GoodVibes Botanical Kenalkan Wangi Bunga khas Indonesia dalam Aromaterapi
16 November 2025 |
20:16 WIB
Industri aromaterapi dan wellness lokal makin kreatif mengenalkan kekayaan aroma khas Nusantara. Karakter wewangian dari rempah-rempah, kayu-kayuan tropis, bunga-bunga asli daerah, hingga ramuan herbal tradisional mulai banyak dikembangkan sebagai signature scent.
Gina Priadini, Founder dan Business Development Goodvibes Botanical mengungkapkan bagaimana perjalanannya menemukan aroma bunga kantil alias Magnolia yang menurutnya sangat mencerminkan karakter Indonesia.
Baca juga: Cerita Sabrina Anggraini Founder Maison Garnet, Meracik Parfum dengan Aroma Unik
Kantil yang nama ilmiahnya Magnolia × alba (D.C.) Figlar & Noot. adalah salah satu anggota suku Magnoliaceae. Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dan beberapa negara tetangganya karena kuncup bunganya sering kali dipakai dalam upacara-upacara tradisional atau ritual tertentu.
"Bunga kantil ini aromanya sangat khas Indonesia yang bernuansa lembut, anggun, tapi juga memiliki kedalaman emosional yang kuat karena sering digunakan dalam adat, pernikahan, hingga acara-acara budaya," ujar Gina.
Awal mula Gina menemukan aroma bunga kantil, yakni saat dia melewati jalanan berbunga di kawasan sekitar rumahnya. Bunga tersebut selalu berbau harum setiap subuh dan menjelang magrib. Dia pun penasaran dan mulai mencari tahu lebih banyak mengenai tanaman tersebut dan menjadikannya sebagai bahan utama produk-produk aromaterapinya.
Bunga kantil sebagai aromaterapi memberikan sejumlah manfaat menenangkan dan menghilangkan stres, meningkatkan relaksasi, meningkatkan suasana hati, dan menyegarkan indra penciuman.
Gina sendiri menyebut dirinya bukan perfumer, melainkan formulator. Perfumer, menurutnya adalah artis yang meracik aroma dengan katalog inspirasi wewangian yang luas. Sementara formulator bekerja dari sudut yang lebih teknis, membangun struktur wangi berdasarkan komponen kimianya.
Dalam proses formulasi, Gina selalu berusaha memasukkan unsur natural sebanyak mungkin, terutama essential oil. Dia tertarik dengan bagaimana alam bekerja menghasilkan ratusan molekul dalam satu bunga yang membuat aroma natural terasa kaya dan tidak cepat membosankan.
“Kalau aroma sintetis itu very direct, cepat hilang di hidung. Sementara aroma natural itu lebih kompleks, sehingga membangkitkan kesan yang lebih dalam,” katanya.
Salah satu inovasi terbesar GoodVibes adalah penggunaan Headspace Technology, teknologi yang memungkinkan penangkapan aroma alami tanpa harus menyuling atau merusak bunga. Proses ini menangkap molekul aroma yang dilepaskan tanaman, lalu mengonstruksinya menjadi formula wangi yang dapat direplikasi.
“Kita nggak menyuling karena itu tidak sustainable. Untuk menghasilkan sedikit essence saja, butuh banyak sekali bunga,” jelas Gina.
Teknologi ini juga memungkinkan mereka mempertahankan karakter aroma yang sulit diekstraksi secara konvensional. Bunga kantil, misalnya, tidak bisa disuling tanpa mengubah karakter wanginya. Kini dengan Headspace, wangi aslinya bisa dipertahankan secara akurat.
Melalui GoodVibes, Gina ingin memperkuat posisi aroma lokal dalam industri wellness dan lifestyle. Baginya aroma bukan hanya soal wangi, tetapi juga mengenai memori, budaya, dan identitas.
“Aku ingin bunga kantil jadi jasmine-nya Indonesia,” ujarnya.
Kini setelah bertahun-tahun membangun mereknya secara organik, GoodVibes mulai memperluas kehadirannya di pusat-pusat perbelanjaan besar, termasuk Pondok Indah Mall (PIM) 2 sebagai lokasi terbarunya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekspansi, sekaligus momentum perkenalan ulang jenama tersebut kepada pasar yang lebih besar.
GoodVibes dikenal lewat inovasinya yang kerap mengangkat kekayaan alam dan budaya Indonesia ke dalam produk-produk aromaterapi. Mulai dari lini pengharum ruangan (reed diffuser) yang menjadi ciri khas mereka, lalu Aroma Technology scenting service telah dipercaya berbagai toko retail seperti Atmos, Fred Perry, RiaMiranda, Chagee, on running, events, sampai lobi perkantoran dan private residence.
Baca juga: Aroma Gourmand dalam Parfum Pistachio Crush dan Tea Amor dari Scarlett
Gina Priadini, Founder dan Business Development Goodvibes Botanical mengungkapkan bagaimana perjalanannya menemukan aroma bunga kantil alias Magnolia yang menurutnya sangat mencerminkan karakter Indonesia.
Baca juga: Cerita Sabrina Anggraini Founder Maison Garnet, Meracik Parfum dengan Aroma Unik
Kantil yang nama ilmiahnya Magnolia × alba (D.C.) Figlar & Noot. adalah salah satu anggota suku Magnoliaceae. Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dan beberapa negara tetangganya karena kuncup bunganya sering kali dipakai dalam upacara-upacara tradisional atau ritual tertentu.
"Bunga kantil ini aromanya sangat khas Indonesia yang bernuansa lembut, anggun, tapi juga memiliki kedalaman emosional yang kuat karena sering digunakan dalam adat, pernikahan, hingga acara-acara budaya," ujar Gina.
Awal mula Gina menemukan aroma bunga kantil, yakni saat dia melewati jalanan berbunga di kawasan sekitar rumahnya. Bunga tersebut selalu berbau harum setiap subuh dan menjelang magrib. Dia pun penasaran dan mulai mencari tahu lebih banyak mengenai tanaman tersebut dan menjadikannya sebagai bahan utama produk-produk aromaterapinya.
Bunga kantil sebagai aromaterapi memberikan sejumlah manfaat menenangkan dan menghilangkan stres, meningkatkan relaksasi, meningkatkan suasana hati, dan menyegarkan indra penciuman.
Gina sendiri menyebut dirinya bukan perfumer, melainkan formulator. Perfumer, menurutnya adalah artis yang meracik aroma dengan katalog inspirasi wewangian yang luas. Sementara formulator bekerja dari sudut yang lebih teknis, membangun struktur wangi berdasarkan komponen kimianya.
Dalam proses formulasi, Gina selalu berusaha memasukkan unsur natural sebanyak mungkin, terutama essential oil. Dia tertarik dengan bagaimana alam bekerja menghasilkan ratusan molekul dalam satu bunga yang membuat aroma natural terasa kaya dan tidak cepat membosankan.
“Kalau aroma sintetis itu very direct, cepat hilang di hidung. Sementara aroma natural itu lebih kompleks, sehingga membangkitkan kesan yang lebih dalam,” katanya.
Salah satu inovasi terbesar GoodVibes adalah penggunaan Headspace Technology, teknologi yang memungkinkan penangkapan aroma alami tanpa harus menyuling atau merusak bunga. Proses ini menangkap molekul aroma yang dilepaskan tanaman, lalu mengonstruksinya menjadi formula wangi yang dapat direplikasi.
“Kita nggak menyuling karena itu tidak sustainable. Untuk menghasilkan sedikit essence saja, butuh banyak sekali bunga,” jelas Gina.
Teknologi ini juga memungkinkan mereka mempertahankan karakter aroma yang sulit diekstraksi secara konvensional. Bunga kantil, misalnya, tidak bisa disuling tanpa mengubah karakter wanginya. Kini dengan Headspace, wangi aslinya bisa dipertahankan secara akurat.
Melalui GoodVibes, Gina ingin memperkuat posisi aroma lokal dalam industri wellness dan lifestyle. Baginya aroma bukan hanya soal wangi, tetapi juga mengenai memori, budaya, dan identitas.
“Aku ingin bunga kantil jadi jasmine-nya Indonesia,” ujarnya.
Kini setelah bertahun-tahun membangun mereknya secara organik, GoodVibes mulai memperluas kehadirannya di pusat-pusat perbelanjaan besar, termasuk Pondok Indah Mall (PIM) 2 sebagai lokasi terbarunya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekspansi, sekaligus momentum perkenalan ulang jenama tersebut kepada pasar yang lebih besar.
GoodVibes dikenal lewat inovasinya yang kerap mengangkat kekayaan alam dan budaya Indonesia ke dalam produk-produk aromaterapi. Mulai dari lini pengharum ruangan (reed diffuser) yang menjadi ciri khas mereka, lalu Aroma Technology scenting service telah dipercaya berbagai toko retail seperti Atmos, Fred Perry, RiaMiranda, Chagee, on running, events, sampai lobi perkantoran dan private residence.
Baca juga: Aroma Gourmand dalam Parfum Pistachio Crush dan Tea Amor dari Scarlett
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.