Ilustrasi penyebaran Covid-19 (dok: Unsplash/Martin Sanchez)

Benarkah Vaksin Covid-19 Tidak Efektif Melawan Omicron? Simak Penjelasan Ini

28 December 2021   |   16:55 WIB
Image
Rezha Hadyan Hypeabis.id

Belakangan ini publik dihebohkan dengan munculnya varian baru dari virus SARS CoV-2 penyebab Covid-19 yang tak lain adalah varian Omicron. Di beberapa negara varian yang satu ini menjadi penyebab melonjaknya kasus Covid-19.

Bahkan, sebagian besar dari negara-negara tersebut cakupan vaksinasinya terbilang tinggi alias jumlah warganya yang belum divaksin sedikit. Tentu saja, hal ini menimbulkan pertanyaan soal efektivitas vaksin dalam memberikan perlindungan terhadap penyakit yang pertama kali muncul di China ini.

Menurut  ahli patologi klinis sekaligus Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RS Universitas Sebelas Maret Surakarta Tonang Dwi Ardyanto, vaksinasi pada dasarnya vaksin tetap mampu memberikan perlindungan dari paparan Omicron. Vaksinasi yang diberikan sejauh ini masih mampu menekan risiko yang ditimbulkan dari varian tersebut.

"Laporan tentang Omicron sejauh ini di Inggris bagi yang sudah divaksin, risiko harus periksa ke RS tapi tidak sampai rawat inap itu 31-45 persen lebih rendah dibandingkan varian delta. Risiko harus rawat inap di ruang isolasi itu 50-70 persen lebih rendah daripada varian delta," katanya dalam sebuah forum diskusi pada Senin (27/12/2021).

Lebih lanjut, pada warga yang belum pernah terinfeksi Covid-19 atau menerima vaksinasi risikonya rawat inap di ruang isolasi hanya 11 persen dibandingkan dengan varian delta. Artinya, orang yang belum divaksin memiliki risiko 4-7 kali lebih tinggi daripada kelompok yang sudah divaksin.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Tonang menyebut cakupan vaksinasi lengkap atau dua dosis saat ini baru mencapai 40,65 persen dari populasi.  Sementara itu, sekitar 17 persen baru sekali dosis.

"Selebihnya sekitar 42,3 persen belum mendapat vaksin sama sekali. Kalau Omicron sampai menyebar, risikonya lebih besar pada yang belum tervaksinasi," ungkapnya.

Menurut Tonang, vaksinasi yang digunakan saat ini baru fokus pada mencegah gejala terutama gejala berat dan kematian. Apabila harus menunggu sampai diperoleh vaksin yang sekaligus mampu menghambat infeksi di saluran nafas bagian atas, perlu waktu lebih lama lagi. 

"Sementara jumlah kasus terus meningkat, jumlah kematian juga terus meningkat. Ekonomi semakin terhambat. Maka kita gunakan yang sudah bisa kita gunakan, sambil pengembangan vaksin terus dilakukan," paparnya.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Mau Liburan Tahun Baru? Ada Skenario Anyar Pencegahan Omicron Nih!

BERIKUTNYA

Brie Larson Berfoto dengan Karakter Villain, Fans Coba Pecahkan Teori The Marvels

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: