Ilustrasi perkembangan teknologi di bidang medis (dok. Pexels)

Intip 3 Inovasi Teknologi Medis Terbaru, Dari Restorasi Gigi Sampai Atasi Prostat

19 December 2021   |   21:31 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Inovasi teknologi di bidang kesehatan mengalami perkembangan cukup pesat. Pengobatan medis yang berpadu dengan teknologi menjadikan layanan kesehatan saat ini semakin komprehensif dan terarah.

Adopsi teknologi terkini salah satunya dilakukan RS Pondok Indah. Chief Executive Officer RS Pondok Indah Group dr. Yanwar Hadiyanto, mengatakan pihaknya menghadirkan layanan kesehatan menggunakan terknologi terkini yang diintegrasi berbagai sistem dan fasilitas rumah sakit, baik dari sisi administrasi, farmasi, laboratorium, sistem informasi, serta teknologi medis.

“Dengan kecanggihan dan integrasi teknologi saat ini yang diterapkan pada ratusan alat medis, proses penegakkan diagnosis, deteksi dini, identifikasi, serta penanganan beragam gangguan kesehatan menjadi lebih cepat dan akurat,” ujarnya dikutip dari siaran pers, Minggu (19/12/2021).

Berikut ini beragam teknologi medis terbaru yang memudahkan pelayanan pada pasien :
 

1. Modalitas pencitraan untuk restorasi gigi

Saat ini, proses rehabilitasi dan perawatan rongga mulut tak lagi memerlukan waktu lama berkat kehadiran perangkat modalitas pencitraan introral scanner dan computer aided design/computer aided manufacturing (CAD/CAM). 

Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia RS Pondok Indah drg. Jonan Angkawidjaja menerangkan dengan perangkat ini, restorasi gigi berupa crown, bridge, ataupun implan menjadi lebih cepat prosesnya. Hal ini dikarenakan perangkat tersebut dapat memberikan tampilan simulasi 3D, kontak antara gigi geligi rahang atas dan rahang bawah dalam hubungan horizontal maupun vertikal (oklusi), dengan akurasi tinggi. 

Keakuratan hasil pencitraan yang didapat ini katanya membantu memaksimalkan diagnosis serta mempersiapkan rencana perawatan yang tepat dan terbaik untuk pasien. Selain itu, proses pembuatan restorasi gigi relatif lebih cepat yakni 1-3 hari karena proses pencetakan dan transfer data untuk proses produksi sudah dilakukan secara digital, tanpa perlu melalui proses pencetakakn gigi secara manual atau konvensional.

“Kini bukan hanya akurat, kecepatan pengerjaan dan kenyamanan pasien pun menjadi prioritas yang harus diperhitungkan sehingga perkembangan teknologi dan transformasi digital dentistry sangat membantu,” tuturnya. 
 

2. Teknologi robotik atasi prostat

Dokter Spesialis Bedah Urologi RS Pondok Indah dr. Hery Tiera menyebut untuk penanganan kanker prostat saat ini ada teknologi robotic MRI/US fusion prostate biopsy. Teknologi ini memiliki tingkat deteksi lebih tinggi di mana biopsi yang dilakukan akan dipandu oleh gambar dari pencitraan MRI. 

Potongan gambar hasil MRI yang dicurigai memiliki indikasi jaringan kanker akan dikontemplasi ke dalam sebuah robot platform yang akan melakukan scanning digital dan menggabungkannya dengan gambar USG real time, serta secara otomatis menentukan titik-titik lokasi biopsi selama proses pengambilan sampel jaringan.

“Keakuratan robotic prostate biopsy memungkinkan dilakukannya biopsi yang lebih terarah, pada lesi atau daerah yang dicurigai memiliki indikasi jaringan kanker,” jelas Hery.

Tindakan ini pun bersifat minimal invasif, sehingga mengurangi risiko komplikasi dan pendarahan pasca tindakan. “Ini juga minim risiko infeksi dengan proses pemulihan yang lebih singkat, tanpa memerlukan rawat inap,” tuturnya.
 

3. Morphology analyzer deteksi kelainan darah


Perkembangan teknologi di laboratorium untuk pemeriksaan hematologi juga semakin prima. Dokter Spesialis Patologi Klinik RS Pondok Indah dr. Thyrza Laudamy Darmadi menuturkan kini ada teknologi digital morphology analyzer yang membantu proses validasi morfologi pada sampel darah. 

Tidak lagi dilakukan secara manual dengan menggunakan mikroskop analog, kini proses validasi morfologi dilakukan secara digital dengan bantuan artificial intelligence (AI) dan kecanggihan kamera dengan lensa perbesaran tertentu yang ditampilkan di layar monitor. 

Jika dahulu hasil pemeriksaan membutuhkan waktu satu sampai dua jam, kini kata Thyrza hasil pemeriksaan bisa didapat dengan kecepatan dan sensitivitas tinggi, yakni dalam waktu kurang lebih 30 menit.

“Sensitivitas alat terbaru yang semakin tinggi dapat membantu deteksi dini kelainan atau keganasan darah dengan lebih efisien sehingga penanganan dan pencegahan penyakit menjadi lebih terkendali,” terangnya.

Dengan teknologi digital morphology analyzer ini, Thyrza menyatakan bahwa standar quality control (QC) juga meningkat karena adanya standardisasi pengerjaan dengan bantuan artificial intelligence (AI) dan meminimalisir adanya human error. 

“Hasil pemeriksaan yang berbentuk arsip digital juga mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan data dan memudahkan apabila suatu saat diperlukan peninjauan ulang,” tuturnya.

Editor: Dika Irawan

SEBELUMNYA

Bukan N, Kasus Omicron Pertama di Indonesia Disumbang WNI dari Negara Ini

BERIKUTNYA

Duh, Munculnya Omicron di Indonesia Bikin Pelaku Usaha Cemas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: