Panggung Kehendak: Rumah Retak & Wayang Politik di Salihara
14 July 2025 |
21:30 WIB
Sebuah rumah reyot berdiri angkuh di tengah Galeri Salihara. Atap sirapnya miring, dindingnya rapuh, dan sulur gulma merambat liar di sela genteng yang hampir ambruk. Di sudut ruangan, televisi tua tetap menyala—memutar wayang kulit dengan suara bising, seolah menghidupi sisa-sisa ingatan di dalam rumah bobrok ini.
Tepat di luar pintu, langit-langit remang dipenuhi siluet wayang karton berbentuk bulan purnama. Cahayanya jatuh di genteng retak, menyorot figur-figur wayang kulit yang berdiri di atas rangka baja yang menembus sela bangunan.
Bukan sekadar instalasi dekoratif, rumah berukuran asli ini adalah pusat narasi pameran Staging Desire (Panggung Kehendak), kolaborasi dua seniman lintas generasi: Imam Sucahyo dan Nindityo Adipurnomo. Pameran ini masih bisa dinikmati publik hingga 27 Juli 2025 di Galeri Salihara.
Baca juga: Riak Laut Kei Imazu: Saat Mitos, Sejarah & Ekologi Berpadu dalam Seni Rupa
Kendati miring dan reyot, rumah itu bukan sekadar properti seni. Imam menemukannya di area persawahan Tuban, Jawa Timur—sebuah rumah tua yang ditinggalkan, tetapi justru membangkitkan tafsir baru. Bagi Imam, rumah ini membuka pintu kenangan masa kecil.
“Bagi saya, rumah adalah pelindung jiwa. Kalau rumahnya rusak, tinggal energinya yang tersisa—berhamburan, membentuk makna baru,” tutur Imam. Kini, rumah itu berdiri di galeri, kehilangan fungsi perlindungannya, tapi memantik tafsir yang tak pernah selesai.
Tak jauh dari rumah kayu tersebut, rangkaian instalasi milik Nindityo Adipurnomo menunggu untuk dibaca publik. Salah satunya Adik Ipar Bapak yang berdiri di atas tumpukan batu sedimen. Terbuat dari rotan pitrit, kayu jati, kulit kerbau, hingga tutup galon air, figur itu menjelma sosok hibrida dengan tubuh yang terdeformasi.
Simbol dan gestur di dalamnya berubah menjadi kritik halus, menyorot tabrakan kepentingan politik, dominasi dinasti, dan warisan simbolik yang membelit masyarakat. Lihat saja judul-judul karyanya: Anak Lelaki Pertama (2024), Penjilat Lantai Istana (2024), sampai seri Iki Dudu Buto Gemoy #1, #2, #3 (2025).
Pada karya Bapak Dikelilingi Para Penjilat, misal, seekor kadal besar bersisik tampak membawa kadal-kadal kecil di kepalanya—sebuah metafora gamblang tentang lingkaran kuasa.Lewat karya ini, Nindityo tak segan memeriksa ulang simbol budaya yang sering didewakan.
Dia menyoroti kegelisahan pribadinya atas dinamika politik Indonesia pasca-Pemilu 2024 yang masih dihantui bayang-bayang dinasti. “Kegelisahan adalah tanda bahwa ada kehendak untuk berbuat sesuatu. Dalam seni, kegelisahan itulah yang bikin saya terus bertanya, tidak berhenti pada satu tafsir,” katanya.
Staging Desire mengajak penonton tidak sekadar menatap hasil akhir. Alih-alih masuk dari pintu depan, publik ‘dipaksa’ masuk dari belakang panggung—menengok ‘dapur’ dua seniman yang berbeda jalur. Menurut Zarani Risjad, sang kurator, pertemuan Imam dan Nindityo adalah penjelajahan lintas praktik dan perspektif.
Dia mengungkap, benih kolaborasi ini muncul saat mereka berjumpa di Tuban pada awal 2023. Nindityo terpukau dengan cara Imam mengolah barang-barang remeh—kardus bekas, kayu lapuk—menjadi medium ekspresif. Percakapan mereka berkembang menjadi refleksi tentang identitas, inspirasi, dan kehendak.
“Buat Mas Nindit dan Imam, inspirasi bukan datang tiba-tiba. Ia lahir dari kebiasaan membongkar, membayangkan ulang, dan membaca realitas dari banyak arah,” tambah Zarani.
Lewat rumah reyot, figur wayang, patung rotan, hingga simbol kadal politik, Staging Desire mengajak publik merayakan perbedaan cara pandang. Imam yang imajinatif beradu wacana dengan Nindityo yang dekonstruktif.
Namun keduanya sama-sama bicara soal identitas, realitas sosial, degradasi nilai, hingga pertanyaan besar: siapa yang mengendalikan ‘rumah’ kita hari ini?
Fragmen dan ironi yang berseliweran di Galeri Salihara menegaskan bahwa kehendak bukanlah jawaban final. Kehendak adalah panggung—yang harus dijaga, ditafsir, lalu dihidupi bersama-sama. Panggung itu, untuk sekarang, berdiri miring di Salihara.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tepat di luar pintu, langit-langit remang dipenuhi siluet wayang karton berbentuk bulan purnama. Cahayanya jatuh di genteng retak, menyorot figur-figur wayang kulit yang berdiri di atas rangka baja yang menembus sela bangunan.
Bukan sekadar instalasi dekoratif, rumah berukuran asli ini adalah pusat narasi pameran Staging Desire (Panggung Kehendak), kolaborasi dua seniman lintas generasi: Imam Sucahyo dan Nindityo Adipurnomo. Pameran ini masih bisa dinikmati publik hingga 27 Juli 2025 di Galeri Salihara.
Baca juga: Riak Laut Kei Imazu: Saat Mitos, Sejarah & Ekologi Berpadu dalam Seni Rupa
Kendati miring dan reyot, rumah itu bukan sekadar properti seni. Imam menemukannya di area persawahan Tuban, Jawa Timur—sebuah rumah tua yang ditinggalkan, tetapi justru membangkitkan tafsir baru. Bagi Imam, rumah ini membuka pintu kenangan masa kecil.
“Bagi saya, rumah adalah pelindung jiwa. Kalau rumahnya rusak, tinggal energinya yang tersisa—berhamburan, membentuk makna baru,” tutur Imam. Kini, rumah itu berdiri di galeri, kehilangan fungsi perlindungannya, tapi memantik tafsir yang tak pernah selesai.
Tak jauh dari rumah kayu tersebut, rangkaian instalasi milik Nindityo Adipurnomo menunggu untuk dibaca publik. Salah satunya Adik Ipar Bapak yang berdiri di atas tumpukan batu sedimen. Terbuat dari rotan pitrit, kayu jati, kulit kerbau, hingga tutup galon air, figur itu menjelma sosok hibrida dengan tubuh yang terdeformasi.

Pengunjung melihat karya dalam pameran Staging Desires di Galeri Salihara, Jumat (20/6/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny kusumawardhani)
Simbol dan gestur di dalamnya berubah menjadi kritik halus, menyorot tabrakan kepentingan politik, dominasi dinasti, dan warisan simbolik yang membelit masyarakat. Lihat saja judul-judul karyanya: Anak Lelaki Pertama (2024), Penjilat Lantai Istana (2024), sampai seri Iki Dudu Buto Gemoy #1, #2, #3 (2025).
Pada karya Bapak Dikelilingi Para Penjilat, misal, seekor kadal besar bersisik tampak membawa kadal-kadal kecil di kepalanya—sebuah metafora gamblang tentang lingkaran kuasa.Lewat karya ini, Nindityo tak segan memeriksa ulang simbol budaya yang sering didewakan.
Dia menyoroti kegelisahan pribadinya atas dinamika politik Indonesia pasca-Pemilu 2024 yang masih dihantui bayang-bayang dinasti. “Kegelisahan adalah tanda bahwa ada kehendak untuk berbuat sesuatu. Dalam seni, kegelisahan itulah yang bikin saya terus bertanya, tidak berhenti pada satu tafsir,” katanya.
Staging Desire mengajak penonton tidak sekadar menatap hasil akhir. Alih-alih masuk dari pintu depan, publik ‘dipaksa’ masuk dari belakang panggung—menengok ‘dapur’ dua seniman yang berbeda jalur. Menurut Zarani Risjad, sang kurator, pertemuan Imam dan Nindityo adalah penjelajahan lintas praktik dan perspektif.
Dia mengungkap, benih kolaborasi ini muncul saat mereka berjumpa di Tuban pada awal 2023. Nindityo terpukau dengan cara Imam mengolah barang-barang remeh—kardus bekas, kayu lapuk—menjadi medium ekspresif. Percakapan mereka berkembang menjadi refleksi tentang identitas, inspirasi, dan kehendak.
“Buat Mas Nindit dan Imam, inspirasi bukan datang tiba-tiba. Ia lahir dari kebiasaan membongkar, membayangkan ulang, dan membaca realitas dari banyak arah,” tambah Zarani.
Lewat rumah reyot, figur wayang, patung rotan, hingga simbol kadal politik, Staging Desire mengajak publik merayakan perbedaan cara pandang. Imam yang imajinatif beradu wacana dengan Nindityo yang dekonstruktif.
Namun keduanya sama-sama bicara soal identitas, realitas sosial, degradasi nilai, hingga pertanyaan besar: siapa yang mengendalikan ‘rumah’ kita hari ini?
Fragmen dan ironi yang berseliweran di Galeri Salihara menegaskan bahwa kehendak bukanlah jawaban final. Kehendak adalah panggung—yang harus dijaga, ditafsir, lalu dihidupi bersama-sama. Panggung itu, untuk sekarang, berdiri miring di Salihara.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.