Para pemeran film Pangku (Sumber gambar: Hypeabis.id/Yudi Supriyanto)

Christine Hakim: Film Pangku Punya Gaya Sinematik Klasik Jepang ala Yasujiro Ozu

28 October 2025   |   21:22 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Aktris senior Christine Hakim memberikan pujian tinggi terhadap film Pangku, karya terbaru Reza Rahadian yang menandai langkah debut sang aktor sebagai sutradara. Pemeran karakter bernama Maya itu menilai bahwa gaya sinematik sang pengarah mengingatkannya terhadap film-film klasik Jepang, khususnya karya Yasujiro Ozu.

“Film ini buat saya mengingatkan terhadap film-film Jepang klasik, bukan yang gaya Kurosawa ya, tapi lebih ke Ozu,” ujar Christine dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (28/10/2025). 

Dia menilai bahwa Reza berhasil menangkap esensi sinema yang halus dan penuh makna tanpa harus menampilkan emosi secara berlebihan. Menurutnya, ungkapan kesedihan tidak harus ditunjukkan dengan air mata atau meraung-raung. Akan tetapi, bisa dengan suasana. 

Baca juga: Reza Rahadian Raih 4 Penghargaan di Busan Vision Awards Lewat Film Pangku 

“Bahasa” sinematografi seperti itu, ujarnya, sering kali dilupakan oleh seorang aktor. Dalam film Pangku, Reza Rahadian yang selama ini dikenal sebagai seorang aktor menunjukkan mampu menyerap ilmu film, sinematografi, pengeditan, dan sebagainya dengan baik. 

“Karena kepekaan dia sebagai aktor, tapi juga he is a big human being. Jadi, padahal saya enggak yakin bahwa Reza banyak sekali di film-film Jepang,” ujarnya. 

Christine menilai, gaya film Pangku yang mendapatkan arahan dari Reza dapat menjadi tawaran baru bagi industri perfilman Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Reza mengungkapkan bahwa visual film perdananya ini memakai pendekatan gaya realis. Menurutnya, yang terpenting dari sisi visual dalam karya ini adalah menciptakan suasana yang terasa nyata – terutama saat harus memanfaatkan ruang-ruang sempit sebagai arena eksplorasi berbagai sudut pengambilan gambar. 

“Banyak sekali angle yang kami coba eksplorasi. Salah satu contohnya, ketika karakter Sartika mulai memasuki fase hidup yang baru, pendekatan visual pun ikut berubah. Kamera lebih banyak diletakkan di dalam ruangan, menangkap situasi di luar yang terbuka,” ujarnya. 

Pada tahap itu, lanjutnya, pusat gerak bukan lagi karakter Maya, tetapi Sartika. Karakter Sartika yang membuka warung, membereskan, dan membiarkan cahaya masuk. Berbagai visual ini semacam menjadi simbol dari pergeseran dinamika hidup sang tokoh. 

Dia menambahkan, pendekatan visual seperti inilah yang kemudian membentuk dunia Pangku — dunia kecil, terbatas, tetapi penuh makna. Secara artistik, set utamanya adalah warung dan ruang-ruang sempit. Dari situ, terlihat cara Sartika hidup di tengah “benteng-benteng” yang membatasi pergerakannya. 

Ketika hidup karakter Sartika mulai membaik, misalnya, muncul elemen seperti giant sea wall besar di depan rumahnya, atau pipa-pipa besi di sekitar warung yang selalu menghadang langkahnya. Ada kesan bahwa kehidupannya selalu menemukan batas, tapi tetap terus berjalan. 

Dia menambahkan, tantangan dalam memproduksi film Pangku justru ada di tahap persiapan, yakni ketika mengumpulkan tim terbaik di berbagai departemen.

Untuk diketahui, film Pangku mengikuti kisah karakter bernama Sartika yang sedang hamil besar dan mencari pekerjaan. Takdir membawanya ke pasangan tua bernama Maya dan Jaya. 

Karakter yang tidak memiliki tempat tinggal itu pun ditampung oleh pasangan tua tersebut, hingga melahirkan. Dalam kehidupannya, Sartika bertemu pria bernama Hadi yang merupakan seorang sopir truk ikan. Keduanya pun menjalin hubungan hingga menikah. 

Baca juga: Sinopsis & Daftar Pemain Film Pangku, Tayang 6 November di Bioskop 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Hari Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional Gelar Konser Suara Nada Awal

BERIKUTNYA

Enggan Hilangkan Adegan Ini, Pangku Tayang dengan Rating 17+

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga