Laboratorium Kekerasan: Diskusi JILF 2025 tentang Gaza & Pengawasan Global
15 November 2025 |
09:25 WIB
Bagaimana sebuah perang atau pendudukan terhadap negara yang sah dapat berubah menjadi ladang bisnis yang menguntungkan? Apa yang terjadi ketika metode tersebut diduplikasi di berbagai tempat untuk merepresi warga, membungkam suara mereka, dan memperluas kontrol di berbagai belahan dunia?
Serangkaian pertanyaan inilah, barangkali, yang menjadi benang merah diskusi bertajuk Palestinian Genocide and Globalized Oppression through Surveillance Technology di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025, Jumat (14/11/25).
Baca juga: JILF 2025, Festival Sastra yang Mengajak Kembali ke Tanah Air dalam Tubuh Kita
Berlangsung di Gedung Teater Sjuman Djaja, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, kolaborasi antara Jalin dan Marjin Kiri ini menghadirkan penulis dan penerjemah The Palestine Laboratory, Antony Loewenstein, dan Muhammad Haripin, dengan moderator Hilmar Farid.
Selama 90 menit, Antony Loewenstein mengurai observasinya sebagai jurnalis investigasi. Hasilnya mencengangkan, salah satunya kekosongan pemberitaan internasional mengenai peran industri senjata Israel dalam menopang pendudukan dan ekonomi politik global.
Intens melaporkan isu Israel–Palestina sebagai jurnalis independen di Tepi Barat dan Jalur Gaza, ia memaparkan bahwa Israel telah menjadikan wilayah pendudukan sebagai tempat uji coba berbagai teknologi seperti spyware, senjata militer, hingga sistem kontrol populasi.
"Apa yang terjadi di Palestina tidak pernah berhenti di sana. Ini adalah model yang sedang diekspor ke seluruh dunia," papar jurnalis berusia 51 tahun yang aktif menulis untuk The New York Times itu.
Dalam bukunya, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Laboratorium Palestina: Bisnis Senjata Israel yang Melanggengkan Neokolonialisme di Seluruh Dunia, Antony juga membedah bagaimana Israel menjadi pemasok teknologi dan dukungan bagi rezim-rezim represif, termasuk pemerintahan Soeharto.
Kendati bentuk dukungan tersebut berlangsung secara tertutup, jejaknya nyata dan penting untuk dibuka kembali dalam konteks demokrasi hari ini. Lain dari itu, apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina kelak juga dijual kepada dunia sebagai “solusi keamanan”.
Selaras, Muhammad Haripin mengungkap bahwa apa yang terjadi di Gaza bisa pula terjadi di tempat lain, termasuk Indonesia. Dari sinilah dia berharap publik dapat terus belajar sembari mengawasi bagaimana rezim otoriter menormalisasi pengawasan.
Haripin menyebut pemadaman internet di Papua sebagai salah satu contoh taktik manual kontrol populasi. Kendati pemerintah selalu menyebut alasan teknis (kabel laut putus), blackout hampir selalu terjadi saat protes atau kerusuhan.
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Internasional BRIN periode 2025–2028 itu juga mengungkap bahwa pemerintah Indonesia setidaknya telah menghabiskan kurang lebih US$2,1 juta, atau setara Rp36 miliar, untuk membeli perangkat spyware/hacking device.
"Internet blackout di Papua juga bukan kebetulan. Dia selalu muncul pada momen-momen politik yang sensitif," paparnya.
Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait kinerja belanja K/L pada semester II 2025, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menempati peringkat pertama sebagai K/L dengan anggaran terbesar pada 2025, yaitu Rp247,5 triliun.
Sementara itu, Hilmar Farid menilai diskusi ini ikut membuka pertanyaan baru, khususnya tentang bagaimana pembicaraan di masyarakat selama ini bergeser dari semata konflik politik menjadi perbincangan ekonomi politik, yakni tentang siapa sebenarnya yang diuntungkan dari industri kekerasan.
Berlangsung dari 13-16 November 2025, JILF 2025 akan diisi berbagai program yang menegaskan perjumpaan antara pengalaman manusia dan ekspresi sastra. Salah satunya lewat program Authors’ Forum yang menghadirkan 23 penulis Indonesia dari berbagai daerah, serta empat penulis internasional.
Ada pula Reading Night yang menghadirkan 11 penulis untuk membaca karya mereka dalam suasana ruang intim. Sementara itu, enam seniman turut merespons tema melalui Live Mural bertajuk Tumbuh dan Merambat yang menyiratkan gerak dan ingatan antara seni rupa dan sastra.
Selain program utama, rangkaian Fringe Events juga menawarkan peluncuran buku, diskusi isu terkini, dan ruang komunitas di Pasar Kata. Ada pula Pasar Buku yang menghadirkan penerbit independen maupun besar untuk menjangkau pembaca dari berbagai latar.
Baca juga: Palestina di Panggung JILF 2025, Konflik di Negeri Para Nabi Bukan Hanya Soal Agama
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Serangkaian pertanyaan inilah, barangkali, yang menjadi benang merah diskusi bertajuk Palestinian Genocide and Globalized Oppression through Surveillance Technology di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025, Jumat (14/11/25).
Baca juga: JILF 2025, Festival Sastra yang Mengajak Kembali ke Tanah Air dalam Tubuh Kita
Berlangsung di Gedung Teater Sjuman Djaja, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, kolaborasi antara Jalin dan Marjin Kiri ini menghadirkan penulis dan penerjemah The Palestine Laboratory, Antony Loewenstein, dan Muhammad Haripin, dengan moderator Hilmar Farid.
Selama 90 menit, Antony Loewenstein mengurai observasinya sebagai jurnalis investigasi. Hasilnya mencengangkan, salah satunya kekosongan pemberitaan internasional mengenai peran industri senjata Israel dalam menopang pendudukan dan ekonomi politik global.

Antony Loewenstein
"Apa yang terjadi di Palestina tidak pernah berhenti di sana. Ini adalah model yang sedang diekspor ke seluruh dunia," papar jurnalis berusia 51 tahun yang aktif menulis untuk The New York Times itu.
Dalam bukunya, yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Laboratorium Palestina: Bisnis Senjata Israel yang Melanggengkan Neokolonialisme di Seluruh Dunia, Antony juga membedah bagaimana Israel menjadi pemasok teknologi dan dukungan bagi rezim-rezim represif, termasuk pemerintahan Soeharto.
Kendati bentuk dukungan tersebut berlangsung secara tertutup, jejaknya nyata dan penting untuk dibuka kembali dalam konteks demokrasi hari ini. Lain dari itu, apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina kelak juga dijual kepada dunia sebagai “solusi keamanan”.
Selaras, Muhammad Haripin mengungkap bahwa apa yang terjadi di Gaza bisa pula terjadi di tempat lain, termasuk Indonesia. Dari sinilah dia berharap publik dapat terus belajar sembari mengawasi bagaimana rezim otoriter menormalisasi pengawasan.

Muhammad Haripin
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Internasional BRIN periode 2025–2028 itu juga mengungkap bahwa pemerintah Indonesia setidaknya telah menghabiskan kurang lebih US$2,1 juta, atau setara Rp36 miliar, untuk membeli perangkat spyware/hacking device.
"Internet blackout di Papua juga bukan kebetulan. Dia selalu muncul pada momen-momen politik yang sensitif," paparnya.
Berdasarkan laporan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait kinerja belanja K/L pada semester II 2025, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menempati peringkat pertama sebagai K/L dengan anggaran terbesar pada 2025, yaitu Rp247,5 triliun.
Sementara itu, Hilmar Farid menilai diskusi ini ikut membuka pertanyaan baru, khususnya tentang bagaimana pembicaraan di masyarakat selama ini bergeser dari semata konflik politik menjadi perbincangan ekonomi politik, yakni tentang siapa sebenarnya yang diuntungkan dari industri kekerasan.

Hilmar Farid
Ada pula Reading Night yang menghadirkan 11 penulis untuk membaca karya mereka dalam suasana ruang intim. Sementara itu, enam seniman turut merespons tema melalui Live Mural bertajuk Tumbuh dan Merambat yang menyiratkan gerak dan ingatan antara seni rupa dan sastra.
Selain program utama, rangkaian Fringe Events juga menawarkan peluncuran buku, diskusi isu terkini, dan ruang komunitas di Pasar Kata. Ada pula Pasar Buku yang menghadirkan penerbit independen maupun besar untuk menjangkau pembaca dari berbagai latar.
Baca juga: Palestina di Panggung JILF 2025, Konflik di Negeri Para Nabi Bukan Hanya Soal Agama
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.