Ilustrasi (Dok. Shvets Production/Pexels)

Kolaborasi Jadi Kunci Penanganan Masalah Food Lost & Waste

28 September 2021   |   20:31 WIB

Sampah makanan menjadi salah satu penyumbang terbesar permasalahan sampah di Indonesia. Laporan terbaru Bappenas mengenai food lost and waste (FLW) menemukan bahwa saat ini terdapat 115-184 kg/kapita/tahun timbulan susut dan limbah pangan yang sebagian besar dihasilkan dari sisi konsumsi.

Dampak dari FLW bukan hanya menimbulkan kerugian ekonomi yang diestimasi setara dengan 4-5 persen PDB Indonesia, tetapi juga kenaikan emisi gas rumah kaca. Selain itu, timbulan FLW juga bisa menyebabkan kehilangan kandungan zat gizi seperti energi, protein, vitamin A, dan zat besi yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi.

Permasalahan susut dan limbah pangan saat ini membutuhkan penyelesaian yang terintegrasi antarsektor. Co-Chair FOLU Country Platform, Nirarta Samadhi, mengatakan dibutuhkan kerjasama multipihak dalam mengintegrasikan manajemen pengurangan FLW, mulai dari hulu sampai hilir, dari rantai pasok pangan yang ada.

“Peran pemerintah, swasta, lembaga swadaya masyarakat, komunitas, maupun individu turut menjadi bagian dari solusi permasalahan FLW di Indonesia,” ujarnya dalam diskusi virtual bertajuk Sedikit yang Menjadi Bukit: Permasalahan dan Solusi Bersama terhadap Susut dan Limbah Pangan di Indonesia, Selasa (28/9).
 

Salah satu cara untuk mengolah sampah makanan organik adalah dengan membuat kompos (Dok.Lenka Dzurendova/Pexels)

Salah satu cara untuk mengolah sampah makanan organik adalah dengan membuat kompos (Dok.Lenka Dzurendova/Pexels)

Sebagai wujud komitmen sektor swasta terhadap pengurangan FLW, asosiasi IBCSD melalui inisiatif Gotong Royong Atasi Susut dan Limbah Pangan (GRASP) 2030 berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam industri di sepanjang rantai pasok pangan, untuk mengurangi masalah sampah dan menguatkan ketahanan pangan di Indonesia.

“Pendekatan yang dilakukan adalah voluntary agreement untuk berbuat, mengambil inisiatif dalam rantai nilai dari mulai produksi, distribusi dan manufaktur serta menghubungkan kolaborasi dengan kementerian Bappenas, Pertanian, Perindustrian, dan KLHK,” ujar Aloysius Wiratmo, Program Development & Stakeholder Engagement Manager IBCSD.

Salah satu pelaku usaha yang terlibat dalam inisiasi tersebut adalah PT East West Food Indonesia yang berkolaborasi dengan komunitas lokal untuk mengelola limbah mereka. Dengan mengajak kerjasama dengan Universitas Jember, mereka mengolah limbah labu menjadi berbagai makanan olahan.

Selain itu,untuk mewujudkan perencanaan kebijakan pengurangan FLW yang berbasis data, saat ini Waste4Change sedang bekerja sama dengan FOLU Indonesia dalam pembuatan protokol FLW. Dengan belajar dari negara lain yang telah berhasil mengurangi FLW, protokol ini diharapkan dapat menjadi acuan metode perhitungan FLW di Indonesia. 

“Tujuan adanya protokol FLW adalah untuk membantu pemangku kepentingan dalam membuat intervensi atau strategi penanganan FLW yang berbasis data,” ujar Anissa Ratna Putri, Consulting Manager Waste4Change.

Kontribusi dari setiap individu juga sangat penting dalam mengatasi permasalahan susut dan limbah pangan. Menurut CEO Garda Pangan Eva Bachtiar, prioritas utama yang bisa dilakukan oleh individu adalah source reduction atau berusaha mengurangi sumber food waste dari awal.

"Misalnya, jika kita punya left-over, nasi sisa makan kita bisa diolah menjadi nasi goreng. Atau bisa juga melakukan manajemen isi kulkas agar tidak ada bahan makanan yang dibuang," ucapnya.


Editor: Avicenna
SEBELUMNYA

NOICE Hadirkan Fitur Live, Kreator & Pendengar Bisa Interaksi Langsung

BERIKUTNYA

Jangkau Gen Z & Milenial, FINDD Gandeng The Popo

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: