Gitaris Marjinal Mike, penulis Chris Wibisana, aktris Happy Salma dalam diskui bertajuk Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia yang digelar di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Minggu (30/11/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Cerita Seniman Mengalirkan Kembali Suara Kemanusiaan Pramoedya Ananta Toer ke Generasi Baru

01 December 2025   |   11:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer mungkin telah tiada, tetapi gagasan-gagasannya soal kemanusiaan dan kebangsaan terus hidup hingga kini. Tak hanya lewat buku-bukunya yang masih dicetak ulang, karya-karyanya juga masih bernyawa lewat tangan-tangan para seniman yang mengalihwahanakannya ke berbagai medium.

Lewat lagu yang menggugah hingga pertunjukan yang imersif, para seniman lintas disiplin dari waktu ke waktu terus mencoba menghidupkan ulang pesan kemanusiaan yang dulu Pram suarakan lewat kata-kata ke dalam bentuk-bentuk baru. Perlahan, alih wahana ini tak hanya menjadi upaya mengingat, tetapi juga jembatan bagi generasi yang lebih muda untuk mengenal sosok sastrawan besar Indonesia ini.

Baca juga: JILF 2025 dan Relevansi Pramoedya Ananta Toer dalam Zaman Pengawasan

Aktris Happy Salma menjadi salah satu figur yang konsisten menghidupkan kembali suara dan gagasan Pramoedya Ananta Toer dalam bentuk medium baru. Melalui Titimangsa Foundation, dia menerjemahkan berbagai kisah dalam karya Pram ke dalam naskah teater, menghadirkannya dalam bentuk pementasan yang lebih relevan bagi publik masa kini.

Terbaru, dia belum lama ini menggelar pementasan teater berjudul Bunga Penutup Abad. Pertunjukan yang menjadi produksi ke-88 Titimangsa ini merupakan adaptasi dari dua buku pertama Tetralogi Buru, yaitu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Dengan alih wahana tersebut, Happy berusaha memperkenalkan kembali semangat dan nilai-nilai yang terkandung dalam karya monumental Pram.

Sebelumnya, Bunga Penutup Abad sudah pernah dipentaskan pada 2016, 2017, dan 2018. Namun, tahun ini kembali dipentaskan 29, 30, dan 31 Agustus 2025 dalam rangka menandai 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer.

"Saya mengambil spirit Pram bahwa 'Tugas terpelajar adalah membuat orang menjadi terpelajar'. Saya ingin menyentuh orang-orang yang tidak mengenal Pram, bahkan tidak tahu bukunya lewat medium pertunjukan ini," ungkapnya dalam diskui bertajuk Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia yang digelar di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Minggu (30/11/2025).

Happy menjelaskan dalam setiap proses alih wahana, dia sengaja kerap membangun pertunjukan dengan nuansa manis, ceria, dan romantis. Pendekatan itu dipilih agar penonton dapat terlebih dulu terhubung lewat emosi. Ketika mereka sudah tersentuh, barulah dimunculkan berbagai gagasan atau nilai-nilai yang juga ada di dalam karya-karyanya Pram.

Baginya, setiap gagasan Pramoedya memiliki inti penting yang perlu diambil dan diteruskan. Oleh karena itu, meski ditampilkan dalam bentuk baru, dirinya tak ingin karyanya justru kehilangan ruhnya. Kesetiaan pada buku menjadi prinsip yang selalu dia pegang dalam setiap adaptasi.

Namun, dia mengakui bahwa bentuk pertunjukan memiliki keterbatasan waktu, sehingga pemilahan bagian-bagian penting tak bisa dihindari. Selain itu, proses alih wahana juga menuntut kemampuan menyeimbangkan unsur hiburan dan edukasi agar pesan Pram tetap tersampaikan tanpa mengurangi daya tarik pementasan.

Kesulitan tersebut makin terasa ketika dirinya berusaha merangkul dua jenis penonton sekaligus. Dalam artian, mereka yang belum mengenal Pramoedya biasanya berharap cerita yang disajikan lebih ringan dan menghibur, sedangkan para pembaca setia buku justru ingin melihat sosok Pram hadir dengan suara yang keras dan penuh keberanian di atas panggung.

"Jujur, pertunjukan Bunga Penutup Abad kemarin jadi salah satu yang terbaik yang pernah saya jalani. Pertunjukan berlangsung pada 28–30 Agustus, bertepatan dengan demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Energinya benar-benar berbeda," imbuhnya.
 

Gitaris Marjinal Mike, penulis  Chris Wibisana, aktris Happy Salma dalam diskui bertajuk Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia yang digelar di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Minggu (30/11/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Gitaris Marjinal Mike, penulis Chris Wibisana, aktris Happy Salma dalam diskui bertajuk Aksara Pram di Bumi Menjadi Manusia yang digelar di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Minggu (30/11/2025). (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Segendang sepenarian, gitaris Marjinal, Mike, menuturkan bahwa karya-karya Pramoedya memberinya semacam imunitas, layaknya vitamin yang mendorongnya terus berkarya. Dia bahkan telah menciptakan sejumlah lagu yang terinspirasi langsung dari buku-buku Pram maupun dari semangat yang terkandung dalam pemikirannya.

"Saya pernah mengatakan bahwa Pram adalah Datuk Punk. Enggak perlu ngomong punk, Pram sudah jadi Punk. Jangan-jangan punk-punk di luar negeri, terinspirasi dari Pram," imbuhnya.

Salah satunya adalah lagu Anak Merdeka. Mike menjelaskan bahwa lagu tersebut berangkat dari inspirasinya ketika membaca Anak Semua Bangsa. Lewat lirik yang menonjolkan pesan kebebasan, kesetaraan, dan semangat berbagi, lagu itu berusaha memantulkan tema-tema perjuangan serta keadilan sosial yang menjadi ciri khas tulisan Pram.

Selain itu, Mike juga sedang mengembangkan lagu baru berjudul Bumi Manusia (working title) yang diambil dari novel klasik Pram dengan tajuk yang sama. Meski proses kreatifnya sudah berjalan, dia menegaskan bahwa lagu ini masih akan terus disempurnakan sebelum akhirnya akan rilis.

Bagi Mike, membaca Pram berarti membaca kehidupan itu sendiri. Ia mengaku senang membiarkan pikirannya berkelana saat membaca karya-karya Pram, kemudian menuangkan semangatnya kembali lewat sebuah lagu.

Hal serupa juga dirasakan Chris Wibisana, seorang penulis dan pengamat budaya dari generasi Z. Menurutnya, tulisan Pram banyak membantunya memandang hidup dengan perspektif yang lebih jernih dan matang.

Pram merupakan salah satu tokoh pertama yang memanfaatkan surat kabar sebagai sumber primer sejarah, terutama sejak Seminar Sejarah 1957. Langkah itu sangat penting, katanya, karena menggeser fokus sejarah dari sekadar catatan resmi kolonial atau kisah para elit dan tokoh politik, menjadi narasi yang bertumpu pada kehidupan rakyat biasa. 

Dengan demikian, sejarah kembali pada suara masyarakat, bukan hanya pada mereka yang berkuasa. Sudut-sudut pandang inilah yang kemudian juga menginspirasinya dalam berkarya.

Baca juga: Pameran Jejak Langkah: Saat Seniman Mengenang Pramoedya Ananta Toer Lewat Bahasa Rupa

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Bratziez: Koleksi Bag Charm Terbaru dari Bratz yang Hits di Media Sosial

BERIKUTNYA

Menjaga Tradisi, Menembus Pasar: Batik Indra Majoe di SMEXPO 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga