Cuplikan film Yuni (Dok. Fourcolours Films)

Melihat Pernikahan & Makna Kebebasan Remaja dalam Film Yuni

06 December 2021   |   20:29 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Di kota-kota besar, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi mungkin merupakan hal yang biasa bagi lulusan SMA. Orang tua akan mendukung cita-cita dan keinginan anaknya untuk berkuliah. Namun, nyatanya, tak sedikit juga remaja yang harus menemui jalan terjal, seperti yang dialami karakter utama dalam film Yuni.

Film Yuni menampilkan sekelumit persoalan remaja yang mencoba ‘meraba’ pakem-pakem yang telah langgeng di masyarakat. Alih-alih terurai, persoalan tersebut justru kian terlihat nyata sebagai sekadar pecahan kecil dari konflik struktural yang masih terjadi di masyarakat.

Melalui film ini, kita akan melihat bagaimana tokoh Yuni, sebagai seorang remaja yang masih mencari jati diri dan rentan untuk memilih, harus dihadapkan dengan hal-hal besar yang belum pernah dipikirkan sebelumnya, seperti pernikahan. Dengan segala keterbatasannya, dia harus menghadapi kebingungan, kemarahan, sekaligus keraguan dalam memutuskan sesuatu dalam hidupnya.

(Baca juga: Cerita Kamila Andini tentang Proses Produksi Film Yuni)

Yuni adalah representasi banyak remaja di sekitar kita yang impiannya harus terkubur karena sistem patriarki yang masih langgeng di masyarakat, di mana tugas perempuan hanya sebatas kasur, sumur, dan dapur. Meski demikian, lewat film ini, Yuni juga mencoba berani bersuara untuk menentukan masa depannya. Lebih dari itu, kebebasannya.

Senin (6/12/2021), Hypeabis.id berkesempatan menonton film Yuni yang akan tayang di bioskop mulai 9 Desember 2021. Film ini menjadi film yang wajib kamu tonton untuk mengetahui bahwa ada yang tidak baik-baik saja di lingkungan sekitar kita. Yuk simak ulasannya!

(Ulasan berikut ini mengandung spoiler!)

Film yang disutradarai Kamila Andini ini bercerita tentang keseharian Yuni (Arawinda Kirana), seorang remaja SMA tingkat akhir yang akan lulus SMA. Sebagai seorang siswa berprestasi, Yuni pun direkomendasikan gurunya, Bu Lilis (Marissa Anita), untuk mendaftar perguruan tinggi dengan jalur beasiswa.

Yuni antusias dengan usulan tersebut. Dia bahkan secara tegas mengatakan kepada orang tuanya ingin melanjutkan pendidikannya. Namun, semua itu berubah saat lamaran pertama datang menghampirinya. Dia dilamar oleh seorang laki-laki yang tidak dikenalnya; ia hanya sebatas tahu bahwa laki-laki itu adalah tetangganya.

Hal itu pun dinilai sebagai rezeki oleh orang-orang di sekitar Yuni. Dia dianggap perempuan yang enteng jodoh sekaligus mendapatkan laki-laki yang dianggap mapan oleh orang-orang di lingkungannya. 

Tetapi, tidak bagi Yuni. Dia justru merasa bingung dan kalut dengan lamaran tersebut. Impian di kepalanya adalah melanjutkan pendidikan, bukan menjadi pengantin. Kebingungan itu kian menemukan kebuntuan saat dia bercerita dengan orang tua dan neneknya. Mereka justru bertanya apa yang sebenarnya diinginkan Yuni.

Yuni bingung. Dia bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya dia inginkan? Lebih dari itu, dia bertanya, haruskah kita tahu ingin menjadi apa diri kita sebenarnya? Sebab, yang dia tahu hanya ingin menikmati hidup remajanya, mengetahui banyak hal, dan melanjutkan mimpi-mimpinya.
 

h

Cuplikan film Yuni (Dok. Fourcolours Films)

Kegamangan itu pun berlanjut pada lamaran kedua dan ketiga; Yuni dilamar untuk dijadikan istri kedua, lalu dilamar oleh gurunya sendiri di sekolah. Di titik ini, orang-orang di sekitar Yuni mengatakan bahwa pamali untuk menolak lamaran lebih dari dua kali karena akan sulit mendapatkan jodoh.

Tak mendapat pencerahan dari orang-orang di sekitarnya, Yuni mencoba mengenal dirinya sendiri melalui tokoh-tokoh yang kerap dipinggirkan di masyarakat, seperti seorang pekerja salon, perempuan yang putus sekolah, hingga penyanyi jalanan yang hidupnya penuh kebebasan. Melalui tokoh-tokoh seperti itu, Yuni mencoba mengurai segala kebingungan dan keraguannya. 
 

Cuplikan film Yuni (Dok. Fourcolours Films)

Cuplikan film Yuni (Dok. Fourcolours Films)

Bangunan tua kosong di pinggir pantai juga secara tidak langsung menjadi simbol ruang kebebasan untuk Yuni. Di bangunan itu, dia bersama teman-teman dekatnya berbagi semua keresahan dan kebingungannya soal hal-hal yang dianggap tabu di masyarakat, termasuk persoalan lamaran yang datang kepadanya.

Di tengah kemelut persoalan itu, Yuni ditemani oleh seorang laki-laki yang menyukainya bernama Yoga (Kevin Ardilova). Yoga selalu mendukung Yuni dalam kondisi apa pun, termasuk mendukung keinginan Yuni untuk melanjutkan pendidikan. Bahkan, Yoga pun mengajak Yuni untuk pergi dari rumah agar dia bisa bebas mengejar impiannya.

Namun, di tengah realitas yang tak berpihak padanya, dan bersama dengan hujan yang turun bukan pada musimnya, Yuni membuat keputusannya sendiri.


Editor: Avicenna

SEBELUMNYA

Spotify Perkenalkan Audio Aura pada Fitur Wrapped, Apa Itu?

BERIKUTNYA

Xdinary Heroes Tunjukkan Dua Sisi Manusia dalam Single Happy Death Day

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: