Ilustrasi penjahat siber. (Sumber gambar: Freepik/DC Studio)

Ancaman Siber di Sektor Keuangan Semakin Kompleks, Kaspersky Ungkap Polanya

15 November 2025   |   14:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Sektor keuangan menghadapi ancaman siber yang cukup kompleks sepanjang 2025. Ancaman menyebar melalui banyak vektor baru, mulai dari aplikasi perpesanan, kecerdasan buatan (AI), rantai pasokan digital, hingga penipuan berbasis teknologi Near Field Communication (NFC). 

Fabio Assolini, Kepala unit Amerika & Eropa di Kaspersky GReAT, menegaskan bahwa pola ancaman di sektor keuangan kini semakin multidimensi.

“Kelompok kriminal semakin banyak menggabungkan perangkat digital, akses internal, AI, dan blockchain untuk meningkatkan skala operasi, yang memaksa organisasi untuk mengamankan tidak hanya sistem mereka tetapi juga jaringan manusia yang mendukungnya,” ujarnya, Jumat (14/11/2025).

Baca juga: Kelompok APT Kembangkan Senjata Baru, Serangan Siber Kian Sulit Terdeteksi

Dari laporan Buletin Keamanan 2025 yang diluncurkan Kaspersky, tercatat 8,15 persen pengguna sektor keuangan menghadapi ancaman online, sedangkan 15,81 persen terpapar ancaman langsung dalam perangkat mereka. 

Untuk perusahaan B2B, ancaman ransomware masih membayangi dengan 12,8 persen perusahaan di sektor ini terdampak sepanjang tahun. Deteksi ransomware terhadap pengguna unik juga melonjak 35,7 persen dibandingkan 2023, sementara serangan trojan perbankan yang teridentifikasi mencapai lebih dari 1,33 juta kasus.

Salah satu temuan paling mencolok adalah meningkatnya serangan rantai pasokan yang memanfaatkan celah dalam sistem penyedia pihak ketiga. Insiden-insiden tersebut menimbulkan dampak yang luas hingga ke jaringan pembayaran nasional, bahkan memengaruhi sistem inti. Situasi ini menunjukkan betapa rentannya lembaga keuangan terhadap kerusakan yang ditimbulkan dari luar perimeter keamanan mereka sendiri.

Kaspersky juga menemukan bahwa kejahatan terorganisir kini semakin terhubung. Penyerang memadukan teknik rekayasa sosial, manipulasi orang dalam, dan eksploitasi teknis untuk menghasilkan serangan yang lebih terkoordinasi. 

Dalam waktu yang sama, penjahat siber mulai mengalihkan distribusi malware dari email menuju aplikasi perpesanan populer. Trojan perbankan dikembangkan ulang agar dapat menyebar melalui platform komunikasi tersebut, memungkinkan distribusi yang lebih masif dan sulit dideteksi.


Gelombang Ransomware

Perkembangan teknologi AI turut memperburuk kondisi. Laporan ini menyoroti peningkatan penggunaan AI untuk mempercepat pembuatan, penyebaran, serta kemampuan malware menghindari deteksi. AI memungkinkan penyerang memperpendek waktu antara proses pengembangan dan eksekusi serangan, membuat organisasi harus bereaksi lebih cepat dari sebelumnya.

Ancaman yang menyerang perangkat mobile juga menjadi fokus dalam laporan ini. Malware Android yang menggunakan teknik Automated Transfer System (ATS) kini mampu mengotomatiskan transaksi penipuan, mengubah nominal dan tujuan transfer secara real-time tanpa diketahui pemilik perangkat.

Selain itu, serangan berbasis NFC semakin banyak terjadi, baik melalui penipuan fisik di area publik maupun skema rekayasa sosial yang memanfaatkan aplikasi palsu menyerupai layanan bank.

Di ranah Web3, infrastruktur command-and-control (C2) berbasis blockchain menunjukkan peningkatan signifikan. Penyerang menyisipkan instruksi malware ke dalam kontrak pintar sehingga sulit dihapus, sekaligus memastikan kendali tetap berada di tangan mereka meski server tradisional berhasil diputus. Teknik ini memberi tingkat ketahanan baru bagi serangan siber dan menunjukkan evolusi taktik kriminal di era aset digital.

Sementara itu, ransomware tetap menjadi momok utama di berbagai wilayah. Dari data yang dikumpulkan antara November 2024 hingga Oktober 2025, serangan ransomware tercatat menimpa 12,8 persen organisasi B2B sektor keuangan secara global, dengan prevalensi tertinggi di Afrika sebesar 12,9 persen disusul Amerika Latin 12,6 persen, serta Rusia dan CIS sebesar 9,4 persen. 

Di sisi lain, beberapa keluarga malware diprediksi akan menghilang karena operasinya sangat bergantung pada kelompok kriminal tertentu yang kini mulai melemah atau berubah strategi.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Taylor Swift Jadi Artis Termuda yang Masuk Nominasi Songwriters Hall of Fame

BERIKUTNYA

Laboratorium Kekerasan: Diskusi JILF 2025 tentang Gaza & Pengawasan Global

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga