Review Film It Was Just an Accident, Potret Gelap Iran Karya Jafar Panahi
27 October 2025 |
14:00 WIB
Sutradara Jafar Panahi kembali muncul di belantika sinema dengan karya terbarunya yang disebut-sebut sebagai film paling berani dan personal sepanjang kariernya, It Was Just an Accident. Kemunculan Panahi di Festival Film Cannes disebut-sebut sebagai sebuah 'keajaiban'.
Melansir NPR, setelah 15 tahun hidup dalam larangan dan penjara karena dituduh membuat propaganda anti-pemerintah, sutradara asal Iran ini tetap berkarya diam-diam. Kini, kebebasannya menjadi simbol bahwa semangat seni tak akan pernah bisa dibungkam. Setelah bertahun-tahun dibatasi oleh rezim negaranya, Panahi seperti ingin membalas semua keheningan yang pernah dipaksakan padanya.
Film It Was Just an Accident menjadi ruang bagi dirinya untuk bersuara lantang, mengangkat tema besar tentang pembalasan, kekerasan negara, serta penderitaan yang kerap tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari rakyat Iran. Pada Festival Film Cannes, film tersebut juga memenangkan Palme d'Or.
Baca juga: Review Film Good News, Aksi Pembajakan Pesawat yang Sarat Komedi Satire
Dengan gaya khasnya yang memadukan realisme sosial, satire politik, dan komedi hitam, Panahi menciptakan dunia yang terasa nyata sekaligus absurd. Ia tidak hanya mengajak penonton memahami situasi Iran, tetapi juga merasakan ketegangan emosional dari hidup di bawah sistem yang menindas. Seperti film-film terdahulunya, Panahi berbicara dengan simbol, menghadirkan pesan politik tanpa harus berteriak.
Film ini dibuka dengan adegan sederhana namun memikat yaitu seorang pria bernama Ebrahim (diperankan oleh Ebrahim Azizi) sedang mengemudi di malam hari bersama istri dan putrinya yang masih kecil. Jalanan gelap, suasana sunyi, dan hanya lampu mobil yang menembus kabut.
Tiba-tiba, seekor anjing melintas, dan dalam sekejap, mobil itu menabrak. Peristiwa kecil ini menjadi awal dari rangkaian kejadian menegangkan dan penuh misteri yang mengubah kehidupan semua tokohnya.
Lantaran mobilnya rusak, Ebrahim terpaksa berhenti di sebuah bengkel tua milik Vahid (Vahid Mobasseri), seorang mekanik yang menderita penyakit ginjal kronis dan sering dijuluki “Jughead” karena kebiasaannya menahan sakit di pinggangnya. Dari titik ini, cerita mulai bercabang.
Pertemuan mereka membuka jalan bagi serangkaian karakter lain seperti Hamid, pemilik toko buku yang kerap diawasi pemerintah kemudian Shiva, fotografer pernikahan yang kehilangan izin kerjanya karena dianggap melanggar norma moral, serta pasangan pengantin muda, Goli dan Ali, yang hidupnya perlahan terseret ke dalam kekacauan.
Melalui karakter-karakter ini, Panahi menyoroti ketakutan, tekanan sosial, dan absurditas kehidupan di bawah rezim otoriter. Ia menampilkan bagaimana orang biasa dipaksa beradaptasi dengan sistem yang korup, di mana suap menjadi bagian dari kelangsungan hidup.
Dalam satu adegan yang ironis sekaligus lucu, dua petugas keamanan meminta “hadiah kecil” agar tidak mencurigai aktivitas dalam van milik Vahid dan mereka menerimanya bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan pembayaran nirsentuh dengan mesin kartu debit.
Meski mengangkat tema berat, Panahi tidak membiarkan film ini tenggelam dalam kesuraman. Ia menyelipkan humor-humor tipis, ironi, dan keanehan yang membuat film terasa hidup. Beberapa adegan bahkan terasa seperti penghormatan kepada Hitchcock atau Joe Orton, di mana tragedi dan komedi saling bertabrakan dalam ritme yang ganjil namun memikat. Semuanya dikemas dengan visual yang sunyi, kontras warna yang lembut, dan dialog-dialog singkat yang menyimpan makna mendalam.
Melalui It Was Just an Accident, Panahi seolah mengajak penonton merenungkan batas antara kecelakaan dan kesengajaan, antara nasib dan perlawanan. Ia membuktikan bahwa seni bisa menjadi senjata paling tajam melawan ketidakadilan, bahkan tanpa peluru dan propaganda.
Film ini bukan hanya karya sinema, tetapi menyiratkan arti dari kebebasan seperti sebuah pesan bahwa seorang seniman sejati tidak akan pernah diam, sekalipun seluruh dunia mencoba membungkamnya.
Baca juga: Review Film No Other Choice, Karya Terbaru Park Chan-wook yang Penuh Ketegangan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Melansir NPR, setelah 15 tahun hidup dalam larangan dan penjara karena dituduh membuat propaganda anti-pemerintah, sutradara asal Iran ini tetap berkarya diam-diam. Kini, kebebasannya menjadi simbol bahwa semangat seni tak akan pernah bisa dibungkam. Setelah bertahun-tahun dibatasi oleh rezim negaranya, Panahi seperti ingin membalas semua keheningan yang pernah dipaksakan padanya.
Film It Was Just an Accident menjadi ruang bagi dirinya untuk bersuara lantang, mengangkat tema besar tentang pembalasan, kekerasan negara, serta penderitaan yang kerap tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari rakyat Iran. Pada Festival Film Cannes, film tersebut juga memenangkan Palme d'Or.
Baca juga: Review Film Good News, Aksi Pembajakan Pesawat yang Sarat Komedi Satire
Dengan gaya khasnya yang memadukan realisme sosial, satire politik, dan komedi hitam, Panahi menciptakan dunia yang terasa nyata sekaligus absurd. Ia tidak hanya mengajak penonton memahami situasi Iran, tetapi juga merasakan ketegangan emosional dari hidup di bawah sistem yang menindas. Seperti film-film terdahulunya, Panahi berbicara dengan simbol, menghadirkan pesan politik tanpa harus berteriak.
Film ini dibuka dengan adegan sederhana namun memikat yaitu seorang pria bernama Ebrahim (diperankan oleh Ebrahim Azizi) sedang mengemudi di malam hari bersama istri dan putrinya yang masih kecil. Jalanan gelap, suasana sunyi, dan hanya lampu mobil yang menembus kabut.
Tiba-tiba, seekor anjing melintas, dan dalam sekejap, mobil itu menabrak. Peristiwa kecil ini menjadi awal dari rangkaian kejadian menegangkan dan penuh misteri yang mengubah kehidupan semua tokohnya.
Lantaran mobilnya rusak, Ebrahim terpaksa berhenti di sebuah bengkel tua milik Vahid (Vahid Mobasseri), seorang mekanik yang menderita penyakit ginjal kronis dan sering dijuluki “Jughead” karena kebiasaannya menahan sakit di pinggangnya. Dari titik ini, cerita mulai bercabang.
Pertemuan mereka membuka jalan bagi serangkaian karakter lain seperti Hamid, pemilik toko buku yang kerap diawasi pemerintah kemudian Shiva, fotografer pernikahan yang kehilangan izin kerjanya karena dianggap melanggar norma moral, serta pasangan pengantin muda, Goli dan Ali, yang hidupnya perlahan terseret ke dalam kekacauan.
Melalui karakter-karakter ini, Panahi menyoroti ketakutan, tekanan sosial, dan absurditas kehidupan di bawah rezim otoriter. Ia menampilkan bagaimana orang biasa dipaksa beradaptasi dengan sistem yang korup, di mana suap menjadi bagian dari kelangsungan hidup.
Dalam satu adegan yang ironis sekaligus lucu, dua petugas keamanan meminta “hadiah kecil” agar tidak mencurigai aktivitas dalam van milik Vahid dan mereka menerimanya bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan pembayaran nirsentuh dengan mesin kartu debit.
Meski mengangkat tema berat, Panahi tidak membiarkan film ini tenggelam dalam kesuraman. Ia menyelipkan humor-humor tipis, ironi, dan keanehan yang membuat film terasa hidup. Beberapa adegan bahkan terasa seperti penghormatan kepada Hitchcock atau Joe Orton, di mana tragedi dan komedi saling bertabrakan dalam ritme yang ganjil namun memikat. Semuanya dikemas dengan visual yang sunyi, kontras warna yang lembut, dan dialog-dialog singkat yang menyimpan makna mendalam.
Melalui It Was Just an Accident, Panahi seolah mengajak penonton merenungkan batas antara kecelakaan dan kesengajaan, antara nasib dan perlawanan. Ia membuktikan bahwa seni bisa menjadi senjata paling tajam melawan ketidakadilan, bahkan tanpa peluru dan propaganda.
Film ini bukan hanya karya sinema, tetapi menyiratkan arti dari kebebasan seperti sebuah pesan bahwa seorang seniman sejati tidak akan pernah diam, sekalipun seluruh dunia mencoba membungkamnya.
Baca juga: Review Film No Other Choice, Karya Terbaru Park Chan-wook yang Penuh Ketegangan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.