Foto gigi bungsu yang tumbuh (Dok. Pexels)

Mengapa Gigi Bungsu yang Tumbuh Terasa Sakit? Ini Jawabannya

18 January 2022   |   16:45 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Kalian pasti pernah mengalami tumbuhnya gigi bungsu atau geraham ketiga di akhir usia belasan atau 20-an. Kondisi ini seringkali menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa nyeri yang biasanya berujung pada pencabutan gigi. Mengapa bisa timbul rasa sakit ini?

Dokter Gigi di Serene Dental and Fadila Aesthetics, Safa Al-Naher, menjelaskan kebanyakan sakit gigi bungsu terjadi karena gusi di sekitarnya terinfeksi akibat pembersihan yang berkurang karena gigi terlalu jauh ke belakang atau tidak sepenuhnya muncul. 

Ya, kerap kali tidak ada cukup ruang untuk gigi tambahan ini. Saat gigi bungsu tumbuh, kurangnya ruang dapat menyebabkan gigi tersebut terdorong ke atas, tersangkut, atau tidak sepenuhnya muncul di atas permukaan gusi atau dikenal dengan istilah impaksi.

Gigi impaksi inilah yang lebih rentan terhadap kerusakan gigi dan infeksi karena sulit untuk dibersihkan secara menyeluruh akibat berdesakan atau belum sepenuhnya muncul. "Nyeri gigi bungsu paling sering disebabkan oleh gusi yang terinfeksi dan meradang,” ujarnya dikutip dari Live Science, Selasa (18/1/2022). 

Untuk itu, sebaiknya bersihkan area gigi tersebut sebanyak mungkin menggunakan obat kumur atau antibakteri. Kalian juga perlu ke dokter gigi jika rasa sakitnya berlanjut atau terjadi terlalu sering. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti Ibuprofen juga dapat digunakan dengan aman untuk menghilangkan rasa sakit yang terkait dengan gigi bungsu. 

Sementara itu, penelitian mengapa kita manusia memiliki gigi bungsu pernah dilakukan antropolog Profesor von Cramon-Tabaudel. Penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America pada 2011, menemukan bahwa ini terjadi karena nenek moyang kita memiliki rahang yang lebih besar.

Penelitiannya menyimpulkan bahwa bentuk rahang manusia kemungkinan besar telah berevolusi dari waktu ke waktu karena perubahan pola makan. Dalam budaya pemburu-pengumpul, makanan mereka biasanya lebih berpasir dan berserat, yang membutuhkan lebih banyak mengunyah. 

“Diperlukan kekuatan yang lebih besar, yang berarti rahang bawah bertambah besar dan menonjol lebih jauh. Oleh karena itu nenek moyang kita memiliki lebih banyak ruang untuk gigi bungsu itu,” jelasnya.

Namun dengan munculnya pertanian, pola makan kita beralih ke lebih banyak biji-bijian dan makanan olahan, yang biasanya lebih lembut dan membutuhkan lebih sedikit tenaga untuk mengunyah. Pola makan ini membuat tulang rahang manusia beradaptasi menjadi lebih kecil dan lebih sedikit ruang untuk gigi bungsu yang baru muncul. 



Editor: Gita
 

SEBELUMNYA

Farmstay, Pilihan Liburan Terbaik di Kala Pandemi

BERIKUTNYA

Setelah 77 Tahun, Investigasi Terbaru Kuak Pengkhianat Keluarga Anne Frank

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: