Daud Nugraha Hidupkan Wayang dalam Versi yang Lebih Kekinian Lewat Aniwayang
22 November 2025 |
20:46 WIB
Sebagai seseorang yang mengenal wayang sejak kecil dan menyukai karakter animasi yang imut, Daud Nugraha memadukan kedua dunia tersebut dalam kreasi Aniwayang. Melalui pendekatan visual yang lebih segar dan dekat dengan generasi muda, ia berhasil menghadirkan kembali daya tarik wayang dalam format yang lebih mudah diakses.
Tidak hanya menghidupkan tradisi, Daud juga membangun model bisnis kreatif yang berkembang dari konten digital, live show, hingga lisensi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia dapat dikemas ulang menjadi produk kreatif yang relevan, kompetitif, dan berpotensi menembus pasar global.
Baca juga: Panggung Kehendak: Rumah Retak & Wayang Politik di Salihara
Menurut Daud, Aniwayang memiliki dua makna, yakni sebagai nama studio sekaligus juga medium baru yang dia ciptakan dalam format animasi. “Aniwayang mengambil inspirasi dari bayangan wayang kulit yang merupakan tradisi kebudayaan lokal tetapi dikemas dengan pendekatan modern,” tutur Daud ditemui disela-sela Jakarta IP Market 2025.
Dari pendekatan inilah lahir Desa Timun, sebuah intellectual property (IP) lokal yang mengemas nilai-nilai wayang dalam gaya yang lebih ringan, imut, dan mudah diterima generasi sekarang. Desa Timun sendiri mengambil cerita mengenai keseharian dari keluarga kanci yang imut dan hangat dengan karakter tiga anak kecil bernama Cila, Cili, dan Cilo.
Gagasan untuk menghadirkan animasi wayang dalam cerita Desa Timun, tumbuh dari kegelisahan Daud tentang bagaimana cara mendekatkan budaya kepada anak muda tanpa membuatnya terasa “berjarak”.
Wayang, menurutnya, menyimpan filosofi dan cerita yang luar biasa kaya, tetapi penyajiannya sering kali tidak lagi sejalan dengan kecepatan konsumsi visual di era digital.
“Saya ingin orang bisa menikmati budaya tanpa harus merasa harus paham semua pakemnya. Biar mereka masuk dulu lewat bentuk yang fun dan dekat dengan keseharian,” kata Daud.
Lewat Aniwayang, dia menghadirkan pengalaman visual kekinian yang menggabungkan pewayangan dengan desain karakter anak-anak yang lucu dan imut.
Setiap tokoh dalam Desa Timun dirancang dengan detail yang menampilkan unsur Nusantara, dengan tetap memiliki daya tarik global. Menurut Daud, inilah yang menjadi kunci agar IP lokal mampu bersaing di tengah dominasi industri animasi internasional.
“Kalau mau budaya kita hidup di masa depan, kita harus berani mengubah cara bertuturnya. Nilainya tetap, formatnya yang kita perbarui,” ujarnya.
Tidak berhenti pada konten digital, Aniwayang dia bangun sebagai model bisnis kreatif yang lintas medium mulai dari serial pendek, pertunjukan langsung, kolaborasi brand, hingga rencana lisensi produk turunan.
Pendekatan ini tidak hanya memperkuat ekosistem kreatifnya, tetapi juga membuka peluang komersial yang lebih luas bagi Desa Timun untuk berkembang menjadi franchise jangka panjang.
Kini, di tengah persaingan industri IP global yang semakin kompetitif, upaya kreator lokal untuk menemukan format baru menjadi semakin penting.
Untuk mendorong ekosistem kekayaan intelektual (IP) khususnya di Jakarta sekaligus menegaskan posisi Jakarya sebagai pusat IP yang strategis di Asia Tenggara, Jakarta IP Market (JIPM) 2025 hadir dengan menampilkan puluhan pemilik IP lokal maupun internasional, brand global, hingga investor yang melihat kota ini sebagai hub pertemuan, kolaborasi, dan ekspansi bisnis IP.
Mochtar Sarman, Chairman Jakarta IP Market 2025 mengatakan bahwa potensi kreator dan brand lokal semakin diakui, dan Jakarta siap mengambil peran sebagai pusat pertemuan, kolaborasi, dan perdagangan IP di Asia Tenggara.
Tahun ini, Jakarta IP Market mencatat kehadiran 1.138 peserta yang terdiri dari brand, agensi, manufaktur, media, hingga pusat perbelanjaan. Angka tersebut memperlihatkan tingginya minat terhadap pasar lisensi Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa Jakarta semakin solid sebagai pemain utama dalam lanskap perdagangan IP global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tidak hanya menghidupkan tradisi, Daud juga membangun model bisnis kreatif yang berkembang dari konten digital, live show, hingga lisensi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia dapat dikemas ulang menjadi produk kreatif yang relevan, kompetitif, dan berpotensi menembus pasar global.
Baca juga: Panggung Kehendak: Rumah Retak & Wayang Politik di Salihara
Menurut Daud, Aniwayang memiliki dua makna, yakni sebagai nama studio sekaligus juga medium baru yang dia ciptakan dalam format animasi. “Aniwayang mengambil inspirasi dari bayangan wayang kulit yang merupakan tradisi kebudayaan lokal tetapi dikemas dengan pendekatan modern,” tutur Daud ditemui disela-sela Jakarta IP Market 2025.
Dari pendekatan inilah lahir Desa Timun, sebuah intellectual property (IP) lokal yang mengemas nilai-nilai wayang dalam gaya yang lebih ringan, imut, dan mudah diterima generasi sekarang. Desa Timun sendiri mengambil cerita mengenai keseharian dari keluarga kanci yang imut dan hangat dengan karakter tiga anak kecil bernama Cila, Cili, dan Cilo.
Gagasan untuk menghadirkan animasi wayang dalam cerita Desa Timun, tumbuh dari kegelisahan Daud tentang bagaimana cara mendekatkan budaya kepada anak muda tanpa membuatnya terasa “berjarak”.
Wayang, menurutnya, menyimpan filosofi dan cerita yang luar biasa kaya, tetapi penyajiannya sering kali tidak lagi sejalan dengan kecepatan konsumsi visual di era digital.
“Saya ingin orang bisa menikmati budaya tanpa harus merasa harus paham semua pakemnya. Biar mereka masuk dulu lewat bentuk yang fun dan dekat dengan keseharian,” kata Daud.
Lewat Aniwayang, dia menghadirkan pengalaman visual kekinian yang menggabungkan pewayangan dengan desain karakter anak-anak yang lucu dan imut.
Setiap tokoh dalam Desa Timun dirancang dengan detail yang menampilkan unsur Nusantara, dengan tetap memiliki daya tarik global. Menurut Daud, inilah yang menjadi kunci agar IP lokal mampu bersaing di tengah dominasi industri animasi internasional.
“Kalau mau budaya kita hidup di masa depan, kita harus berani mengubah cara bertuturnya. Nilainya tetap, formatnya yang kita perbarui,” ujarnya.
Tidak berhenti pada konten digital, Aniwayang dia bangun sebagai model bisnis kreatif yang lintas medium mulai dari serial pendek, pertunjukan langsung, kolaborasi brand, hingga rencana lisensi produk turunan.
Pendekatan ini tidak hanya memperkuat ekosistem kreatifnya, tetapi juga membuka peluang komersial yang lebih luas bagi Desa Timun untuk berkembang menjadi franchise jangka panjang.
Kini, di tengah persaingan industri IP global yang semakin kompetitif, upaya kreator lokal untuk menemukan format baru menjadi semakin penting.
Untuk mendorong ekosistem kekayaan intelektual (IP) khususnya di Jakarta sekaligus menegaskan posisi Jakarya sebagai pusat IP yang strategis di Asia Tenggara, Jakarta IP Market (JIPM) 2025 hadir dengan menampilkan puluhan pemilik IP lokal maupun internasional, brand global, hingga investor yang melihat kota ini sebagai hub pertemuan, kolaborasi, dan ekspansi bisnis IP.
Mochtar Sarman, Chairman Jakarta IP Market 2025 mengatakan bahwa potensi kreator dan brand lokal semakin diakui, dan Jakarta siap mengambil peran sebagai pusat pertemuan, kolaborasi, dan perdagangan IP di Asia Tenggara.
Tahun ini, Jakarta IP Market mencatat kehadiran 1.138 peserta yang terdiri dari brand, agensi, manufaktur, media, hingga pusat perbelanjaan. Angka tersebut memperlihatkan tingginya minat terhadap pasar lisensi Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa Jakarta semakin solid sebagai pemain utama dalam lanskap perdagangan IP global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.