Ilustrasi sakit asam lambung. (sumber gambar: Hypeabis.id/Nurul Hidayat)

Seberapa Bahayakah Penyakit Asam Lambung?

19 June 2022   |   17:30 WIB

Sebenarnya, seberapa bahayakah penyakit asam lambung? Jawabannya tentu sangat berbahaya jika dibiarkan hingga kondisinya kronis. Apalagi asam lambung dapat menimbulkan efek lanjutan yang berisiko memicu gangguan pada paru-paru dan pernapasan.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Gastro Enterologi Hepatologi Ari Fahrial Syam, penyakit akibat asam lambung atau disebut juga gastroesophageal reflux disease (GERD) termasuk penyakit kronis karena bisa menyebabkan komplikasi ke organ lain yang berujung kematian.

Baca juga: Simak 5 Fakta Seputar Asam Lambung, Waspada Stres!

Penyakit asam lambung ini menjadi masalah yang cukup umum terjadi, terutama pada masyarakat di kota-kota besar yang padat dengan kesibukan, sehingga sering mengabaikan pola makan sehat.

“Jika asam lambung terus berlanjut, bisa naik sampai ke kerongkongan dan menyebabkan gangguan pada paru-paru,” katanya.

Ari menjelaskan asam lambung atau isi lambung yang naik dapat menciptakan luka pada dinding dalam kerongkongan. Luka yang terbentuk kemudian bisa semakin luas dan bisa menyebabkan penyempitan dari kerongkongan bawah.

Bahkan, GERD dapat menyebabkan perubahan struktur dinding dalam kerongkongan lalu memicu terjadinya penyakit Barrett’s yang merupakan lesi pra kanker. Selain pada saluran pencernaan, asam lambung yang tinggi dapat menyebar ke gigi, tenggorokan, sinus, pita suara, saluran pernapasan bawah bahkan sampai paru-paru.

Dia menyebutkan terdapat dua gejala utama GERD yaitu ada rasa nyeri pada dada serta rasa panas di dada seperti terbakar (heart burn). Nyeri dada ini biasanya diikuti dengan mulut pahit karena ada asam yang naik atau regurgitasi.

Kondisi ini disebabkan oleh naiknya asam lambung menuju esofagus dan menimbulkan nyeri pada ulu hati atau serasa terbakar di dada. Esofagus yang juga  dikenal sebagai kerongkongan merupakan bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan mulut dan lambung.

Apabila seseorang sudah merasakan gejala GERD ini, biasanya juga merasa tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan karena mulut serta kerongkongan juga akan terasa tidak enak. Selain itu, akan mengalami rasa sakit dan kesulitan saat menelan makanan.

Untuk pengobatan, prinsip utamanya adalah dengan menghilangkan gejala dan mencegah komplikasi. Tatalaksana penyakit GERD berupa tatalaksana nonobat dan tatalaksana obat-obatan. “Tatalaksana nonobat yaitu perubahan gaya hidup,” katanya.

Baca juga: Hindari 9 Hal Ini untuk Mencegah Asam Lambung Kambuh

Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk tatalaksana nonobat bagi pasien GERD, antara lain yaitu pasien harus menghindari konsumsi daging secara berlebihan dalam waktu singkat serta tetap mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Selain itu, jangan tidur dalam waktu dua jam setelah makan.

Alasannya, langsung tidur setelah makan akan memudahkan isi lambung termasuk asam lambung untuk berbalik arah kembali ke kerongkongan. Pasien GERD juga harus menghindari makanan yang terlalu asam dan pedas.

Hindari pula minum kopi, alkohol atau minuman bersoda yang akan memperburuk timbulnya GERD. Makanan yang mengandung cokelat dan keju juga sebaiknya dijauhi.

“Yang tak kalah penting, pasien harus menghindari stres dan mengontrol berat badan sampai mencapai berat badan ideal.”

Beberapa data penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien yang memang  sudah mengalami GERD jika mengonsumsi daging yang berlebih dan langsung tidur  akan menyebabkan timbulnya panas di dada.
 
Catatan redaksi: artikel diambil dari Bisnis Indonesia Minggu edisi 24 Mei 2015.

Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

Bersiap, Pameran Incraf Bakal Digelar Dua Kali

BERIKUTNYA

5 Tips Makeup yang Simpel untuk Pekerja Kantor

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: