7 Cara Berperan Aktif Mencegah Aksi Bullying Menurut Psikolog
20 November 2025 |
16:00 WIB
Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mendeteksi dan mencegah aksi perundungan alias bullying. Masyarakat bisa membentuk Satgas Anti Perundungan di lingkungannya, mulai dari tingkat RT/RW, sekolah, hingga komunitas yang lebih luas, termasuk di ranah media sosial.
Winny Suryania, Psikolog Klinis dan Konselor Anak di Sekolah Cikal Amri Setu Jakarta Timur, memaparkan bahwa siapapun bisa menjadi bagian dari Satgas Anti Bullying. Langkah awalnya dimulai dengan melakukan refleksi diri agar memahami dengan jelas peran, tujuan, dan tanggung jawab yang diemban.
Baca juga: Dampak Bullying terhadap Kesehatan Mental Remaja dan Cara Mengatasinya
Supaya menjadi pribadi yang sigap, peduli, dan aktif dalam mencegah tindakan perundungan, simak beberapa langkah berikut ini.
Psikolog Winny menekankan bahwa sebelum seseorang berupaya membantu orang lain atau mencegah terjadinya perundungan, hal yang paling penting adalah menjadi pribadi yang reflektif. Dengan memahami diri sendiri terlebih dahulu, kita dapat mengenali batasan yang sehat, baik untuk diri sendiri maupun dalam berhubungan dengan orang lain. “Pahami dan hargai diri sendiri, sadari bahwa setiap orang berharga, memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing," katanya.
Apabila hal ini sudah dilakukan pada diri sendiri, katanya, besar juga kemungkinan perilaku ini bisa dilakukan pada orang lain. Dengan begitu setiap individu bisa menetapkan batasan untuk dirinya sendiri dan menghormati batasan orang lain.
Bekali diri sendiri dengan pengetahuan yang memadai tentang bullying. Bisa dimulai dengan memahami penyebab dan dampaknya, serta pengaruhnya terhadap kondisi sosial-emosional.
Selanjutnya cara memberikan pendampingan yang tepat kepada korban, hingga jenis hukuman atau konsekuensi yang dapat diberikan kepada pelaku sebagai efek jera. “Pelajari lebih banyak tentang Bullying, cari informasi mengenai perilaku tersebut, pahami jangka pendek dan panjang bagi korban dan pelaku,” ujarnya.
Langkah ketiga yang dapat dilakukan adalah menjaga konsistensi dan tetap tegas menolak perundungan. Bila terjadi, maka tegur dengan tegas dan laporkan tanpa terprovokasi. “Gunakan kata-kata tegas tanpa provokasi seperti 'saya tidak setuju dengan perilaku (sebutkan secara spesifik),“ ujarnya.
Bangun dukungan sosial bersama orang-orang di lingkungan sekitar yang memiliki visi dan misi serupa, yaitu sama-sama menolak dan menentang segala bentuk perundungan. Dengan bergerak bersama, upaya pencegahan akan menjadi lebih kuat dan berdampak.“Bangun dukungan sosial untuk berkolaborasi dalam mencegah dan melawan tindakan bullying mulai dari lingkungan terdekat,” tambahnya.
Manfaatkan media sosial secara bijak sebagai sarana inforasi. Namun, ingat untuk berhati-hati dengan tidak menyebarkan konten negatif atau berita yang tidak valid. “Manfaatkan media sosial dengan bijak, tidak ikut menyebarkan konten negatif atau provokasi, atau menyebarkan berita tanpa fakta yang valid. “ ujarnya.
Tentunya tak untuk menciptakan lingkungan bebas perundungan jika harus berjalan sendirian tanpa dukungan. Karena itu, Psikolog Winny menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental, mulai dari mengelola emosi agar tetap stabil hingga membatasi diri dari berbagai hal yang dapat membawa dampak negatif.
“Jaga kesehatan mental diri sendiri, luangkan waktu untuk menjaga agar emosi tetap stabil dan balance. Cari tahu hal-hal yang mengganggu diri sendiri dan tidak memaksakan diri untuk terpapar dengan hal yang negatif atau merugikan diri sendiri,“ ucapnya.
Ketika seseorang mengambil peran sebagai individu yang tanggap dan siap bergerak dalam upaya pencegahan maupun penanganan perundungan, kemampuan menghadapi konflik dengan cara yang sehat menjadi kunci penting.
Ini berarti bahwa setiap situasi sulit baik antara korban dan pelaku, saksi, maupun pihak lain yang terlibat, tidak harus dilihat sebagai pertentangan yang harus dimenangkan. Akan tetapi sebagai masalah yang perlu dipahami dan diselesaikan.
Winny Suryania, Psikolog Klinis dan Konselor Anak di Sekolah Cikal Amri Setu Jakarta Timur, memaparkan bahwa siapapun bisa menjadi bagian dari Satgas Anti Bullying. Langkah awalnya dimulai dengan melakukan refleksi diri agar memahami dengan jelas peran, tujuan, dan tanggung jawab yang diemban.
Baca juga: Dampak Bullying terhadap Kesehatan Mental Remaja dan Cara Mengatasinya
Supaya menjadi pribadi yang sigap, peduli, dan aktif dalam mencegah tindakan perundungan, simak beberapa langkah berikut ini.
1. Pahami dan Hargai Diri Sendiri Sebelum Orang Lain
Psikolog Winny menekankan bahwa sebelum seseorang berupaya membantu orang lain atau mencegah terjadinya perundungan, hal yang paling penting adalah menjadi pribadi yang reflektif. Dengan memahami diri sendiri terlebih dahulu, kita dapat mengenali batasan yang sehat, baik untuk diri sendiri maupun dalam berhubungan dengan orang lain. “Pahami dan hargai diri sendiri, sadari bahwa setiap orang berharga, memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing," katanya.Apabila hal ini sudah dilakukan pada diri sendiri, katanya, besar juga kemungkinan perilaku ini bisa dilakukan pada orang lain. Dengan begitu setiap individu bisa menetapkan batasan untuk dirinya sendiri dan menghormati batasan orang lain.
2. Edukasi Diri tentang Perundungan
Bekali diri sendiri dengan pengetahuan yang memadai tentang bullying. Bisa dimulai dengan memahami penyebab dan dampaknya, serta pengaruhnya terhadap kondisi sosial-emosional.Selanjutnya cara memberikan pendampingan yang tepat kepada korban, hingga jenis hukuman atau konsekuensi yang dapat diberikan kepada pelaku sebagai efek jera. “Pelajari lebih banyak tentang Bullying, cari informasi mengenai perilaku tersebut, pahami jangka pendek dan panjang bagi korban dan pelaku,” ujarnya.
3. Konsisten Menolak Perundungan
Langkah ketiga yang dapat dilakukan adalah menjaga konsistensi dan tetap tegas menolak perundungan. Bila terjadi, maka tegur dengan tegas dan laporkan tanpa terprovokasi. “Gunakan kata-kata tegas tanpa provokasi seperti 'saya tidak setuju dengan perilaku (sebutkan secara spesifik),“ ujarnya.
4. Bangun Dukungan Sosial di Lingkungan Terdekat
Bangun dukungan sosial bersama orang-orang di lingkungan sekitar yang memiliki visi dan misi serupa, yaitu sama-sama menolak dan menentang segala bentuk perundungan. Dengan bergerak bersama, upaya pencegahan akan menjadi lebih kuat dan berdampak.“Bangun dukungan sosial untuk berkolaborasi dalam mencegah dan melawan tindakan bullying mulai dari lingkungan terdekat,” tambahnya.
5. Manfaatkan Media Sosial dengan Bijak
Manfaatkan media sosial secara bijak sebagai sarana inforasi. Namun, ingat untuk berhati-hati dengan tidak menyebarkan konten negatif atau berita yang tidak valid. “Manfaatkan media sosial dengan bijak, tidak ikut menyebarkan konten negatif atau provokasi, atau menyebarkan berita tanpa fakta yang valid. “ ujarnya.
6. Membangun Batasan Diri
Tentunya tak untuk menciptakan lingkungan bebas perundungan jika harus berjalan sendirian tanpa dukungan. Karena itu, Psikolog Winny menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental, mulai dari mengelola emosi agar tetap stabil hingga membatasi diri dari berbagai hal yang dapat membawa dampak negatif.“Jaga kesehatan mental diri sendiri, luangkan waktu untuk menjaga agar emosi tetap stabil dan balance. Cari tahu hal-hal yang mengganggu diri sendiri dan tidak memaksakan diri untuk terpapar dengan hal yang negatif atau merugikan diri sendiri,“ ucapnya.
7. Belajar Mengelola Konflik dengan Sehat
Ketika seseorang mengambil peran sebagai individu yang tanggap dan siap bergerak dalam upaya pencegahan maupun penanganan perundungan, kemampuan menghadapi konflik dengan cara yang sehat menjadi kunci penting. Ini berarti bahwa setiap situasi sulit baik antara korban dan pelaku, saksi, maupun pihak lain yang terlibat, tidak harus dilihat sebagai pertentangan yang harus dimenangkan. Akan tetapi sebagai masalah yang perlu dipahami dan diselesaikan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.