Poster Bumi Manusia (dok: Falcon Pictures)

Yuk Intip Perjuangan Minke Melawan Penindasan dalam Film Bumi Manusia

16 August 2021   |   10:02 WIB
Image
Rezha Hadyan Hypeabis.id

Film Bumi Manusia kembali menjadi buah bibir di media sosial setelah ditayangkan kembali oleh salah satu stasiun televisi swasta pada Minggu (15/8/2021). Film yang dirilis pada 2019 ini untuk kedua kalinya hadir di layar kaca dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan atau HUT RI yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

Film berdurasi 181 menit ini diadaptasi dari mahakarya Pramoedya Ananta Toer, yang terinspirasi dari tokoh pers dan kebangkitan nasional, Tirto Adi Suryo. Bumi Manusia adalah buku pertama dari tetralogi buku karya Pram yang pertama kali diterbitkan oleh Hasta Mitra pada 1980.

Sebagai catatan, karya sastra ini ditulis oleh Pram saat dirinya diasingkan di Pulau Buru bersama ribuan tahanan politik lain karena dituduh sebagai komunis.

Film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini melibatkan sejumlah aktor dan aktris berbakat Tanah Air, antara lain Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh, Sha Ine Febriyanti, dan Bryan Domani. Bumi Manusia digadang-gadang sebagai film terbaik yang pernah diproduksi oleh rumah produksi Falcon Pictures.
 

Bumi Manusia merupakan film yang bercerita tentang kisah cinta Minke (Iqbaal Ramadhan), dan Annelies Mawar Eva de Jongh).

Minke merupakan anak dari bangsawan pribumi yang  bersekolah di Hogereburgerschool (HBS),Surabaya. Sementara itu, Annelies adalah anak dari Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).

Hubungan keduanya mendapatkan penolakan dari berbagai pihak, terutama keluarga dari Minke. Pasalnya, Annelies merupakan anak dari Nyai Ontosoroh yang kedudukannya dianggap rendah oleh masyarakat.

Nyai Ontosoroh adalah seorang Nyai atau istri simpanan seorang Belanda bernama Herman Mellema. Bagi orang-orang Belanda, kedudukan Nyai kerap tak ada bedanya dengan hewan peliharaan. 

Mereka hanya dianggap sebagai tempat pelampiasan nafsu oleh orang-orang Belanda yang datang ke Nusantara tanpa membawa keluarga atau pasangannya.

Penolakan makin menjadi-jadi setelah ayah Minke diangkat sebagai Bupati oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Hukum Kolonial juga tidak memungkinkan keduanya untuk menjalin hubungan lebih jauh atau berlanjut ke jenjang yang lebih serius.

Tidak hanya soal kisah cinta Minke dan Annelies, Bumi Manusia juga bercerita bagaimana upaya Minke memperjuangkan nasib pribumi yang selalu tertindas. Dia kerap memperjuangkan nasib pribumi melalui tulisan-tulisan kritisnya di surat kabar.

Semangat dari Nyai Ontosoroh memperjuangkan nasib pribumi yang akhirnya menginspirasi Minke juga patut disimak. Di sini ibu dari Annelies itu digambarkan sebagai perempuan yang kuat dan mandiri di tengah kondisi yang terpaksa dia jalani.

Dari film ini juga bisa dilihat bagaimana rasisme yang dilakukan oleh orang-orang Belanda kepada pribumi. Minke sendiri tak luput dari rasisme walaupun datang dari kalangan bangsawan.

Minke sebenarnya bukan nama asli. Dia mendapat julukan Minke dari teman-temannya di sekolah yang merupakan plesetan dari kata monkey yang berarti monyet.

Apabila kalian belum sempat menonton Bumi Manusia yang tayang di televisi Minggu (15/8/2021), kalian bisa menikmatinya di platform Netflix kapan saja. Tentunya, kalian harus membayar biaya berlangganan terlebih dahulu.


Editor: Avicenna
SEBELUMNYA

Digitalisasi Jadi Kunci Pelaku Usaha Masa Kini, Simak Contoh Suksesnya

BERIKUTNYA

Film The East: Menguak Masa Lalu Kolonial Belanda di Indonesia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: