Popularitas Event Lari Naik, Dokter Ingatkan Risiko Fatal Tanpa Persiapan
18 December 2025 |
13:35 WIB
Popularitas event lari terus meningkat. Namun, di tengah tingginya antusiasme tersebut, tak sedikit peserta yang masih mengabaikan pentingnya persiapan. Kasus meninggalnya seorang pelari dalam sebuah ajang baru-baru ini kembali menegaskan bahwa race day bukan sekadar soal datang dan berlari.
Tanpa latihan yang konsisten, istirahat cukup, dan kesiapan mental, tubuh bisa kewalahan menghadapi beban fisik yang muncul sepanjang perlombaan. Kendati demikian, tak bisa dimungkiri, saat tengah berolahraga, para pelari juga kerap dihadapkan pada dilema antara ingin menantang diri lebih jauh atau berhenti saat tubuh memberi sinyal tertentu.
Baca juga: Kiat Memenuhi Asupan Gizi Ideal untuk Pelari Maraton
Dokter Spesialis Olahraga, Maria Lestari, mengatakan tubuh manusia pada dasarnya cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan fisik. Namun, tubuh juga tetap memiliki limit. Dalam berlari, yang kerap menjadi sumber masalah bukanlah proses peningkatan latihan itu sendiri, melainkan progres yang dipaksakan terlalu cepat sehingga tidak sejalan dengan kapasitas sistem jantung dan pembuluh darah.
"Lakukanlah latihan secara bertahap. Latihan dengan intensitas tinggi sebaiknya hanya menjadi bagian kecil dari total volume latihan mingguan. Prinsip ini untuk memastikan tubuh beradaptasi dengan aman tanpa tekanan berlebihan," ungkapnya.
Untuk pelari rekreasional yang baru memulai, Maria menyarankan untuk berlatih membentuk fondasi berlari terlebih dahulu bagi tubuh. Hal itu bisa dilakukan dengan rutin berlari tiga hingga empat kali seminggu selama beberapa bulan.
Setelah itu, pelari dapat menaikkan porsi latihan secara bertahap. Misalnya, dengan menaikkan beban latihan 5-10 persen setiap minggu, baik dari sisi jarak, durasi, maupun intensitas. Sesi latihan keras juga idealnya cukup satu hingga dua kali per minggu, bukan setiap hari.
"Kemudian, jika ingin mengikuti event, pastikan memilih jarak sesuai kemampuan. Lalu, tak kalah penting lakukan Pre-participation evaluation (PPE), yakni pemeriksaan medis menyeluruh yang dilakukan sebelum atlet mulai berpartisipasi dalam olahraga," imbuhnya.
Meskipun hasil skrining dianggap sebagai langkah awal yang penting, pemeriksaan ini tidak serta-merta menghapus risiko sepenuhnya. Namun, skrining mempermudah identifikasi mereka yang membutuhkan evaluasi lebih mendalam sebelum mengikuti event jarak jauh.
Dokter juga mengimbau pelari untuk mengenali gejala yang menandakan tubuh mulai mencapai batas aman. Beberapa tanda bahaya yang harus membuat pelari segera menghentikan aktivitas dan mencari pertolongan medis antara lain nyeri dada yang menekan atau menjalar, sesak napas yang tidak proporsional, pusing hebat hingga hampir pingsan, detak jantung tidak teratur atau terlalu cepat disertai rasa tidak nyaman, serta penurunan performa mendadak seperti pace menjadi jauh lebih lambat, tetapi tetap terasa sangat berat.
Selain itu, pelari juga harus waspada terhadap gejala heat stroke atau gangguan panas. Ciri-cirinya meliputi kebingungan atau ucapan yang kacau, langkah yang tidak stabil, merinding atau kulit yang sangat panas dan kering, hingga sakit kepala berat, penglihatan kabur, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
Tanpa latihan yang konsisten, istirahat cukup, dan kesiapan mental, tubuh bisa kewalahan menghadapi beban fisik yang muncul sepanjang perlombaan. Kendati demikian, tak bisa dimungkiri, saat tengah berolahraga, para pelari juga kerap dihadapkan pada dilema antara ingin menantang diri lebih jauh atau berhenti saat tubuh memberi sinyal tertentu.
Baca juga: Kiat Memenuhi Asupan Gizi Ideal untuk Pelari Maraton
Dokter Spesialis Olahraga, Maria Lestari, mengatakan tubuh manusia pada dasarnya cukup kuat untuk menghadapi berbagai tantangan fisik. Namun, tubuh juga tetap memiliki limit. Dalam berlari, yang kerap menjadi sumber masalah bukanlah proses peningkatan latihan itu sendiri, melainkan progres yang dipaksakan terlalu cepat sehingga tidak sejalan dengan kapasitas sistem jantung dan pembuluh darah.
"Lakukanlah latihan secara bertahap. Latihan dengan intensitas tinggi sebaiknya hanya menjadi bagian kecil dari total volume latihan mingguan. Prinsip ini untuk memastikan tubuh beradaptasi dengan aman tanpa tekanan berlebihan," ungkapnya.
Untuk pelari rekreasional yang baru memulai, Maria menyarankan untuk berlatih membentuk fondasi berlari terlebih dahulu bagi tubuh. Hal itu bisa dilakukan dengan rutin berlari tiga hingga empat kali seminggu selama beberapa bulan.
Setelah itu, pelari dapat menaikkan porsi latihan secara bertahap. Misalnya, dengan menaikkan beban latihan 5-10 persen setiap minggu, baik dari sisi jarak, durasi, maupun intensitas. Sesi latihan keras juga idealnya cukup satu hingga dua kali per minggu, bukan setiap hari.
"Kemudian, jika ingin mengikuti event, pastikan memilih jarak sesuai kemampuan. Lalu, tak kalah penting lakukan Pre-participation evaluation (PPE), yakni pemeriksaan medis menyeluruh yang dilakukan sebelum atlet mulai berpartisipasi dalam olahraga," imbuhnya.
Meskipun hasil skrining dianggap sebagai langkah awal yang penting, pemeriksaan ini tidak serta-merta menghapus risiko sepenuhnya. Namun, skrining mempermudah identifikasi mereka yang membutuhkan evaluasi lebih mendalam sebelum mengikuti event jarak jauh.
Dokter juga mengimbau pelari untuk mengenali gejala yang menandakan tubuh mulai mencapai batas aman. Beberapa tanda bahaya yang harus membuat pelari segera menghentikan aktivitas dan mencari pertolongan medis antara lain nyeri dada yang menekan atau menjalar, sesak napas yang tidak proporsional, pusing hebat hingga hampir pingsan, detak jantung tidak teratur atau terlalu cepat disertai rasa tidak nyaman, serta penurunan performa mendadak seperti pace menjadi jauh lebih lambat, tetapi tetap terasa sangat berat.
Selain itu, pelari juga harus waspada terhadap gejala heat stroke atau gangguan panas. Ciri-cirinya meliputi kebingungan atau ucapan yang kacau, langkah yang tidak stabil, merinding atau kulit yang sangat panas dan kering, hingga sakit kepala berat, penglihatan kabur, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.