Es Teh Indonesia (dok. Instagram Es Teh Indonesia)

Ingin Ikut Kemitraan Es Teh yang lagi Viral? Ini Dia Perhitungan Usahanya

26 October 2021   |   17:30 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Like
Selama masa pandemi Covid-19, banyak masyarakat mencari-cari peluang usaha yang menarik untuk dijalankan, sebagai sumber pendapatan baru atau tambahan. Nah, salah satu brand minuman yang saat ini sedang naik daun adalah Es Teh Indonesia milik pengusaha muda Haidhar Wurjanto.

Haidhar mengatakan bahwa saat pertama memulai usaha tersebut, Es Teh Indonesia tidak langsung menawarkan paket kemitraan, tetapi mencari formulasi terlebih dahulu sehingga bisnisnya bisa menjadi lebih menguntungkan.

Baru pada 2019, Es Teh Indonesia mulai membuka paket kemitraan dan memiliki sekitar 20 cabang sampai awal 2020.

Siapa sangka, pandemi yang terjadi pada awal 2020 lalu ternyata membawa berkah bagi pertumbuhan bisnis Es Teh Indonesia yang makin meroket hingga berhasil menambah ratusan cabang baru dengan total secara keseluruhan hingga kini mencapai 250 cabang di seluruh Indonesia.

Pertumbuhan ini juga tak lepas dari model bisnis yang dikembangkan oleh Es Teh Indonesia dengan konsep grab and go yang justru sangat berkembang pada masa pandemi, ketika masyarakat tidak diperbolehkan makan atau minum di tempat dan hanya boleh di bawa pulang.

“Ini bisnis yang benar-benar melawan situasi wabah karena konsepnya yang grab and go sehingga lebih sederhana, dengan biaya operasional yang juga lebih murah," CEO Es Teh Indonesia Haidhar Wurjanto.


Hal itu, berbeda dengan resto-resto besar yang membutuhkan biaya operasional besar untuk karyawan, sewa tempat, listrik. Apalagi jika bukanya di mal dan area komersial. "Kalau kita lebih banyak yang stand alone,” tutur Haidhar.

Dari sisi pemasaran pun Haidhar dan tim memanfaatkan media sosial TikTok yang pada saat pandemi sedang naik daun. Dia sengaja mengunggah konten di TikTok mengenai perjalanannya merintis usaha Es Teh Indonesia sejak awal .

Ide tersebut rupanya menjadi viral sehingga ikut mendongkrak bisnis Es Teh Indonesia yang sedang dikembangkannya. Haidhar sendiri melihat adanya kesamaan antara TikTok dengan caranya mengemas Es Teh Indonesia sebagai minuman ‘receh’ yang dikenal dekat dan disukai masyarakat Indonesia.

“TikTok itu lebih receh dan apa adanya, mirip dengan brand kami yang juga receh tetapi dekat dengan masyarakat, dan inilah yang juga menjadi kekuatan kami. Apalagi saat ini masih sedikit usaha kuliner yang menggunakan TikTok sebagai media promosi karena itulah Es Teh Indonesia dapat terangkat di media sosial ini,” terangnya.

Meningkatkan penjualan dan makin dikenalnya brand Es Teh Indonesia, membuat banyak masyarakat yang ingin ikut mencoba peluang bisnis tersebut sehingga paket kemitraan Es Teh Indonesia pun ikut laris manis.

Bahkan Es Teh Indonesia yang semula pada awal 2020 hanya memiliki 20 cabang, makin lama kian berkembang hingga saat ini telah memiliki 250 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.”Target kami bisa membuka hingga 1.000 cabang,” ungkapnya.

Terkait investasi awal yang dibutuhkan untuk membuka cabang Es Teh Indonesia, dibutuhkan investasi sebesar Rp120 juta termasuk franchise fee, bahan baku, dan perlengkapan. Jika ditambah biaya sewa dan renovasi tempat bisa mencapai hingga Rp200 juta sampai Rp250 juta.

“Para mitra bisa mendapatkan omzet hingga Rp5 juta per hari atau sekitar Rp100 juta sampai Rp150 juta per bulan dengan keuntungan bersih sekitar 20% sehingga bisa BEP dalam waktu 6 bulan hingga 1 tahun,” terangnya.

Saat ini Es Teh Indonesia memiliki lebih dari 20 varian rasa dengan ukuran medium, large, dan 4 toppings yang menjadikanya lebih kekinian. Adapun untuk harganya sendiri dimulai dari Rp6.000 hingga Rp22.000.

Diakui olehnya bahwa usaha yang dikembangkannya ini menerapkan strategi blitz scaling yang dalam waktu singkat dapat bertumbuh sangat besar. Memang cukup melelahkan tetapi dengan tim yang kuat, mereka pun dapat terus berkembang.

“Kami mengajak gabung tim-tim yang potensial, anak-anak muda kreatif yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kami. Jadi kami bisa sebesar saat ini juga tidak lepas dari keja keras seluruh tim,” ujarrnya.
 
Perhitungan Bisnis Es Teh Indonesia
Biaya Franchise Rp120 juta (lisensi, perlengkapan, bahan baku)
Modal (booth/ruko) Rp200 juta–Rp250 juta
Penjualan (rata-rata/hari) Rp4 juta–Rp5 juta
Penjualan (rata-rata/bulan) Rp100 juta–Rp150 juta
Keuntungan bersih Rp20 juta–Rp30 juta (20%)
BEP 6 bulan hingga 1 tahun
Sumber: Es Teh Indonesia, 2021.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Cuma Jualan Es Teh, Pengusaha Muda Ini Bisa Raup Omzet Puluhan Miliar Rupiah

BERIKUTNYA

Kita Hebat Ubah Sampah Makanan Jadi Produk Ramah Lingkungan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: