Perjuangan Dua Brand Pottery Lokal yang Ubah Tanah Liat Jadi Karya Bernilai
31 October 2025 |
14:30 WIB
Pottery atau tembikar kini tak lagi sekadar hiasan rumah yang berdiri manis di sudut meja. Di tangan para perajin muda, tanah liat bisa menjelma menjadi karya seni yang tidak hanya indah secara visual, tapi juga punya nilai cerita dan emosi di balik setiap lekuknya.
Seni pottery sendiri merupakan proses membentuk tanah liat menjadi berbagai benda seperti cangkir, vas, atau piring melalui teknik putar, cetak, atau bentuk tangan. Setelah dibentuk, karya tersebut dibakar agar keras dan tahan lama.
Setiap hasilnya memiliki ciri khas tersendiri, karena semua dibuat manual dengan sentuhan personal dari pembuatnya. Dari sinilah lahir dua brand berbeda, tapi dengan semangat yang sama dalam menghidupkan seni tembikar di tengah masyarakat modern.
Baca juga: Pottery, Hobi Kreatif dan Healing: Pilih Hand-Building atau Wheel Throwing?
Makaci Pottery Studio adalah karya dari Tasya Septiani Dewi (27), alumni Kriya ITB yang memulai perjalanannya secara tidak sengaja. Awalnya, karya-karya Tasya hanyalah tugas kuliah yang menumpuk di rumah.
“Karena numpuk di rumah, akhirnya aku coba jual. Eh ternyata banyak yang suka,” ujarnya sambil tertawa mengenang awal mula Makaci berdiri. Dari situ, Makaci mulai dikenal sejak 2016 dan baru digarap serius pada 2019–2020.
Berlokasi di Tangerang Selatan, Makaci dikenal dengan desainnya yang colorful, fun, dan quirky. Tasya lebih sering membuat mug dan figure kecil karena lebih praktis dan terjangkau bagi pembeli pemula. “Aku suka mug karena lebih gampang dijual dan harganya juga lebih ramah buat orang yang baru mulai koleksi keramik,” jelasnya.
Selain menjual produk ready stock, Makaci juga membuka pesanan custom dengan desain personal seperti gambar hewan peliharaan atau karakter favorit. Soal pemasaran, Tasya mengandalkan Instagram, Tokopedia, dan bazar untuk memperluas jangkauan. Omzet Makaci Pottery Studio pun tergolong stabil, berada di kisaran Rp5–10 juta per bulan, tergantung pesanan dan event yang diikuti.
“Alhamdulillah, walaupun bisnis handmade itu naik turun, tapi selalu ada aja yang cari karya unik. Itu yang bikin semangat jalan terus,” kata Tasya dengan senyum bangga.
Ke depan, dia berharap Makaci bisa punya ciri khas yang langsung dikenali orang. “Aku pengen Makaci punya desain original yang orang langsung tahu, oh ini Makaci.”
Berbeda dengan Makaci yang tampil colorful dan playful, Ponyee Keramik hadir dengan gaya yang lebih elegan dan misterius. Brand ini didirikan oleh Bagus Aji Nugroho (28) dan Nasya Alifah Ramadani (24) di tengah pandemi. Terinspirasi dari arsitektur gotik, Ponyee menghadirkan pottery dengan nuansa gelap, tekstur tegas, dan bentuk lengkung yang unik.
“Bagi kami, menjaga orisinalitas itu penting banget. Walaupun terinspirasi dari karya orang lain, identitas harus tetap ada,” ungkap Nasya.
Produk Ponyee bervariasi, mulai dari tableware, pot tanaman, hingga matcha bowl yang kini jadi favorit pelanggan.
Untuk strategi pemasaran, Ponyee aktif menggunakan Instagram Ads dan rutin mengikuti event offline. Bahkan, mereka pernah memajang produknya di gerai Uniqlo, sebuah langkah besar bagi brand lokal. Dari satu event selama tiga hari, Ponyee bisa meraih omzet hingga Rp40 juta. Selain itu, kekuatan mulut ke mulut juga membantu memperluas jaringan pelanggan mereka.
Namun, perjalanan tidak selalu mudah. Harga bahan baku keramik yang terus meningkat membuat harga jual produk sulit stabil. Belum lagi persaingan dengan produk pabrikan yang jauh lebih murah. Meski begitu, Bagus dan Nasya tetap berpegang pada prinsip bahwa keunikan desain handmade tidak bisa digantikan.
“Harapannya, masyarakat bisa lebih menghargai karya handmade, bukan cuma lihat dari fungsi atau harga, tapi juga proses di baliknya," imbuhnya.
Dari Makaci yang penuh warna hingga Ponyee yang berjiwa elegan, keduanya membuktikan bahwa tanah liat bisa menjadi medium ekspresi dan sumber penghidupan yang menjanjikan. Lebih dari sekadar kerajinan, pottery adalah bentuk seni yang menyatukan kreativitas, ketekunan, dan cerita dari tangan pembuatnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Seni pottery sendiri merupakan proses membentuk tanah liat menjadi berbagai benda seperti cangkir, vas, atau piring melalui teknik putar, cetak, atau bentuk tangan. Setelah dibentuk, karya tersebut dibakar agar keras dan tahan lama.
Setiap hasilnya memiliki ciri khas tersendiri, karena semua dibuat manual dengan sentuhan personal dari pembuatnya. Dari sinilah lahir dua brand berbeda, tapi dengan semangat yang sama dalam menghidupkan seni tembikar di tengah masyarakat modern.
Baca juga: Pottery, Hobi Kreatif dan Healing: Pilih Hand-Building atau Wheel Throwing?
Makaci Pottery Studio adalah karya dari Tasya Septiani Dewi (27), alumni Kriya ITB yang memulai perjalanannya secara tidak sengaja. Awalnya, karya-karya Tasya hanyalah tugas kuliah yang menumpuk di rumah.
“Karena numpuk di rumah, akhirnya aku coba jual. Eh ternyata banyak yang suka,” ujarnya sambil tertawa mengenang awal mula Makaci berdiri. Dari situ, Makaci mulai dikenal sejak 2016 dan baru digarap serius pada 2019–2020.
Berlokasi di Tangerang Selatan, Makaci dikenal dengan desainnya yang colorful, fun, dan quirky. Tasya lebih sering membuat mug dan figure kecil karena lebih praktis dan terjangkau bagi pembeli pemula. “Aku suka mug karena lebih gampang dijual dan harganya juga lebih ramah buat orang yang baru mulai koleksi keramik,” jelasnya.
Selain menjual produk ready stock, Makaci juga membuka pesanan custom dengan desain personal seperti gambar hewan peliharaan atau karakter favorit. Soal pemasaran, Tasya mengandalkan Instagram, Tokopedia, dan bazar untuk memperluas jangkauan. Omzet Makaci Pottery Studio pun tergolong stabil, berada di kisaran Rp5–10 juta per bulan, tergantung pesanan dan event yang diikuti.
“Alhamdulillah, walaupun bisnis handmade itu naik turun, tapi selalu ada aja yang cari karya unik. Itu yang bikin semangat jalan terus,” kata Tasya dengan senyum bangga.
Ke depan, dia berharap Makaci bisa punya ciri khas yang langsung dikenali orang. “Aku pengen Makaci punya desain original yang orang langsung tahu, oh ini Makaci.”
Berbeda dengan Makaci yang tampil colorful dan playful, Ponyee Keramik hadir dengan gaya yang lebih elegan dan misterius. Brand ini didirikan oleh Bagus Aji Nugroho (28) dan Nasya Alifah Ramadani (24) di tengah pandemi. Terinspirasi dari arsitektur gotik, Ponyee menghadirkan pottery dengan nuansa gelap, tekstur tegas, dan bentuk lengkung yang unik.
“Bagi kami, menjaga orisinalitas itu penting banget. Walaupun terinspirasi dari karya orang lain, identitas harus tetap ada,” ungkap Nasya.
Produk Ponyee bervariasi, mulai dari tableware, pot tanaman, hingga matcha bowl yang kini jadi favorit pelanggan.
Untuk strategi pemasaran, Ponyee aktif menggunakan Instagram Ads dan rutin mengikuti event offline. Bahkan, mereka pernah memajang produknya di gerai Uniqlo, sebuah langkah besar bagi brand lokal. Dari satu event selama tiga hari, Ponyee bisa meraih omzet hingga Rp40 juta. Selain itu, kekuatan mulut ke mulut juga membantu memperluas jaringan pelanggan mereka.
Namun, perjalanan tidak selalu mudah. Harga bahan baku keramik yang terus meningkat membuat harga jual produk sulit stabil. Belum lagi persaingan dengan produk pabrikan yang jauh lebih murah. Meski begitu, Bagus dan Nasya tetap berpegang pada prinsip bahwa keunikan desain handmade tidak bisa digantikan.
“Harapannya, masyarakat bisa lebih menghargai karya handmade, bukan cuma lihat dari fungsi atau harga, tapi juga proses di baliknya," imbuhnya.
Dari Makaci yang penuh warna hingga Ponyee yang berjiwa elegan, keduanya membuktikan bahwa tanah liat bisa menjadi medium ekspresi dan sumber penghidupan yang menjanjikan. Lebih dari sekadar kerajinan, pottery adalah bentuk seni yang menyatukan kreativitas, ketekunan, dan cerita dari tangan pembuatnya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.