Ilustrasi kopi (dok. Pexels)

5 Langkah Sederhana Mencegah Kopi Punah

30 September 2021   |   14:39 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Ngopi mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, entah itu di kota maupun di desa. Namun kebiasaan ini dalam beberapa tahun ke depan bisa saja hilang, sebab tanaman kopi terancam punah akibat perubahan iklim. 

Renata Puji Sumedi Hanggarawati, Agroecosystem Program Manager dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), menjelaskan perubahan iklim tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan. 

Musim yang makin sulit diprediksi, musim panen berubah, hama penyakit meningkat akibat perubahan iklim ini berpengaruh pada tanaman kopi. Belum lagi ada degradasi lahan yang juga berdampak pada penurunan produksi kopi. 

“Memang ada estimasi bahwa sejumlah wilayah di kawasan Nusa Tenggara Timur, termasuk Flores, misalnya, akan jadi lebih kering. Hal ini tidak saja berdampak pada tanaman kopi, melainkan juga pada flora dan fauna yang hidup di daerah tersebut. Keanekaragaman hayati memang berpotensi terancam oleh perubahan iklim,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Hypeabis.id, Kamis (30/9/2021). 

Jika kita abai terhadap perubahan iklim ini, tentu dampaknya akan jauh lebih besar. Contoh kecilnya sejumlah tanaman seperti kopi akan langka dan seiring waktu punah. Selain memperhatikan perubahan iklim, berikut 5 cara yang bisa kita lakukan agar kopi tidak punah :

1. Terlibat dalam kegiatan konservasi
Kopi bukan tanaman yang soliter. Artinya, dia tidak bisa tumbuh sendiri. Tanaman kopi memerlukan tanaman penaung yang fungsinya untuk menahan angin, juga menjaga tanaman kopi dari sinar matahari serta curah hujan yang tinggi. 

Tanaman-tanaman penaung ini perlu ditanam ulang. Kalau tidak punya kesempatan untuk menanam bibit secara langsung, kamu bisa ikut berdonasi dengan cara mengadopsi bibit pohon atau adopsi hutan.

Kamu juga bisa beli kopi kopi tertentu yang berarti konsumen sudah berdonasi untuk menjaga kelestarian kopi nusantara dan membantu masyarakat petani kopi tersebut, bukan sekadar membeli dan menikmatinya. 

2. Jalin kolaborasi dengan petani kopi
Saat ini, petani kopi di sejumlah daerah seperti kawasan Flores Manggarai didominasi oleh orang tua. Masih jarang ada anak muda yang tertarik untuk menjadi petani. Di sinilah diperlukan berbagai dukungan dari para pencinta kopi. 

“Anda bisa mengadakan pelatihan yang membuat anak muda tertarik untuk jadi petani kopi. Misalnya, workshop untuk jadi barista. Kalau ada yang punya pengetahuan untuk mengolah limbah kopi, Anda bisa bantu mereka agar bisa memanfaatkan limbah. Misalnya, dibuat menjadi bahan sabun atau lulur,” saran Puji. 

Di sisi lain, para pengusaha kopi yang kini semakin banyak juga perlu menerapkan fair trade. Seringkali pengusaha tidak mementingkan kualitas, melainkan mengutamakan harga murah. Puji menegaskan, sebetulnya tidak harus membeli dengan harga sangat tinggi, tapi diupayakan agar harganya fair bagi produsen. 
 
3. Minum kopi lokal ramah lingkungan
Kopi merupakan sumber penghasilan terbesar bagi masyarakat di sejumlah daerah, terutama Flores Manggarai. Lebih dari 50 persen sumber penghidupan mereka berasal dari kopi. 

Selain itu, karena kebun kopi di sana dikelola secara agroforest, bukan monokutur, banyak tanaman lain yang tumbuh di lahan mereka termasuk tanaman penaung kopi sebagai sumber pendapatan. Karena itu, dengan mengonsumsi kopi lokal berarti kamu membantu kesejahteraan petani. Saat mereka bisa sejahtera dari kopi, maka mereka tidak akan menjual lahan untuk dialihfungsikan. 
 
4. Kenali asal kopi
Sebagai konsumen, kamu perlu aware terhadap apa yang kamu konsumsi. Kenali dari mana kopi itu berasal, di mana lokasi perkebunannya, kelompok petani mana yang menanamnya, dan siapa nama petaninya. Hal ini penting agar terbangun connectivity. 

Ketika seseorang punya koneksi dengan kopi tertentu, maka dia dengan senang hati ikut mempromosikan, sekaligus mencari cara untuk membantu pengembangannya. 

5. Cicipi berbagai kopi Nusantara.
Di Indonesia terdapat banyak sekali daerah perkebunan kopi dan setiap daerah menghasilkan kopi dengan karakter berbeda. Meski bibitnya sama, karena kelembapan dan kontur tanahnya berbeda, maka karakter kopinya bisa berbeda pula.

Penyebutan jenis kopi di Indonesia umumnya berdasarkan daerah perkebunannya. Misalnya, kopi Kintamani, kopi Malabar, kopi Aceh Gayo, dan kopi Toraja Kalosi. Padahal, sebenarnya kopi dari suatu pulau itu bermacam-macam. Selain Kintamani, di Bali ada kopi Mengani. Sedangkan di Jawa Barat, selain kopi Malabar, ada kopi Ciwidey, kopi Gunung Puntang, dan kopi Papandayan. Jadi untuk melestarikan kopi dari Nusantara, kamu bisa mencicipi dari sejumlah daerah penghasil kopi ya.



Editor: Indyah Sutriningrum
 

SEBELUMNYA

Segudang Manfaat Nasi Jagung, Bisa Cegah Kanker Loh

BERIKUTNYA

Marriott Bonvoy on Wheels, Roadtrip Jelajah Kekayaan Kuliner Sepanjang Jawa-Bali

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: