Perluas Akses Skrining Kanker Serviks Melalui Teknologi AI
16 December 2025 |
20:30 WIB
Kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada perempuan Indonesia. Padahal, penyakit ini termasuk kanker yang paling dapat dicegah melalui skrining dan deteksi dini.
Namun, data menunjukkan cakupan skrining nasional baru mencapai sekitar 7% pada 2023, jauh di bawah target 70 persen pada 2030 sebagaimana direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menekankan bahwa kanker serviks memiliki karakteristik khusus dibandingkan kanker lainnya. “Penyebab kanker itu hampir semuanya tidak diketahui, kecuali kanker serviks yang 90 persen disebabkan oleh virus HPV. Karena itu, jangan ragu-ragu ajak perempuan di sekeliling kita untuk melakukan skrining dengan co-testing HPV DNA dan IVA,” ujarnya.
Baca juga: Kemenkes Luncurkan Rencana Aksi Nasional Guna Eliminasi Kanker Serviks
Di layanan kesehatan primer, metode IVA masih menjadi tulang punggung skrining kanker serviks. Namun, pemeriksaan ini sangat bergantung pada pengamatan visual tenaga kesehatan, sehingga berpotensi menimbulkan perbedaan interpretasi hasil.
Di tengah kondisi tersebut, pemanfaatan teknologi digital, termasuk Artificial Intelligence (AI), mulai dilihat sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan layanan deteksi dini.
HerLens mengembangkan teknologi AI berbasis kamera smartphone untuk membantu meningkatkan akurasi dan konsistensi interpretasi IVA. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan klinis, terutama di daerah dengan keterbatasan akses terhadap dokter spesialis.
Nidya Anifa, Co-Founder HerLens, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi ditujukan untuk memperkecil kesenjangan layanan. Menurutnya, teknologi yang inklusif dapat menjembatani kesenjangan layanan antara wilayah perkotaan dan rural.
“Data dari Bojonegoro dan Bengkulu menunjukkan bahwa perempuan dan tenaga kesehatan merasa lebih percaya diri melakukan skrining ketika layanannya lebih mudah dan lebih akurat,” ujar Nidya.
Sepanjang 2025, program BrightHer telah menjangkau 391 perempuan melalui layanan skrining IVA–DoVIA berbasis AI secara gratis di wilayah Jabodetabek, Bengkulu, dan Bojonegoro. Selain itu, lebih dari 75 tenaga kesehatan, terdiri dari dokter dan bidan, mendapatkan pelatihan penggunaan teknologi AI HerLens.
Pelatihan mencakup materi klinis, praktik lapangan, serta penjaminan mutu, dengan tujuan meningkatkan kualitas layanan skrining di fasilitas kesehatan primer. Program ini juga menghasilkan modul edukasi untuk masyarakat dan tenaga kesehatan terkait kanker serviks, pencegahan, serta pemanfaatan teknologi dalam deteksi dini.
HerLens pada 2025 juga memperoleh dukungan pendanaan tahap awal dari 22 Health Venture melalui NUS School of Medicine Digital Health Accelerator, serta hibah dari program YSEALI Seeds for the Future dan Pikiran Terbaik Negeri. Dukungan ini memperkuat pengembangan teknologi, pelatihan tenaga kesehatan, serta kolaborasi dengan fasilitas kesehatan di daerah.
Dengan pendekatan berbasis teknologi, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor, program BrightHer diharapkan dapat berkontribusi pada percepatan pencapaian target eliminasi kanker serviks di Indonesia, sekaligus memperkuat sistem kesehatan perempuan secara berkelanjutan.
Baca juga: Tes HPV-DNA Mandiri, Teknologi Terkini untuk Lawan Kanker Serviks
Namun, data menunjukkan cakupan skrining nasional baru mencapai sekitar 7% pada 2023, jauh di bawah target 70 persen pada 2030 sebagaimana direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menekankan bahwa kanker serviks memiliki karakteristik khusus dibandingkan kanker lainnya. “Penyebab kanker itu hampir semuanya tidak diketahui, kecuali kanker serviks yang 90 persen disebabkan oleh virus HPV. Karena itu, jangan ragu-ragu ajak perempuan di sekeliling kita untuk melakukan skrining dengan co-testing HPV DNA dan IVA,” ujarnya.
Baca juga: Kemenkes Luncurkan Rencana Aksi Nasional Guna Eliminasi Kanker Serviks
Di layanan kesehatan primer, metode IVA masih menjadi tulang punggung skrining kanker serviks. Namun, pemeriksaan ini sangat bergantung pada pengamatan visual tenaga kesehatan, sehingga berpotensi menimbulkan perbedaan interpretasi hasil.
Di tengah kondisi tersebut, pemanfaatan teknologi digital, termasuk Artificial Intelligence (AI), mulai dilihat sebagai solusi untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan layanan deteksi dini.
HerLens mengembangkan teknologi AI berbasis kamera smartphone untuk membantu meningkatkan akurasi dan konsistensi interpretasi IVA. Teknologi ini diharapkan dapat mendukung pengambilan keputusan klinis, terutama di daerah dengan keterbatasan akses terhadap dokter spesialis.
Nidya Anifa, Co-Founder HerLens, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi ditujukan untuk memperkecil kesenjangan layanan. Menurutnya, teknologi yang inklusif dapat menjembatani kesenjangan layanan antara wilayah perkotaan dan rural.
“Data dari Bojonegoro dan Bengkulu menunjukkan bahwa perempuan dan tenaga kesehatan merasa lebih percaya diri melakukan skrining ketika layanannya lebih mudah dan lebih akurat,” ujar Nidya.
Sepanjang 2025, program BrightHer telah menjangkau 391 perempuan melalui layanan skrining IVA–DoVIA berbasis AI secara gratis di wilayah Jabodetabek, Bengkulu, dan Bojonegoro. Selain itu, lebih dari 75 tenaga kesehatan, terdiri dari dokter dan bidan, mendapatkan pelatihan penggunaan teknologi AI HerLens.
Pelatihan mencakup materi klinis, praktik lapangan, serta penjaminan mutu, dengan tujuan meningkatkan kualitas layanan skrining di fasilitas kesehatan primer. Program ini juga menghasilkan modul edukasi untuk masyarakat dan tenaga kesehatan terkait kanker serviks, pencegahan, serta pemanfaatan teknologi dalam deteksi dini.
HerLens pada 2025 juga memperoleh dukungan pendanaan tahap awal dari 22 Health Venture melalui NUS School of Medicine Digital Health Accelerator, serta hibah dari program YSEALI Seeds for the Future dan Pikiran Terbaik Negeri. Dukungan ini memperkuat pengembangan teknologi, pelatihan tenaga kesehatan, serta kolaborasi dengan fasilitas kesehatan di daerah.
Dengan pendekatan berbasis teknologi, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor, program BrightHer diharapkan dapat berkontribusi pada percepatan pencapaian target eliminasi kanker serviks di Indonesia, sekaligus memperkuat sistem kesehatan perempuan secara berkelanjutan.
Baca juga: Tes HPV-DNA Mandiri, Teknologi Terkini untuk Lawan Kanker Serviks
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.