Didiet Maulana (dok. Istimewa)

Ini Dia Sosok Kolektor Batik Kuno, Antik & Bersejarah

15 November 2021   |   20:53 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Like
Batik merupakan wastra nusantara yang memiliki sejarah panjang. Di samping itu, corak, motif, warna, dan simbol yang tergores di dalam lembaran kainnya menjadi daya tarik yang memanjakan mata penikmatnya. Tak jarang, warisan budaya ini menjadi barang koleksi.

Bukan hanya kaum wanita, batik menjadi barang koleksi yang memikat kaum pria. Didiet Maulana contohnya. Sejak kecil dia sudah mengenal batik karena kain itu menjadi busana keseharian neneknya. 

Walaupun berteman dengan batik sejak kecil, Didiet baru mengoleksinya sejak usia 30 tahun atau ketika dia tertarik dengan dunia fesyen. Ya, saat ini Didiet lebih dikenal sebagai seorang desainer dan pemilik brand Ikat Indonesia. 

Dalam mengoleksi, Didiet suka batik yang kuno dan antik dari berbagai daerah di Indonesia. Kalau dahulu dia banyak mengoleksi batik dari Pulau Jawa namun saat ini dia tengah mengumpulkan batik dari Sumatra atau dari daerah di luar Pulau Jawa. “Seperti batik Jambi, batik Lampung, batik Palembang, Padang,” tuturnya. 

Didiet yang sempat bekerja di perusahaan arsitektur dan menjadi tim kreatif dalam sebuah stasiun televisi ini mengatakan dia juga selalu mempertimbangkan motif dan cerita di balik kain batik. “Harus ada unsur sukanya dulu sehingga nanti kainnya tidak hanya menumpuk tetapi punya cerita dan kita bisa lebih perhatian sama kain yang kita koleksi,” sebutnya. 

Selama perburuannya mencari batik, Didiet beruntung banyak orang yang memberikan informasi tentang batik yang unik dan antik, maupun pengrajin yang karyanya sering diburu kolektor. Dia juga sering berbincang dengan Ketua Yayasan Batik Indonesia Yanti Isfandiary Airlangga sehingga dia memiliki wawasan lebih luas tentang jenis batik.
 

Didiet Maulana dengan koleksi batiknya (dok. Istimewa)

Didiet Maulana dengan koleksi batiknya (dok. Istimewa)

Sementara itu, ayah satu orang anak ini mengaku tidak ada bujet khusus untuk koleksi batiknya. Namun tidak dipungkiri ada kain batik yang dibelinya dengan harga selangit karena memang usianya sudah cukup tua. Menurutnya harga tidak jadi masalah selama dia menyukai batik tersebut dan batik itu sendiri memiliki nilai sejarahnya. 

“Kadang saya mengadopsi beberapa kain yang terlihat lapuh, sudah lusuh, tetapi saya suka karena motifnya, ceritanya, sejarahnya, semakin tua justru terlihat semakin bagus,” beber Didiet. 

Kain batik ini menurutnya bisa menjadi inspirasinya dalam menciptakan karya fesyen. Bahkan batik ini bisa menjadi investasinya untuk mencapai kebahagiaan. Ya, bukan investasi material, memandangi kain batik yang menjadi koleksi dan nilai sejarahnya bisa membuat perasaan Didiet lebih tenang hingga menjadi alat untuk tidur nyenyak. “Buat saya ketika saya bahagia, itu investasi terbesar untuk diri saya,” tegasnya.

Dari kecintaannya terhadap batik, Didiet pun ikut dalam Kesengsem Lasem yang merupakan gerakan pelestari benda dan nonbenda di Lasem, sebuah kecamatan di Rembang, Jawa Tengah yang terkenal sebagai salah satu destinasi wisata batik yang produknya tersohor di penjuru negeri. Menurutnya ini gerakan mulia dan menjadi wadah untuk tidak hanya mencintai namun juga menjaga kelangsungan batik Lasem. 

“Kami ingin agar Lasem sustainable. Di situ ada perupanya, senimannya, ada juga wadah marketplace-nya yang akan menjaga agar pembatik ini bisa terus berkembang,” tutur Didiet. 

Editor Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Biar Selamat, Jaga 5 Etika Ini saat Berkendara

BERIKUTNYA

Intip Koleksi Sneakers Rayi RAN, Ada 150 Pasang Loh!

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: