Instalasi Personnes karya seniman Christian Boltanski. (Dok. Foto Smarthistory)

Personnes, Merawat Ingatan Liris

18 December 2025   |   14:30 WIB
Image
Diena Lestari General Manager Konten Bisnis Indonesia Weekly & Hypeabis.id

Like
Hawa dingin yang berembus dari mesin pendingin Nave of Grand Palais Paris, Prancis terasa begitu menusuk tulang. Cahaya sore membias temaram dari sela-sela kubah kaca raksasa gedung museum. Tak seperti biasanya, ruang pamer seluas 13.500 meter persegi tampak sepi pengunjung. Suasana begitu muram dan asing.

Tiba-tiba terdengar deru kereta api, berkelindan dengan degap ritmis jantung manusia yang dikumandangkan dari pengeras suara. Suaranya ritmis, mencekam.

Dalam ruang pamer yang sedemikian luas tersusun garis pembatas berbentuk persegi panjang yang keseluruhannya berjumlah 69 kotak yang dipenuhi tumpukan baju lawas bergaya 1930-an. Di setiap garis persegi panjang itu terdapat empat tiang berkarat. Di salah satu tiangnya terdapat bohlam pijar dan pengeras suara. Dari sinilah suara mencekam itu berasal.

Baca Juga: Mengapa Karya Seni Affandi Masih Diburu?

Kejutan tidak selesai di sini. Pada bagian paling ujung ruangan, tepatnya di bawah kubah kaca raksasa Nave of Grand Palais terlihat gunung baju-baju bekas seberat 10 ton. Di atas gunungan baju terlihat derek yang digantung pada salah satu pilar baja kubah kaca.

Derek berwarna merah menyala itu berulang-ulang melakukan gerakan naik turun untuk meraup dan melepaskan baju pakaian bekas.

Keseluruhan materi yang tersaji di dalam gedung bersejarah Grand Palais yang berada tepat di jantung kota City of Light ini menjadi bagian dari instalasi seni bertajuk Personnes. Karya ini hasil garapan seniman besar asal Prancis Christian Boltanski.

Instalasi Personnes merupakan metafora dari kamp konsentrasi untuk tahanan perang. Kamp ini dibangun atas perintah pemimpin Partai Nazi Jerman Adolf Hitler. Melalui medium seni rupa yang disajikan melalui pameran Monumenta 2010, Boltanski terus merawat ingatannya tentang peristiwa kelam Holocaust 1933—1939.

Personnes dengan begitu kuatnya mendobrak imajinasi pencinta seni tentang peristiwa pembunuhan massal yang begitu liris, memilukan. Suara ritmis dari rekaman degap jantung dan deru kereta api mengingatkan pada kegelisahan tawanan politik yang diangkut menggunakan kuda besi holokaus menuju kamp konsentrasi.

Derek berwarna merah menyala yang berkali-kali mengambil dan melepas tumpukan baju merupakan metafora burung Bangau yang mengambil jiwa-jiwa manusia untuk kembali pada Tuhan. Sementara, tumpukan baju yang ditata rapi di atas lantai mengingatkan kita derita dan kepedihan korban kamp konsentrasi.

Christian Boltanski lahir di Paris, 6 September 1944 dan meninggal pada 14 Juli 2021. Ayahnya lolos dari kamp konsentrasi setelah 15 tahun bersembunyi di bawah papan lantai rumah keluarga. Sejak kecil, Boltanski akrab dengan carita Peristiwa Perang Dunia I dan II menjadi dituturkan oleh orang tua, kerabat, dan para penyintas kamp konsentrasi.

Peristiwa kelam itu dibingkainya dalam karya Personnes yang diartikan sebagai orang dan bukan siapa- siapa. Latar belakang kehidupannya yang sedemikian liris mendorong konsistensi dalam menciptakan karya mendalam tentang sejarah, budaya, kenangan, kehilangan, dan kematian.

Personnes menjadi medium Boltanski untuk berbagi tentang tentang eksplorasi sosial, religius, dan humanistik yang tidak dapat direduksi dari keberadaan manusia, seiring dengan kehadiran kematian, dehumanisasi tubuh, kesempatan, dan takdir.

Personnes membangun eksplorasi tentang batas-batas keberadaan manusia dan dimensi kenangan yang menyentuh pertanyaan tentang nasib, dan kematian yang tak terhindarkan.

