Ilustrasi pekerja (Sumber gambar: Unsplash/Tim Gouw)

Perhatikan 6 Risiko Kesehatan yang Dihadapi oleh Pekerja Shift, Salah Satunya Gangguan Pencernaan

11 July 2022   |   15:00 WIB

Seiring dengan tuntutan ekonomi dan persaingan bisnis, banyak perusahaan yang menerapkan rutinitas kerja bergilir ( membuat pabrik atau perusahaan bisa tetap shift work). Sistem ini beroperasi 24 jam penuh.Tidak hanya di perusahaan komersial, beberapa fasilitas publik seperti rumah sakit, kepolisian, atau pemadam kebakaran juga menerapkan sistem kerja bergilir. 

Bagi karyawan, sistem ini bagaikan pisau bermata dua. Beberapa alasan seperti tawaran gaji yang lebih besar atau waktu kosong di siang hari yang bisa dimanfaatkan untuk aktivitas lainnya menjadi daya tarik menerima sistem kerja bergilir tersebut. 

Baca juga: Hilang Motivasi Saat Bekerja? Begini Cara Atasi Kejenuhan

Namun, sistem ini memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Jika tidak diantisipasi dengan baik, bukan tidak mungkin karyawan yang menjalani sistem ini akan mengeluhkan daya tahan tubuhnya. Mengutip Bisnis Indonesia Weekend edisi 30 Oktober 2016, Iwan Siahaan, dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menjelaskan beberapa risiko kesehatan yang bisa dihadapi pekerja shift antara lain: 
 

1. Gangguan ritme dalam tubuh (irama sirkadian)

Secara alami, manusia beraktivitas selama pagi menjelang sore dan beristirahat ketika malam hari. Manusia melakukannya karena adanya ritme dalam tubuh yang berlokasi di otak untuk mengatur aktivitas biologi melalui kimia dan hormon. 

Sebagai contoh denyut nadi, tekanan darah, dan suhu tubuh akan meningkat pada siang hari, tetapi menurun pada malam hari yang akan menyebabkan mengantuk. Hal ini pula yang menyebabkan seseorang yang kurang tidur akan merasakan lemas dan sedikit berkurang kemampuannya dalam melakukan aktivitas yang terbaik. 
 

2. Gangguan pencernaan 

Gangguan ini berupa konstipasi, luka pada lambung (peptic ulcer), gastritis kronik, dan dispepsia atau jumlah asam lambung yang meningkat.
 

3. Gangguan jantung dan pembuluh darah 

Adapun, gangguan ini muncul seperti hipertensi, penyumbatan pembuluh darah di jantung, atau bahkan serangan jantung. Bagi perempuan, efek kerja shift dapat dirasakan seperti gangguan menstruasi, peningkatan aborsi spontan, dan prematuritas.
 

4. Gangguan tidur

Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan tidur atau istrahat merupakan kebutuhan biologi yang sangat diperlukan. Kurang atau terganggunya istrahat, serta tidak tidur dalam waktu lama akan meningkatkan risiko kesalahan dan kejadian kecelakaan.
 

5. Kelelahan

Ini merupakan kondisi ketika terjadi penurunan mental dan atau performa fisik yang merupakan hasil dari kurangnya kualitas istirahat dan tidur atau gangguan irama sirkadian. Tingkat kelelahan juga berhubungan dengan beban kerja. 

Pekerjaan yang memerlukan perhatian terus menerus—seperti memperhatikan kerja mesin yang terus menerus dan monoton—akan meningkatkan risiko kelelahan. Waktu yang paling berbahaya dalam bekerja di mana timbul rasa mengantuk berat berada pada pukul 02.00- 04.00 dini hari dan 14.00-16.00. Oleh sebab itu,  dalam bekerja harus diperhatikan sehubungan dengan pencegahan kejadian kecelakaan.

Baca juga: 5 Cara Memotivasi & Membuat Karyawan Semangat Bekerja
 

6. Stres

Kondisi stres paling banyak ditemukan pada pekerjaan konstruksi, tambang, dan transportasi. Stres dihubungkan dengan shift work dan long working hours mungkin disebabkan oleh beberapa faktor seperti jadwal shift kerja yang jelek, kebutuhan fisik dan mental, kemampuan menyeimbangkan dalam merawat anak, keluarga, dan tanggung jawab lainnya, serta efek fisiologis dan psikologis dari terganggunya irama sirkadian.

Editor: Dika Irawan
 
SEBELUMNYA

Berhasilkah Li Ronan Menghentikan Kutukan? Ini Penjelasan Ending Film Incantation

BERIKUTNYA

Si.Se.Sa Gandeng Citra Kirana Jadi Brand Ambassador

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: