Review Film Sentimental Value: Tentang Rumah, Kenangan, dan Cinta yang Tak Pernah Usai
31 October 2025 |
15:05 WIB
Sutradara asal Norwegia Joachim Trier menghadirkan karya yang menarik lewat film terbarunya berjudul Sentimental Value. ada debut internasionalnya di Cannes Film Festival, film ini mendapat standing ovation selama 15 menit, yang menjadikan tepuk tangan terlama yang diberikan penonton untuk film kompetisi tahun ini.
Dalam film ini, proses pembuatan film menjadi bagian penting dari perjalanan emosional dua tokoh utamanya yaitu Gustav Borg (Stellan Skarsgård), seorang pembuat film senior, dan Nora (Renate Reinsve), putrinya yang telah lama terpisah.
Baca juga: Review Film It Was Just an Accident, Potret Gelap Iran Karya Jafar Panahi
Kisahnya berpusat pada hubungan yang retak antara ayah dan anak akibat masa lalu yang menyakitkan. Gustav meninggalkan keluarganya ketika Nora dan adiknya, Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas), masih kecil. Dia terlalu sibuk mengejar karier dan mengorbankan keluarganya demi dunia perfilman.
Namun, kariernya kini meredup, dan saat mantan istrinya meninggal, Gustav berusaha memperbaiki hubungan dengan kedua putrinya. Ia datang membawa ide untuk membuat film baru yang akan mengambil lokasi di rumah masa kecil mereka, tempat penuh kenangan yang juga menyimpan luka mendalam.
Di tengah usaha memperbaiki hubungan itu, konflik lama pun muncul kembali. Nora, kini seorang aktris teater sukses yang tengah membintangi A Doll’s House, masih menyimpan amarah terhadap sang ayah. Ia juga sedang menghadapi kecemasan dan tekanan batin yang belum terselesaikan.
Sementara Agnes yang lebih tenang, merasa hidupnya baik-baik saja, tetapi masih menyimpan rasa sakit karena dulu sempat menjadi aktor cilik di salah satu film ayahnya dan merasa dilupakan begitu syuting usai.
Situasi semakin rumit ketika Gustav ingin menjadikan rumah itu sebagai lokasi film biografi tentang ibunya, nenek dari Nora dan Agnes yang bunuh diri akibat trauma perang. Dia bahkan ingin Nora memerankan sosok neneknya sendiri.
Permintaan itu terasa seperti upaya egois Gustav untuk memperbaiki reputasi profesionalnya, bukan hubungan keluarganya. Ketegangan memuncak saat Gustav mengajak aktris Hollywood, Rachel Kemp (Elle Fanning), menggantikan Nora. Hal itu membuat Nora merasa tersingkir dan kembali bergulat dengan rasa cemburu dan kecewa.
Dalam film ini, sutradara Trier memadukan kisah keluarga yang rapuh dengan kritik halus terhadap dunia perfilman. Ia menggambarkan bagaimana seni dan kehidupan pribadi sering kali bertabrakan, bahkan saling melukai.
Meski dibalut dengan drama yang intens, Sentimental Value juga menghadirkan kehangatan dan refleksi. Trier menunjukkan bahwa di balik kesombongan dan keegoisan seorang ayah, selalu ada keinginan untuk dicintai dan diakui. Di akhir cerita, hubungan antara Gustav dan kedua putrinya perlahan menemukan titik tenang, meski tidak sempurna.
Dengan nuansa yang hangat sekaligus getir, film ini menjadi potret tentang bagaimana keluarga dan seni saling menyembuhkan, walaupun lewat jalan yang berliku. Sentimental Value bukan sekadar cerita tentang film di dalam film, tetapi tentang pemulihan hubungan, penyesalan, dan cinta yang tetap bertahan meski pernah terluka.
Baca juga: Review Film Good News, Aksi Pembajakan Pesawat yang Sarat Komedi Satire
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dalam film ini, proses pembuatan film menjadi bagian penting dari perjalanan emosional dua tokoh utamanya yaitu Gustav Borg (Stellan Skarsgård), seorang pembuat film senior, dan Nora (Renate Reinsve), putrinya yang telah lama terpisah.
Baca juga: Review Film It Was Just an Accident, Potret Gelap Iran Karya Jafar Panahi
Kisahnya berpusat pada hubungan yang retak antara ayah dan anak akibat masa lalu yang menyakitkan. Gustav meninggalkan keluarganya ketika Nora dan adiknya, Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas), masih kecil. Dia terlalu sibuk mengejar karier dan mengorbankan keluarganya demi dunia perfilman.
Namun, kariernya kini meredup, dan saat mantan istrinya meninggal, Gustav berusaha memperbaiki hubungan dengan kedua putrinya. Ia datang membawa ide untuk membuat film baru yang akan mengambil lokasi di rumah masa kecil mereka, tempat penuh kenangan yang juga menyimpan luka mendalam.
Di tengah usaha memperbaiki hubungan itu, konflik lama pun muncul kembali. Nora, kini seorang aktris teater sukses yang tengah membintangi A Doll’s House, masih menyimpan amarah terhadap sang ayah. Ia juga sedang menghadapi kecemasan dan tekanan batin yang belum terselesaikan.
Sementara Agnes yang lebih tenang, merasa hidupnya baik-baik saja, tetapi masih menyimpan rasa sakit karena dulu sempat menjadi aktor cilik di salah satu film ayahnya dan merasa dilupakan begitu syuting usai.
Situasi semakin rumit ketika Gustav ingin menjadikan rumah itu sebagai lokasi film biografi tentang ibunya, nenek dari Nora dan Agnes yang bunuh diri akibat trauma perang. Dia bahkan ingin Nora memerankan sosok neneknya sendiri.
Permintaan itu terasa seperti upaya egois Gustav untuk memperbaiki reputasi profesionalnya, bukan hubungan keluarganya. Ketegangan memuncak saat Gustav mengajak aktris Hollywood, Rachel Kemp (Elle Fanning), menggantikan Nora. Hal itu membuat Nora merasa tersingkir dan kembali bergulat dengan rasa cemburu dan kecewa.
Dalam film ini, sutradara Trier memadukan kisah keluarga yang rapuh dengan kritik halus terhadap dunia perfilman. Ia menggambarkan bagaimana seni dan kehidupan pribadi sering kali bertabrakan, bahkan saling melukai.
Meski dibalut dengan drama yang intens, Sentimental Value juga menghadirkan kehangatan dan refleksi. Trier menunjukkan bahwa di balik kesombongan dan keegoisan seorang ayah, selalu ada keinginan untuk dicintai dan diakui. Di akhir cerita, hubungan antara Gustav dan kedua putrinya perlahan menemukan titik tenang, meski tidak sempurna.
Dengan nuansa yang hangat sekaligus getir, film ini menjadi potret tentang bagaimana keluarga dan seni saling menyembuhkan, walaupun lewat jalan yang berliku. Sentimental Value bukan sekadar cerita tentang film di dalam film, tetapi tentang pemulihan hubungan, penyesalan, dan cinta yang tetap bertahan meski pernah terluka.
Baca juga: Review Film Good News, Aksi Pembajakan Pesawat yang Sarat Komedi Satire
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.