Best new cookbooks for hunkering down during the pandemic. Peloton recalls pedals on 27,000 exercise bikes after reported injuries

Arumi & Lidah Pocong (Dok. YouTube/SECOND CINEMA)

Berbagai Rasa dalam PANDEMI(E): Arumi & Lidah Pocong

13 October 2021   |   15:19 WIB

Selama pandemi, pembuatan film di rumah menjadi eksperimen yang dicoba sejumlah sineas. Ada karya-karya seperti antologi Homemade dari Paolo Sorrentino dkk., ataupun omnibus Quarantine Tales dari sejumlah sineas Indonesia. Selain dua itu, masih banyak karya lain, salah satunya kumpulan film pendek Pandemi(e) garapan Alif Abimanyu, Azzam, Nabil Surya, dan Riza Pahlevi.

Pandemi(e) berisikan empat film, yakni Mie Level Setan (Alif Abimanyu), Arumi & Lidah Pocong (Azzam), Berpulang (Nabil Surya), dan Gumpalan (Riza Pahlevi). Keempatnya sama-sama mengandung mi instan dan setan.

Mi instan merupakan pengikat yang kuat, mengingat mi adalah makanan andalan di rumah—apalagi selama pandemi pembelian mi instan juga meningkat. Sementara itu, elemen setan dalam mengisahkan pandemi juga efektif, karena tidak ada lokasi yang lebih menyeramkan untuk setan berada ketimbang di rumah.
 
Beberapa film juga mengangkat hal-hal yang tengah menjadi tren belakangan ini. Gumpalan, misalnya, menampilkan hantu bergestur layaknya Khaby Lame yang terkenal di TikTok. Selain itu ada juga soal tren mi pedas dalam Mie Level Setan hingga dugaan serta desas-desus Covid-19 untuk kematian seseorang dalam Berpulang.

Namun di antara itu semua, yang paling mencolok adalah Arumi & Lidah Pocong karya Azzam. Film tersebut berkisah tentang Arumi (Alfiyyah Fitri), seorang penderita Covid-19 yang mengalami anosmia. Untuk mengatasi anosmianya itu, Arumi menggunakan liur pocong, yang konon dipercaya dapat melezatkan makanan.

Dari cerita tersebut, kita mungkin bisa menarik ke tema besar, seperti perseteruan antara sains dan mitos. Sebab, di sana anosmia (kondisi medis) akan ditabrakkan dengan daya mistis liur pocong.

Namun, rasanya cara melihat seperti ini tak menarik.

Arumi & Lidah Pocong kelwat fun untuk diceburkan ke dalam topik jelimet. Terlalu banyak momen-momen absurd yang lebih nikmat untuk dialami ketimbang ditafsir ke sana-sini (walaupun, jika ada yang mau melakukannya, jelas penting juga untuk disimak).




Dari semua keseruannya, hal yang paling berkesan adalah melihat bagaimana berbagai sensasi distimulasi oleh film. Kita bisa membayangkan betapa absurd dan ngilunya snorting bumbu mi instan; kita juga bisa membayangkan betapa menjijikkannya menelan liur pocong. 

Lewat penggambarannya itu, film mampu membenturkan berbagai rasa, mulai dari rasa jijik, kelezatan yang diandaikan (efek mistis liur pocong), hingga ketiadaan rasa itu sendiri (efek anosmia) dalam satu waktu.

Dari segi teknis, film ini juga terasa spesial. Azzam membawa kita bernostalgia dan merasakan lagi berbagai style audiovisual. Ada yang mengingatkan dengan vlog, komedi televisi, hingga video klip lagu post-hardcore (slash) screamo (slash) emo 90-an.

Selain itu, editing-nya yang ciamik juga mengingatkan lagi akan kehebatan editing dalam membentuk dunia di kepala kita. Seperti kita tahu, film hanyalah gambar yang disusun untuk memberikan ilusi ketersinambungan, sehingga menciptakan adegan, sekuens, hingga film utuh.

Kerja-kerja editing di sini jadi begitu penting, karena lewat ilusinya, ia dapat memaksimalkan efek dari gambar yang ada.



Salah satu yang membuktikan daya ilusi editing ini adalah shower scene di film Psycho karya Alfred Hitchcock yang legendaris.

Saat menyaksikan adegan tersebut, penonton dapat bersepakat bahwa Marion Crane (Janet Leigh) dibunuh dengan cara ditusuk berkali-kali, sekalipun “kenyataannya” tidak demikian.

Jika dilihat benar-benar, dari 78 shots dan 52 cuts yang ada, tidak terdapat satu pun gambar yang menunjukkan bahwa Marion Crane ditusuk. Kesepakatan bahwa Marion Crane dibunuh dengan cara ditusuk terjadi karena adanya ilusi dari editing.

Atau jika Psycho kejauhan, kita bisa melihat ilusi yang muncul berkat jumpcut tipis-tipis ketika Suzzanna mukbang sate 200 tusuk di Sundel Bolong. Kita tahu betul bahwa satenya tidak benar-benar dimakan, tapi ilusinya terlalu menarik untuk kepala kita tolak.

Dalam Arumi & Lidah Pocong, ilusi tersebut hadir dalam berbagai adegan, salah satunya adegan memakan mi instan dengan liur pocong.

Sebagai penonton, orang tentu tahu bahwa yang terjadi dalam film tidaklah terjadi pada saat syuting. Namun, bagaimanapun juga, rasa jijik itu sangat mungkin tetap muncul—begitu pula rasa ngilu menghirup bumbu mi instan.

Pengalaman inilah yang begitu spesial dari menonton Pandemi(e), khususnya Arumi & Lidah Pocong. Film ini mengakses rasa dan sensasi lewat audiovisual, sehingga membuatnya menjadi pengalaman yang unik. Mengutip Bong Jon-hoo, “To me, that’s cinema.”


Editor: Fajar Sidik
SEBELUMNYA

Bos Perusahaan Mainan Hasbro Brian Goldner Meninggal Dunia

BERIKUTNYA

Asteroid City, Film Wes Anderson yang Kembali Hadirkan Bill Murray

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: