Hari Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional Gelar Konser Suara Nada Awal
28 October 2025 |
19:18 WIB
Museum Kebangkitan Nasional di bawah Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU-MCB) menggelar serangkaian kegiatan untuk memaknai Hari Sumpah Pemuda. Terbaru, museum ini mengadakan konser bertajuk “Suara: Nada Awal” sebagai bagian dari peringatan Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Nasional.
Konser ini menampilkan karya-karya maestro Wage Rudolf Soepratman dalam format string quartet. Beberapa di antaranya adalah Indonesia Tjantik, Dari Barat Sampai ke Timur, Indonesia Hai Ibuku, Ibu Kita Kartini, Di Timur Matahari, Pahlawan Merdeka, dan Matahari Terbit.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menegaskan, Sumpah Pemuda merupakan tonggak sejarah yang terus relevan sepanjang masa. Menurutnya, gedung Museum Kebangkitan Nasional menjadi saksi lahirnya kesadaran nasional pada 1908 dan semangat pemuda untuk bersatu pada 1928.
Baca juga: Tema Peringatan & Filosofi Logo Hari Sumpah Pemuda 2025
Dia menggambarkan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi kebangsaan yang memiliki nilai sastra tinggi. Susunan kalimatnya, kata Fadli, tidak hanya mengandung semangat politik, tetapi juga jiwa seni yang mendalam. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Yamin, yang turut menyusun teks itu, dikenal pula sebagai penyair yang memiliki kepekaan bahasa dan rasa estetik yang kuat.
Fadli juga mengisahkan kembali proses penciptaan lagu Indonesia Raya oleh W.R. Soepratman. Lagu itu pertama kali dimainkan dengan biola secara instrumental dan direkam bersama sahabatnya, Yo Kim Chang, dalam bentuk piringan hitam di Inggris. Menurutnya, lagu tersebut memberikan napas perjuangan yang luar biasa dan menjadi simbol semangat nasionalisme hingga hari ini.
“Untuk menjadi sebuah bangsa, negara kesatuan Republik Indonesia yang sampai hari ini telah berusia lebih dari delapan dekade merupakan sebuah keberhasilan luar biasa,” katanya.
Lewat kegiatan ini, Fadli menekankan pentingnya menjaga semangat persatuan di tengah keberagaman bangsa Indonesia. Dengan lebih dari 718 bahasa dan 1.340 suku bangsa yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau, Indonesia adalah contoh luar biasa dari negara yang mampu bertahan sebagai satu kesatuan. Namun, persatuan itu, kata Fadli, tidak boleh dianggap akan selalu ada tanpa dijaga.
Dia mengingatkan bahwa sejarah mencatat banyak negara besar yang bubar karena kehilangan perekat nasionalisme, seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Karena itu, semangat kebangsaan harus terus dirawat dan dipupuk agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Lebih lanjut, Fadli menegaskan bahwa budaya memiliki peran penting sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Budaya, katanya, adalah binding power atau unifying force yang mampu menjembatani perbedaan dan menjadikannya kekuatan. Perbedaan suku, agama, dan bahasa justru harus dilihat sebagai kekayaan yang memperkuat identitas nasional.
Melalui konser “Satu Nada Awal”, dia berharap kegiatan ini dapat membuka ruang berekspresi bagi seniman sekaligus melestarikan karya para maestro Indonesia. Acara ini juga menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem musik nasional dan meneguhkan kembali peran seni sebagai bagian dari kebangkitan budaya bangsa.
“Kegiatan ini bukan hanya peringatan, tetapi langkah memajukan kebudayaan nasional,” jelasnya.
Sebelumnya, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Museum Sumpah Pemuda juga menggelar upacara pada Selasa (28/10/25) pagi. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bertindak sebagai inspektur upacara dan membacakan pidato bertajuk “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.”
Kegiatan ini diikuti sekitar 400 peserta dari berbagai kalangan, termasuk pejabat daerah, keluarga tokoh Sumpah Pemuda, organisasi, instansi, dan masyarakat umum. Upacara ini menjadi tradisi tahunan yang digelar setiap 28 Oktober untuk mengenang semangat Ikrar Pemuda pada Kongres Pemuda II tahun 1928.
Adapun di Museum Kebangkitan Nasional, konser turut dimeriahkan oleh komunitas mitra Museum Rumah Bersejarah Teras, Wayang Potehi, dan Belantara Budaya Indonesia, serta penampilan musisi Endah N Rhesa.
Selain konser, dibuka pula pameran temporer yang menampilkan biola asli milik W.R. Soepratman, piringan hitam, dan gramofon berisi rekaman pertama lagu Indonesia Raya.
Baca juga: 7 Promo Sumpah Pemuda 2025: Dari Chatime, HokBen, hingga J.CO
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Konser ini menampilkan karya-karya maestro Wage Rudolf Soepratman dalam format string quartet. Beberapa di antaranya adalah Indonesia Tjantik, Dari Barat Sampai ke Timur, Indonesia Hai Ibuku, Ibu Kita Kartini, Di Timur Matahari, Pahlawan Merdeka, dan Matahari Terbit.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menegaskan, Sumpah Pemuda merupakan tonggak sejarah yang terus relevan sepanjang masa. Menurutnya, gedung Museum Kebangkitan Nasional menjadi saksi lahirnya kesadaran nasional pada 1908 dan semangat pemuda untuk bersatu pada 1928.
Baca juga: Tema Peringatan & Filosofi Logo Hari Sumpah Pemuda 2025
Dia menggambarkan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi kebangsaan yang memiliki nilai sastra tinggi. Susunan kalimatnya, kata Fadli, tidak hanya mengandung semangat politik, tetapi juga jiwa seni yang mendalam. Tokoh-tokoh seperti Muhammad Yamin, yang turut menyusun teks itu, dikenal pula sebagai penyair yang memiliki kepekaan bahasa dan rasa estetik yang kuat.
Fadli juga mengisahkan kembali proses penciptaan lagu Indonesia Raya oleh W.R. Soepratman. Lagu itu pertama kali dimainkan dengan biola secara instrumental dan direkam bersama sahabatnya, Yo Kim Chang, dalam bentuk piringan hitam di Inggris. Menurutnya, lagu tersebut memberikan napas perjuangan yang luar biasa dan menjadi simbol semangat nasionalisme hingga hari ini.
“Untuk menjadi sebuah bangsa, negara kesatuan Republik Indonesia yang sampai hari ini telah berusia lebih dari delapan dekade merupakan sebuah keberhasilan luar biasa,” katanya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam saat membuka konser Suara: Nada Awal sebagai bagian dari peringatan Sumpah Pemuda dan Kebangkitan Nasional. (sumber gamba: Hypeabis.id/ Abdurachman)
Dia mengingatkan bahwa sejarah mencatat banyak negara besar yang bubar karena kehilangan perekat nasionalisme, seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Karena itu, semangat kebangsaan harus terus dirawat dan dipupuk agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Lebih lanjut, Fadli menegaskan bahwa budaya memiliki peran penting sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Budaya, katanya, adalah binding power atau unifying force yang mampu menjembatani perbedaan dan menjadikannya kekuatan. Perbedaan suku, agama, dan bahasa justru harus dilihat sebagai kekayaan yang memperkuat identitas nasional.
Melalui konser “Satu Nada Awal”, dia berharap kegiatan ini dapat membuka ruang berekspresi bagi seniman sekaligus melestarikan karya para maestro Indonesia. Acara ini juga menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem musik nasional dan meneguhkan kembali peran seni sebagai bagian dari kebangkitan budaya bangsa.
“Kegiatan ini bukan hanya peringatan, tetapi langkah memajukan kebudayaan nasional,” jelasnya.
Sebelumnya, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Museum Sumpah Pemuda juga menggelar upacara pada Selasa (28/10/25) pagi. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon bertindak sebagai inspektur upacara dan membacakan pidato bertajuk “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu.”
Kegiatan ini diikuti sekitar 400 peserta dari berbagai kalangan, termasuk pejabat daerah, keluarga tokoh Sumpah Pemuda, organisasi, instansi, dan masyarakat umum. Upacara ini menjadi tradisi tahunan yang digelar setiap 28 Oktober untuk mengenang semangat Ikrar Pemuda pada Kongres Pemuda II tahun 1928.
Adapun di Museum Kebangkitan Nasional, konser turut dimeriahkan oleh komunitas mitra Museum Rumah Bersejarah Teras, Wayang Potehi, dan Belantara Budaya Indonesia, serta penampilan musisi Endah N Rhesa.
Selain konser, dibuka pula pameran temporer yang menampilkan biola asli milik W.R. Soepratman, piringan hitam, dan gramofon berisi rekaman pertama lagu Indonesia Raya.
Baca juga: 7 Promo Sumpah Pemuda 2025: Dari Chatime, HokBen, hingga J.CO
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.