Ilustrasi (Photo by Dino Januarsa on Unsplash)

Apa Itu Green Job dan Seperti Apa Trennya di Indonesia? Yuk Simak Fakta Berikut

10 November 2021   |   17:02 WIB

Isu perubahan iklim kian penting seiring makin banyaknya bencana serta cuaca ekstrem. Bukan hal baru lagi ketika sektor-sektor seperti energi terbarukan dan lingkungan hidup menciptakan lapangan kerja baru, sehingga kebutuhan sumber daya manusia terus meningkat.

CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai, mengumumkan tahun lalu bahwa proyek terkait iklim akan menciptakan 20.000 lebih pekerjaan terkait industri dan energi bersih pada 2025. Pekerjaan yang fokus pada penanganan perubahan iklim kini biasa dikenal dengan istilah green job.

Meskipun setiap negara dan institusi internasional punya definisi berbeda tentang green job, International Labour Organization mendefinisikan green job sebagai pekerjaan yang layak, dan berkontribusi terhadap kelestarian.

Karena green job merupakan hasil dari praktik ekonomi hijau (green economy), pekerjaan ini juga inklusif secara sosial. Pekerjaannya sendiri bisa dari sektor tradisional, termasuk manufaktur dan konstruksi, bisa juga sektor baru, seperti energi terbarukan dan efisiensi energi.

Menurut peneliti Coaction Indonesia, Siti Koiromah, seperti yang sudah ditetapkan oleh ILO, green job memiliki lima tujuan, yaitu:
  • Melindungi dan memulihkan ekosistem
  • Meningkatkan efisiensi energi dan bahan baku
  • Meminimalkan limbah dan polusi dari proses produksi
  • Membatasi emisi gas rumah kaca
  • Mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim
Dari berbagai penelitian, green job ini akan semakin booming. Tak hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia. Apa saja alasannya?
 

1. Kesadaran masyarakat tentang isu perubahan iklim meningkat

Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan mendorong tumbuhnya usaha kecil untuk berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Contohnya seperti pemanfaatan limbah, daur ulang kemasan bekas menjadi barang dengan nilai guna dan lain lain.

Kini kian banyak perusahaan yang memiliki divisi sustainability. Itu berarti perusahaan tersebut sudah memiliki pandangan ke depan untuk terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan. 

Namun, Coaction mengamati, pekerja di industri daur ulang sering kali merupakan orang yang pendidikannya rendah, sehingga penghasilannya belum bisa dibilang layak. 

Padahal, kontribusinya terhadap lingkungan sangat besar. Sementara, syarat green job adalah suatu pekerjaan harus layak secara ekonomi.
 

2. Menyebar di banyak bidang

Selama memenuhi salah satu tujuan dari green job yang sudah ditetapkan ILO, berarti suatu sektor atau pekerjaan termasuk dalam kategori green job. 

Sebagai contoh, cukup banyak perusahaan yang kini mengarah pada sustainable fashion, yang proses produksinya menerapkan prinsip keberlanjutan, misalnya menggunakan katun yang bahan bakunya dari pertanian organik. 

Di dunia kuliner pun tersedia green job. Misalnya, koki yang menggunakan bahan pangan segar secara efisien, menerapkan zero waste, dan memakai bahan organik atau bahan dari lahan pertanian yang berkelanjutan.

Seorang pendongeng sekalipun bisa masuk kategori green job, kalau materi ceritanya mengandung unsur yang berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan.

(Baca juga: Aktivis Lingkungan Protes di Tengah Runway Louis Vuitton di Paris Fashion Week)
 

3. Terdorong oleh green economy

Kajian dari World Economy Forum: Future of Jobs pada 2016 mengungkap bahwa sektor energi dan berbagai industri di seluruh dunia mulai beralih ke green economy. Hal ini terjadi karena ada isu tentang perubahan iklim dan kekhawatiran dunia akan ketersediaan sumber daya alam.

Green economy berarti aktivitas ekonomi yang tidak mengabaikan lingkungan. Artinya, sebuah perusahaan tidak melakukan praktik ekstraksi yang berlebihan dan selalu mempertimbangkan dampak aktivitasnya terhadap lingkungan. Sekaligus juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
 

4. Terciptanya jenis pekerjaan baru

Di sektor energi, green job akan semakin booming. Jumlah tenaga kerja yang berkaitan dengan fosil akan menurun. 

Coaction menghitung kebutuhan tenaga kerja langsung di sektor energi terbarukan berdasarkan kapasitas terpasang dalam target RUEN (Rencana Umum Energi Nasional) pada 2030 sebesar 430.000 tenaga kerja.

Kebutuhannya didominasi oleh proyek pembangunan pembangkit untuk menghasilkan energi listrik dengan energi terbarukan. Antara lain, tenaga kerja untuk feasibility study, mendesain pembangkit, teknisi, petugas operasional dan perawatan, serta pekerja yang membangun pembangkit. 

Dari pembangunan itu, tumbuh juga pekerjaan yang tidak langsung dan yang terinduksi, seperti sales insinyur, analis, legal, dan konsultan.
 

5. Semua generasi bergerak

Sejumlah riset mengungkap bahwa generasi milenial punya ketertarikan khusus terhadap lingkungan hidup. Karena itu, mereka menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan. 

Menurut Koiromah, banyak peluang untuk masuk ke green job tanpa melihat generasinya. Yang perlu dilakukan kemudian adalah menambah kapasitas diri. Sama seperti mahasiswa yang baru lulus kuliah. Ketika diterima di satu perusahaan, dia akan diberi berbagai training oleh perusahaan agar memiliki skill yang tepat.

Ketika berpindah ke energi terbarukan, para direktur ini punya ilmu dan keterampilan yang dibutuhkan. Karena, sebenarnya hard skill untuk pekerjaan konvensional maupun green job akan sama saja. Mereka hanya perlu menambah atau mengasah keterampilan serta pengetahuan.


Editor: Avicenna
SEBELUMNYA

Ingin Tidur Berkualitas? Ini Tips Memilih Baju Tidur yang Nyaman

BERIKUTNYA

Berbeda Rasa hingga Bentuk, Ini 4 Tipe Pizza yang Jarang Diketahui

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: