Laboratorium Palestina: Bisnis Senjata Israel yang Melanggengkan Neokolonialisme di Seluruh Dunia. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Resensi Laboratorium Palestina: Membongkar Bisnis Gelap di Balik Okupasi Israel

09 December 2025   |   20:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Pada 2013 saya menonton pertunjukan Teater Koma berjudul Ibu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki—sebuah pengalaman yang masih membekas sampai sekarang. Lakon ini diadaptasi dari naskah begawan teater Bertolt Brecht berjudul Mother Courage and Her Children.

Premisnya sederhana: seorang perempuan bernama Ibu Brani (diperankan dengan baik oleh Sari Madjid) mencoba bertahan hidup sekaligus meraup keuntungan dari perang yang berkecamuk. Namun laiknya tragedi, lakon ini berujung pada kematian anak-anaknya.

Membaca buku Laboratorium Palestina mengingatkan penulis pada lakon tersebut. Bukan tanpa alasan. Israel, yang selama puluhan tahun mengangkangi Palestina, ternyata membangun bisnis gigantik dengan menjadikan wilayah itu sebagai laboratorium uji coba senjata.

Baca juga: Resensi Novel Ketika Senja Jatuh di Nara: Kritik Zaky Yamani pada Eksploitasi

Dalam realitas, tragedi itu nyatanya juga merenggut anak-anak mereka sendiri. Tepatnya ketika kudeta pecah di Chili pada 11 September 1973, momentum saat pemerintahan Salvador Allende ditumbangkan oleh Augusto Pinochet sebelum sang despot membentuk junta militer.

Adalah David Silberman, seorang Yahudi yang pindah ke Chile pada 1971. Sekutu sekaligus kawan dekat Allende ini menjadi salah satu korban kudeta. Berdasarkan kesaksian putranya, Daniel Silberman, sang ayah dibunuh oleh rezim Pinochet.

“11 September 1973 mengubah hidup kami untuk selamanya. Tentara mengambil alih kekuasaan dan membombardir Istana Kepresidenan La Moneda, yang mengakibatkan kematian banyak orang,” tulis Daniel di The Guardian pada 1998.
 
 


Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana Daniel memerlukan waktu lama untuk menyadari keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam rezim Pinochet, serta dalam kematian ayahnya. Salah satu titik baliknya terjadi ketika dia meneliti dokumen-dokumen CIA yang dibuka ke publik oleh Presiden Bill Clinton.

Membaca buku setebal 328 halaman ini juga cukup menantang karena pembaca perlu memahami konteks geopolitik global. Namun dari sana, pembaca dapat mengurai bagaimana kelindan bisnis senjata Israel terus melanggengkan neokolonialisme di seluruh dunia.

Terdiri dari tujuh bab, Antony Loewenstein mengungkap bagaimana pendudukan Israel di Tepi Barat dan Gaza memberi mereka pengalaman luas dalam mengontrol rakyat Palestina. Bahkan wilayah itu dijadikan medan uji coba persenjataan serta teknologi pemantauan.

Sebagai jurnalis independen yang intens melaporkan isu Israel–Palestina, Antony memaparkan bagaimana Israel menjadikan wilayah pendudukan sebagai tempat uji coba berbagai teknologi seperti spyware, senjata militer, hingga sistem kontrol populasi.

Loewenstein juga berhasil menghadirkan riset berbasis dokumen, kontrak internasional, dan wawancara dalam narasi yang mudah diikuti. Hal ini membuat buku tersebut tidak hanya informatif, tetapi juga mengusik nurani pembaca mengenai bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menguatkan struktur kekerasan.

Sejak dekade 1950-an, Israel telah menjual produk senjata mematikan mereka ke luar negeri. Salah satunya lewat Elbit, korporasi swasta yang menjadi pemasok penting suku cadang tank dan pesawat bagi negara-negara baik yang demokratis maupun otoriter.

“Apa yang terjadi di Palestina tidak pernah berhenti di sana. Ini adalah model yang sedang diekspor ke seluruh dunia,” papar Loewenstein dalam gelaran Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025.

Walakin, di tengah awan gelap otoritarianisme Israel, buku ini juga memancarkan sedikit harapan. Salah satunya tentang kampanye internasional untuk menghukum kejahatan Israel terhadap kemanusiaan, serta semakin banyak lembaga investasi yang mendivestasi dananya dari perusahaan-perusahaan Israel.

Dalam situasi opini publik global yang semakin kritis terhadap Israel, reputasi negara itu sebagai negara paria tampaknya tak akan hilang jika tidak terjadi perubahan radikal dalam kebijakan pertahanan maupun perilaku politik mereka.

Pendek kata, Laboratorium Palestina adalah bacaan penting bagi siapa pun yang ingin memahami hubungan antara pendudukan, industri militer global, dan politik keamanan modern. Buku ini menempatkan Palestina sebagai cermin dunia: Bahwa apa yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat dapat pula terjadi pada kita.

Data Buku
Judul: Laboratorium Palestina: Bisnis Senjata Israel yang Melanggengkan Neokolonialisme di Seluruh Dunia
Penulis: Antony Loewenstein
Penerjemah: Muhammad Haripin
Ilustrasi Sampul: Mohammed Ibrahim (Unsplash)
Pemeriksa Akasara: Ross Wijayanti Ken Petung
Tahun Terbit: November,2025
Jumlah Halaman: 328 Halaman
Penerbit: Marjin Kiri
QRCBN: 62-6771-8505-915

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Menikmati Pendar Air & Cahaya Karya Condro Priyoaji di Ara Contemporary

BERIKUTNYA

Letterboxd Luncurkan Layanan Sewa Film Digital

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga