Peran Sekolah Dampingi Murid Memilih Jurusan Kuliah dan Studi Impian
28 October 2025 |
22:00 WIB
Dalam membantu murid menentukan arah studi dan karier sejak dini, sekolah memiliki peran penting dalam menyediakan pendampingan yang terarah dan berkelanjutan. Proses ini tak sebatas memberikan informasi tentang jurusan dan universitas, tetapi membangun kesadaran diri murid akan minat, bakat, serta potensi mereka.
Nerinda Rizky Firdaus, Konselor Anak di Sekolah Cikal Surabaya, menjelaskan bahwa terdapat tiga bentuk pendampingan yang diterapkan agar murid dapat menentukan jurusan dan studi yang sesuai. Simak penjelasan berikut ini.
Baca juga: Pentingnya Sekolah Membuka Ruang Aman untuk Edukasi Seksual Anak
“Di jenjang SMP, kami fokus mendampingi eksplorasi minat, bakat, serta refleksi diri murid melalui aktivitas belajar dan proyek. Proses ini dilengkapi dengan kelas Career Exploration di kelas 9, iStart Strong Test sebagai asesmen minat dan karier, serta Strong Test Report Conference yang melibatkan orang tua,” ujarnya.
Ketika murid naik ke jenjang SMA, pendampingan diarahkan pada pengembangan kompetensi dan portofolio yang relevan dengan pilihan universitas. Proses ini mencakup asesmen minat di kelas 10, sesi diskusi kelas bersama advisor, kelas Career Exploration, program magang, hingga sesi konseling pribadi.
“Pada jenjang SMA, murid didampingi untuk menyesuaikan minat dengan kemampuan dan portofolio yang dimiliki, serta dengan jurusan dan prospek karier yang ingin dituju. Proses ini membantu mereka membangun kepercayaan diri dalam menentukan First Choice of University,” tambahnya.
“Pada sesi ini murid dapat berdiskusi kapan pun mereka butuh bimbingan. Tujuannya agar mereka benar-benar mantap dengan pilihan jurusan dan kampusnya,” ujar Nerinda.
Selain itu, terdapat Career Journal, yaitu buku jurnal yang digunakan untuk membantu murid mengidentifikasi arah karier yang diinginkan. “Sesi konsultasi ini juga dilengkapi dengan diskusi bersama advisor dan penggunaan career journal yang dibuat oleh murid. Tidak jarang kami juga melibatkan orang tua untuk berdiskusi mengenai arah karier anak,” tambahnya.
“Dalam sesi ini, anak menjelaskan alasan memilih jurusan tertentu, sementara orang tua dapat menyampaikan harapannya. Konselor berperan memberikan sudut pandang profesional berdasarkan hasil asesmen dan diskusi sebelumnya,” tuturnya.
Selain menjadi wadah dialog, sesi ini juga berfungsi sebagai sarana untuk memberikan informasi komprehensif kepada orang tua mengenai potensi dan capaian anak, mulai dari portofolio, hasil belajar, hingga keterlibatan dalam proyek atau kompetisi.
Konselor dan advisor membantu murid serta orang tua mengenali potensi anak dengan memaparkan hasil karya, nilai, dan capaian proyek yang relevan. Dengan begitu, semua pihak dapat selaras dalam mendukung keputusan akhir.
Baca juga: 76% Anak Sekolah Indonesia Kurang Aktif Fisik, Gaya Hidup Sedentari Jadi Pemicu
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Nerinda Rizky Firdaus, Konselor Anak di Sekolah Cikal Surabaya, menjelaskan bahwa terdapat tiga bentuk pendampingan yang diterapkan agar murid dapat menentukan jurusan dan studi yang sesuai. Simak penjelasan berikut ini.
Baca juga: Pentingnya Sekolah Membuka Ruang Aman untuk Edukasi Seksual Anak
1. Pendampingan Bertahap Sejak SMP hingga SMA
Proses pemetaan minat, bakat, dan karier dilakukan secara bertahap mulai dari jenjang SMP hingga SMA. Pada tahap SMP, fokus utamanya adalah membantu murid mengeksplorasi minat dan bakat mereka melalui berbagai kegiatan kelas maupun proyek, serta asesmen minat dan bakat.“Di jenjang SMP, kami fokus mendampingi eksplorasi minat, bakat, serta refleksi diri murid melalui aktivitas belajar dan proyek. Proses ini dilengkapi dengan kelas Career Exploration di kelas 9, iStart Strong Test sebagai asesmen minat dan karier, serta Strong Test Report Conference yang melibatkan orang tua,” ujarnya.
Ketika murid naik ke jenjang SMA, pendampingan diarahkan pada pengembangan kompetensi dan portofolio yang relevan dengan pilihan universitas. Proses ini mencakup asesmen minat di kelas 10, sesi diskusi kelas bersama advisor, kelas Career Exploration, program magang, hingga sesi konseling pribadi.
“Pada jenjang SMA, murid didampingi untuk menyesuaikan minat dengan kemampuan dan portofolio yang dimiliki, serta dengan jurusan dan prospek karier yang ingin dituju. Proses ini membantu mereka membangun kepercayaan diri dalam menentukan First Choice of University,” tambahnya.
2. One-on-One Consultation dengan Advisor dan Konselor
Setiap murid memiliki kesempatan untuk melakukan konsultasi pribadi secara berkala dengan konselor dan advisor. Sesi ini dirancang fleksibel sesuai kebutuhan murid, baik untuk menggali potensi diri, membandingkan jurusan, maupun menyusun rencana studi yang sesuai.“Pada sesi ini murid dapat berdiskusi kapan pun mereka butuh bimbingan. Tujuannya agar mereka benar-benar mantap dengan pilihan jurusan dan kampusnya,” ujar Nerinda.
Selain itu, terdapat Career Journal, yaitu buku jurnal yang digunakan untuk membantu murid mengidentifikasi arah karier yang diinginkan. “Sesi konsultasi ini juga dilengkapi dengan diskusi bersama advisor dan penggunaan career journal yang dibuat oleh murid. Tidak jarang kami juga melibatkan orang tua untuk berdiskusi mengenai arah karier anak,” tambahnya.
3. Sesi Dialog antara Murid, Orang Tua, dan Konselor
Sekolah juga memfasilitasi sesi dialog tiga arah yang melibatkan murid, orang tua, dan konselor. Dalam forum ini, murid memiliki ruang aman untuk memaparkan alasan dan pertimbangannya dalam memilih jurusan dan kampus yang diinginkan, sementara orang tua dapat menyampaikan pandangan mereka secara terbuka.“Dalam sesi ini, anak menjelaskan alasan memilih jurusan tertentu, sementara orang tua dapat menyampaikan harapannya. Konselor berperan memberikan sudut pandang profesional berdasarkan hasil asesmen dan diskusi sebelumnya,” tuturnya.
Selain menjadi wadah dialog, sesi ini juga berfungsi sebagai sarana untuk memberikan informasi komprehensif kepada orang tua mengenai potensi dan capaian anak, mulai dari portofolio, hasil belajar, hingga keterlibatan dalam proyek atau kompetisi.
Konselor dan advisor membantu murid serta orang tua mengenali potensi anak dengan memaparkan hasil karya, nilai, dan capaian proyek yang relevan. Dengan begitu, semua pihak dapat selaras dalam mendukung keputusan akhir.
Baca juga: 76% Anak Sekolah Indonesia Kurang Aktif Fisik, Gaya Hidup Sedentari Jadi Pemicu
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.