh daerah dan menyebabkan berbagai penyakit seperti jantung dan stroke. 
 

Risiko kesehatan mengonsumsi daging merah

Pada banyak kasus, kolesterol tidak menunjukkan gejala yang spesifik. Penderita biasanya hanya mengeluhkan gejala-gejala umum seperti kesemutan, pusing, hingga rasa sakit pada sendi. Seseorang yang terlalu banyak mengonsumsi daging merah juga berisiko terkena penyakit kanker. 

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Ari Fahrial Syam menceritakan dirinya pernah menangani pasien berusia 30 tahun yang mengalami masalah buang air besar selama dua bulan hingga menyebabkan pendarahan usus. 

Dari hasil pemeriksaan lanjut diketahui pasien tersebut memiliki tumor di rektrum. Ari menuturkan, dari hasil wawancara dengan pasien yang mengalami masalah dalam buang air besar tersebut, pasien itu ternyata tidak suka mengonsumsi buah dan sayur sejak kecil. Lebih buruk lagi, pasien itu justru gemar mengonsumsi daging merah seperti kambing dan sapi. 
 

Baca juga: Kalap Makan Daging Kurban, Hati-hati Risiko Penyakit Ini Mengintai


Ari menuturkan, penyakit kanker usus besar memang dihubungkan dengan rendahnya konsumsi serat dan tingginya konsumsi daging. Sebuah penelitian di AS yang melibatkan hampir 80.000 orang dewasa memperkuat hal tersebut. Setelah 7 tahun diteliti, dari 490 kasus kanker, terjadi penurunan signifikan pada mereka yang tidak mengonsumsi daging merah tetapi memilih daging putih seperti ikan dan ayam. 

Editor: Dika Irawan
 
SEBELUMNYA

Laki-laki Tidak Boleh Nangis, Pola Asuh yang Memicu Remaja Jadi Gengster

BERIKUTNYA

7 Film Hollywood yang Menyelipkan Kosakata Bahasa Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: