Ilustrasi Sindrom Tourette (Sumber Foto: Freepik)

Kenali Gejala Sindrom Tourette yang Diderita Penyanyi Lewis Capaldi

26 May 2025   |   18:12 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Beberapa waktu lalu, penyanyi Lewis Capaldi mengungkapkan bahwa dia didiagnosis menderita sindrom tourette. Kondisi ini rupanya sempat memengaruhi penampilannya di atas panggung hingga menimbulkan simpati dari para penggemarnya.

Saat konser di Jerman, Februari 2023, sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan Lewis beberapa kali menunjukkan gejala sindrom tourette berupa menggerakan kepala secara tidak terkendali saat menyanyikan lagu "Someone You Loved". Akibatnya, pelantun Someone You Loved itu kesulitan untuk menyanyikan lagunya.

Baca juga: Mengenal Sindrom Metabolik, Penyebab Banyak Penyakit Kronis

Sindrom Tourette adalah gangguan neurologis yang menyebabkan penderitanya melakukan gerakan atau suara berulang yang tidak dapat dikendalikan atau dikenal sebagai "tics". Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), tics adalah gerakan atau suara tiba-tiba yang dilakukan berulang kali, dan orang yang mengalaminya tidak dapat menghentikan tubuh mereka dari melakukan hal tersebut.

Gejala tics dapat bervariasi dari ringan hingga berat dan dapat berubah seiring waktu. Beberapa individu mungkin mengalami tics yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidak memerlukan pengobatan.

Namun, jika tics menyebabkan rasa sakit, cedera, atau mengganggu kehidupan sosial dan pekerjaan, pengobatan seperti terapi perilaku atau obat-obatan dapat membantu mengelola gejala tersebut.

Gejala utama sindrom tourette adalah tics, yang terbagi menjadi dua kategori. Pertama, tics motorik yaitu gerakan tubuh yang tiba-tiba dan berulang, seperti berkedip, mengangkat bahu, atau gerakan kepala. Kedua, tics vokal ditandai dengan suara yang tidak disengaja, seperti menggerutu, batuk, atau mengucapkan kata-kata tertentu secara tiba-tiba.

Sindrom Tourette biasanya dimulai senjak masa kanak-kanak, antara usia 2 hingga 15 tahun, dengan rata-rata sekitar usia 6 tahun. Laki-laki memiliki kemungkinan tiga hingga empat kali lebih besar untuk mengembangkan sindrom ini dibandingkan dengan perempuan.

Penyebab pasti sindrom Tourette belum sepenuhnya dipahami, namun beberapa faktor yang diduga berperan meliputi:
  • Faktor Genetik: Sindrom Tourette sering kali diturunkan dalam keluarga, menunjukkan adanya komponen genetik dalam perkembangannya.
  • Perubahan Neurologis: Sejumlah penelitian menunjukkan adanya perubahan pada sel-sel otak yang dapat memengaruhi fungsi saraf, meskipun mekanisme biologisnya masih belum sepenuhnya jelas
  • Faktor Lingkungan: Beberapa faktor lingkungan selama kehamilan atau masa awal kehidupan, seperti komplikasi saat lahir, infeksi, atau paparan zat tertentu, mungkin meningkatkan risiko berkembangnya sindrom ini.

Penting untuk dicatat bahwa sindrom Tourette sering kali terjadi bersamaan dengan kondisi lain seperti Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) dan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh oleh profesional kesehatan sangat penting untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.
 

Penanganana Sindrom Tourette

Tidak ada obat untuk sindrom Tourette. Namun, pengobatan bertujuan untuk mengendalikan tics yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan fungsi individu. Meskipun tidak ada obat, kondisi ini biasanya membaik seiring waktu.

Sebagian besar anak-anak dengan sindrom Tourette mengalami perbaikan gejala saat dewasa. Studi menunjukkan bahwa sekitar 80 persen anak-anak dengan Tourette mengalami pengurangan keparahan tics saat dewasa, dan beberapa bahkan mengalami remisi total.

Baca juga: Waspada Sindrom Lynch & Kenali Faktor Pemicu Kanker Kolorektal

Meskipun tidak ada obatnya, berbagai pendekatan berikut ini dapat membantu mengelola gejalanya.
  • Terapi Perilaku: CBIT (Comprehensive Behavioral Intervention for Tics) adalah terapi perilaku yang efektif untuk mengurangi frekuensi dan intensitas tics. Tourette Association of America
  • Obat-obatan: Dalam kasus tics yang parah, obat-obatan seperti antipsikotik (misalnya haloperidol dan pimozide) dapat digunakan untuk mengendalikan gejala.
  • Stimulasi Otak Dalam (Deep Brain Stimulation - DBS): Untuk kasus yang sangat parah dan tidak responsif terhadap terapi lain, DBS dapat menjadi pilihan. Prosedur ini masih dalam tahap penelitian dan biasanya dipertimbangkan hanya setelah terapi lain tidak berhasil.
  • Relaksasi dan manajemen stres: Teknik seperti meditasi, yoga, dan latihan pernapasan dapat membantu mengurangi stres yang dapat memperburuk tics.

SEBELUMNYA

Sinopsis Nine Puzzles, Drama Kim Da-mi dan Son Suk-ku yang Lagi Booming

BERIKUTNYA

Dari Arsip ke Adegan, Hanung Bramantyo Ungkap Proses Kreatif Film Gowok

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga