Taklukkan Tourette’s, Lewis Capaldi Siap Kembali ke Atas Panggung
14 December 2025 |
14:30 WIB
Penyanyi asal Skotlandia, Lewis Capaldi kembali ke dunia musik usai melawan penyakitnya dan bangkit dengan cara yang jarang dilakukan musisi lain. Setelah melewati masa gelap dalam hidupnya, ia kini tampil kembali di panggung-panggung dunia, memecahkan rekor penjualan, dan menunjukkan bahwa perjuangannya membuahkan hasil luar biasa.
Pada musim panas 2023, Capaldi sempat menjadi sorotan ketika ia kesulitan menyelesaikan penampilannya di Glastonbury Festival akibat gejala Tourette’s syndrome yang kambuh. Kondisi itu membuatnya memutuskan untuk beristirahat dari dunia musik selama hampir dua tahun demi fokus pada kesehatan mentalnya.
Baca juga: Kenali Gejala Sindrom Tourette yang Diderita Penyanyi Lewis Capaldi
Keputusan tersebut bukan langkah mudah, tetapi menjadi titik balik yang akhirnya mengantarnya pada comeback paling emosional dalam kariernya: penampilan kemenangan di Glastonbury tahun ini. Tak berhenti di situ, bulan lalu Capaldi merilis EP berjudul Survive, lanjutan dari album 2023-nya Broken By Desire To Be Heavenly Sent.
Album tersebut sempat bertahan di puncak tangga musik Inggris selama tiga minggu dan melahirkan tiga lagu hits “Pointless,” “Wish You The Best,” dan “Forget Me.” EP terbaru itu menandai babak baru dalam perjalanan musiknya yang lebih matang, lebih jujur, dan penuh rasa syukur.
Kini, Capaldi tengah menjalani tur di Australia yang seluruh tiketnya terjual habis. Tur yang diproduksi oleh Live Nation ini akan berakhir pada Rabu, 17 Desember 2025 di RAC Arena Perth. Di tengah jadwal padatnya, Capaldi menyempatkan diri hadir di acara radio Carrie & Tommy di The Hit Network untuk berbagi cerita secara terbuka tentang proses terapi, penggunaan obat, serta perubahan gaya hidup yang membantunya pulih dan menemukan kembali cintanya pada musik.
Menurutnya, penampilan kejutan di Glastonbury 2025 menjadi ujian terbesar setelah masa hiatus panjang. Capaldi mengakui bahwa ia sempat merasa gugup, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak dihantui rasa cemas seperti sebelumnya.
“Saya gugup, tapi tidak cemas. Cara saya memandang sesuatu sudah berubah. Sekarang bukan lagi ‘saya harus melakukan ini’, tapi ‘saya berkesempatan melakukan ini’. Saya bahkan melarang orang tua dan manajemen saya berada di belakang panggung karena saya tidak ingin energi cemas mereka memengaruhi saya,” ujarnya sambil tertawa. Ia menambahkan bahwa setelah tampil barulah semua orang bisa kembali dan bersantai bersama.
Melansir Billboard, Capaldi juga berbicara tentang obat aripiprazole atau Abilify yang ia gunakan untuk membantu mengatasi kecemasan dan tics akibat Tourette’s.
“Saya pergi terapi setiap minggu. Syukurnya, saya merasa jauh lebih baik sekarang. Kombinasi terapi, obat, serta usaha untuk tidak terus ‘membusuk’ di kamar atau rumah benar-benar membantu,” jelasnya. Menurutnya, perubahan kecil itu justru memberi dampak besar pada kestabilan emosinya.
Australia yang sedang memasuki musim panas juga memberinya kejutan positif. “Kami sudah berada di sini selama beberapa minggu, dan saya lebih sering keluar rumah, pergi ke pantai, menikmati suasana. Dulu saya tidak akan melakukan hal itu. Biasanya saya langsung ke venue, tampil, pergi ke pub, lalu pulang dan berdiam diri. Sekarang saya lebih menyadari lingkungan sekitar,” katanya.
Sebelum hiatus, Lewis Capaldi tampak seperti mesin hit yang tak pernah berhenti. Album debutnya Divinely Uninspired to a Hellish Extent (2019) melesatkan namanya ke puncak popularitas. Album itu bertahan 10 minggu di posisi No. 1 Inggris dan menjadi album domestik terlaris pada 2019 dan 2020.
Dari album tersebut lahir lagu “Someone You Loved,” yang menjadi hits global dan memuncaki tangga lagu di Inggris dan Amerika Serikat.
Pada November 2022, Official Charts Company bahkan menobatkannya sebagai “king of streaming” setelah “Someone You Loved” melampaui “Shape Of You” milik Ed Sheeran sebagai lagu paling banyak diputar dalam sejarah Inggris. Tahun ini, Capaldi kembali menunjukkan kekuatannya di tangga musik ketika lagu “Survive” langsung debut di posisi No. 1.
Meski perjalanan yang ia lalui penuh tantangan, Capaldi merasa sangat bersyukur atas dukungan para penggemar.
“Rasanya menyenangkan melihat orang-orang menerima saya dengan begitu baik. Memang terasa aneh karena semua orang tahu urusan pribadi saya, tapi dampak positifnya jauh lebih besar. Banyak orang datang dan berkata, ‘Anak saya punya Tourette’s,’ atau ‘Saya punya masalah kecemasan juga’. Mendengar hal seperti itu sangat berarti bagi saya. Saya merasa beruntung bisa berada di posisi ini dan bisa berbagi pengalaman.”
Perjalanan kembalinya Lewis Capaldi bukan hanya soal musik, tetapi tentang keberanian menghadapi diri sendiri. Kisahnya menunjukkan bahwa dalam dunia hiburan yang penuh tekanan, kejujuran dan kerentanan justru dapat menjadi kekuatan terbesar seorang seniman.
Dan kini, Capaldi berdiri kembali di puncak, lebih kuat, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi panggung mana pun yang menantinya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pada musim panas 2023, Capaldi sempat menjadi sorotan ketika ia kesulitan menyelesaikan penampilannya di Glastonbury Festival akibat gejala Tourette’s syndrome yang kambuh. Kondisi itu membuatnya memutuskan untuk beristirahat dari dunia musik selama hampir dua tahun demi fokus pada kesehatan mentalnya.
Baca juga: Kenali Gejala Sindrom Tourette yang Diderita Penyanyi Lewis Capaldi
Keputusan tersebut bukan langkah mudah, tetapi menjadi titik balik yang akhirnya mengantarnya pada comeback paling emosional dalam kariernya: penampilan kemenangan di Glastonbury tahun ini. Tak berhenti di situ, bulan lalu Capaldi merilis EP berjudul Survive, lanjutan dari album 2023-nya Broken By Desire To Be Heavenly Sent.
Album tersebut sempat bertahan di puncak tangga musik Inggris selama tiga minggu dan melahirkan tiga lagu hits “Pointless,” “Wish You The Best,” dan “Forget Me.” EP terbaru itu menandai babak baru dalam perjalanan musiknya yang lebih matang, lebih jujur, dan penuh rasa syukur.
Kini, Capaldi tengah menjalani tur di Australia yang seluruh tiketnya terjual habis. Tur yang diproduksi oleh Live Nation ini akan berakhir pada Rabu, 17 Desember 2025 di RAC Arena Perth. Di tengah jadwal padatnya, Capaldi menyempatkan diri hadir di acara radio Carrie & Tommy di The Hit Network untuk berbagi cerita secara terbuka tentang proses terapi, penggunaan obat, serta perubahan gaya hidup yang membantunya pulih dan menemukan kembali cintanya pada musik.
Menurutnya, penampilan kejutan di Glastonbury 2025 menjadi ujian terbesar setelah masa hiatus panjang. Capaldi mengakui bahwa ia sempat merasa gugup, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak dihantui rasa cemas seperti sebelumnya.
“Saya gugup, tapi tidak cemas. Cara saya memandang sesuatu sudah berubah. Sekarang bukan lagi ‘saya harus melakukan ini’, tapi ‘saya berkesempatan melakukan ini’. Saya bahkan melarang orang tua dan manajemen saya berada di belakang panggung karena saya tidak ingin energi cemas mereka memengaruhi saya,” ujarnya sambil tertawa. Ia menambahkan bahwa setelah tampil barulah semua orang bisa kembali dan bersantai bersama.
Melansir Billboard, Capaldi juga berbicara tentang obat aripiprazole atau Abilify yang ia gunakan untuk membantu mengatasi kecemasan dan tics akibat Tourette’s.
“Saya pergi terapi setiap minggu. Syukurnya, saya merasa jauh lebih baik sekarang. Kombinasi terapi, obat, serta usaha untuk tidak terus ‘membusuk’ di kamar atau rumah benar-benar membantu,” jelasnya. Menurutnya, perubahan kecil itu justru memberi dampak besar pada kestabilan emosinya.
Australia yang sedang memasuki musim panas juga memberinya kejutan positif. “Kami sudah berada di sini selama beberapa minggu, dan saya lebih sering keluar rumah, pergi ke pantai, menikmati suasana. Dulu saya tidak akan melakukan hal itu. Biasanya saya langsung ke venue, tampil, pergi ke pub, lalu pulang dan berdiam diri. Sekarang saya lebih menyadari lingkungan sekitar,” katanya.
Sebelum hiatus, Lewis Capaldi tampak seperti mesin hit yang tak pernah berhenti. Album debutnya Divinely Uninspired to a Hellish Extent (2019) melesatkan namanya ke puncak popularitas. Album itu bertahan 10 minggu di posisi No. 1 Inggris dan menjadi album domestik terlaris pada 2019 dan 2020.
Dari album tersebut lahir lagu “Someone You Loved,” yang menjadi hits global dan memuncaki tangga lagu di Inggris dan Amerika Serikat.
Pada November 2022, Official Charts Company bahkan menobatkannya sebagai “king of streaming” setelah “Someone You Loved” melampaui “Shape Of You” milik Ed Sheeran sebagai lagu paling banyak diputar dalam sejarah Inggris. Tahun ini, Capaldi kembali menunjukkan kekuatannya di tangga musik ketika lagu “Survive” langsung debut di posisi No. 1.
Meski perjalanan yang ia lalui penuh tantangan, Capaldi merasa sangat bersyukur atas dukungan para penggemar.
“Rasanya menyenangkan melihat orang-orang menerima saya dengan begitu baik. Memang terasa aneh karena semua orang tahu urusan pribadi saya, tapi dampak positifnya jauh lebih besar. Banyak orang datang dan berkata, ‘Anak saya punya Tourette’s,’ atau ‘Saya punya masalah kecemasan juga’. Mendengar hal seperti itu sangat berarti bagi saya. Saya merasa beruntung bisa berada di posisi ini dan bisa berbagi pengalaman.”
Perjalanan kembalinya Lewis Capaldi bukan hanya soal musik, tetapi tentang keberanian menghadapi diri sendiri. Kisahnya menunjukkan bahwa dalam dunia hiburan yang penuh tekanan, kejujuran dan kerentanan justru dapat menjadi kekuatan terbesar seorang seniman.
Dan kini, Capaldi berdiri kembali di puncak, lebih kuat, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi panggung mana pun yang menantinya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.