Personnes mengubah seluruh Nave of the Grand Palais melalui penciptaan instalasi yang koheren dan sangat bergerak yang dikandung sebagai tablo animasi raksasa. Karya Boltanski ini pun merupakan kerja yang berlangsung satu kali dan bersifat sementara karena sesuai keinginannya, seluruh medium dan komponen dari karya tersebut langsung didaur ulang pada akhir pameran Monumenta 2010.


SENI RUPA KITA

11 tahun berlalu sejak Personnes diperlihatkan di Paris, Prancis, karya tersebut masih menjadi buah bibir para pelaku seni rupa dunia, termasuk perupa di Tanah Air. Kemampuan Boltanski membuat karya yang begitu kuat dan mengakar secara konsep memunculkan kesadaran baru bagi para pencinta seni.

Dari karya Personnes yang mencengangkan panggung seni rupa kontemporer dunia, lalu muncul pertanyaan yang perlu menjadi perhatian seluruh insan seni rupa di Tanah Air. Di manakah posisi perupa Indonesia dalam pusaran seni rupa internasional? Tentu saja yang saya maksud di sini bukan forum pasar seni yang transaksional.

Sependek ingatan saya, sedikit sekali karya perupa di Tanah Air yang mampu memunculkan kesadaran intelektual pencinta seni sekaligus menerobos gelanggang seni rupa global. Nama seniman kondang seperti F.X. Harsono, Semsar Siahaan, dan beberapa lainnya masuk dalam daftar pendek itu.
Kesadaran yang dimaksud di sini adalah pemahaman manusia terhadap peristiwa masa lalu, dan masa kini yang memengaruhi kehidupan.

Memang tidak mudah mengusung karya yang menarasikan peristiwa liris sekaligus mengentak kesadaran intelektual tanpa adanya akar ideologis yang kuat. Padahal, akar ideologis tersebut, sangat bermanfaat bagi seniman untuk memilih tema, karya, medium, dan bagaimana cara mengekspresikan.

Akar ideologis itu selain ditumbuhkan juga perlu dirawat melalui proses eksperimentasi, eksplorasi karya, dan riset. Proses tersebut memang mahal dan dapat berakhir dengan kegagalan. Namun, melalui riset, seniman tidak terjebak pada tataran teori dan berkutat pada tema karya yang seragam.

Di sisi lain, pendalaman materi untuk memunculkan karya yang bermakna ternyata tidak sinkron dan bahkan tidak ada hubungan sama sekali dengan pasar. Ranah pasar seni rupa tidak mengindahkan landasan filosofis dan proses berkarya.

Pasar hanya memedulikan produktivitas seniman untuk menghasilkan karya elok, artistik, dan tema yang mudah dipahami untuk menarik perhatian kolektor. Dalam tataran ini, karya seni tak ubahnya sebagai komoditas dagang dan seniman Indonesia sangat eksis dalam forum pasar internasional. 

Fenomena ini tentu saja membuat miris di tengah arus karya rupa kontemporer dunia makin beragam. Keliaran ide karya yang diselaraskan dengan konsep kuat serta latar belakang ideologi yang mengakar dari seniman-seniman dunia kian mendapatkan tempat di hati para pencinta seni.

Sementara itu, di Indonesia jumlah seniman yang mampu mengangkat karya dengan konsep yang mengakar, sarat filosofi, dan seringkali tidak ramah pasar belum juga bertambah. Jumlah seniman yang berani untuk menjual karya yang khusus dibuat untuk menjadi koleksi museum pun tidak bertambah banyak.

Padahal, begitu banyak peristiwa besar yang yang lalu lalang di Zamrud Khatulistiwa ini. Begitu banyak kepingan peristiwa yang terserak yang perlu dirawat dan mencari medium seni yang tepat untuk disampaikan kepada anak cucu. Upaya merawat ingatan yang tentu saja tidak ramah pada pasar dan menyajikan tema dangkal yang didempul dengan keelokan karya.

Akibatnya, dunia seni rupa Indonesia dalam ranah nonpasar kian temaram dan asing, di tengah ingar bingar pasar yang dikemas dengan slogan, kredo, dan sejuta alasan yang tak jarang menyesatkan.
 

SEBELUMNYA

Popularitas Event Lari Naik, Dokter Ingatkan Risiko Fatal Tanpa Persiapan

BERIKUTNYA

Negara-Negara Teraman di Dunia yang Wajib Masuk Daftar Liburan Akhir Tahun

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga