76% Anak Sekolah Indonesia Kurang Aktif Fisik, Gaya Hidup Sedentari Jadi Pemicu
19 August 2025 |
20:00 WIB
Fenomena kurang gerak makin terlihat pada kalangan pelajar di Indonesia. Berdasarkan Global School Health Survey 2023, Ketua Tim Kerja Kesehatan Olahraga Kementerian Kesehatan RI Tasripin mengungkapkan bahwa masalah berat badan berlebih meningkat, dengan 16,2% anak usia 13-15 tahun masuk kategori overweight atau obesitas.
Hal lebih mengkhawatirkan, rendahnya aktivitas fisik menjadi masalah terbesar. Tasripin menyebut, 76,2% pelajar usia 13-17 tahun tidak aktif secara fisik. Kebiasaan ini diperburuk oleh pola tidur yang kurang, sebab 62% siswa tidur kurang dari 8 jam sehari.
Perbandingan data Riset Kesehatan Dasar 2013 dan 2018 dengan Survei Kesehatan Indonesia 2023 memperlihatkan lonjakan signifikan pada kasus kurang aktivitas fisik. Hal ini menunjukkan Indonesia masih jauh dari target Global Action Plan on Physical Activity WHO yang menargetkan penurunan prevalensi hingga 28,5%.
Baca juga: Risiko Sedentary Lifestyle Mengintai Pekerja Kantoran, Begini Cara Menghindarinya
Selain itu, distribusi masalah tidak merata antarwilayah. Beberapa provinsi melaporkan lebih dari separuh penduduknya kurang bergerak. Remaja usia 10-19 tahun menjadi kelompok dengan tingkat sedentary lifestyle tertinggi dibanding usia lainnya.
“Anak-anak yang memiliki kebugaran cukup akan mempunyai prestasi yang lebih baik, imunitas meningkat, angka kesakitan rendah, dan mendukung pendidikan karakter mereka,” ujar Tasripin.
Minimnya aktivitas gerak berdampak langsung pada aspek kebugaran seperti kekuatan otot, daya tahan jantung-paru, kelenturan tubuh, hingga komposisi fisik. Anak-anak yang tidak bugar lebih mudah merasa lelah, berisiko tinggi terkena penyakit tidak menular pada masa depan, serta lebih sulit berkonsentrasi dalam belajar.
Jika dibiarkan, dampak jangka panjangnya mencakup meningkatnya angka obesitas, diabetes tipe 2, gangguan jantung, hingga masalah kesehatan mental. Kombinasi pola tidur yang buruk, konsumsi gula berlebihan, dan gaya hidup pasif menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan RI meluncurkan program kesehatan olahraga yang menekankan peningkatan kebugaran melalui latihan fisik dan olahraga sesuai kaidah kesehatan. Untuk kalangan pelajar, upaya ini diperkuat dengan pemeriksaan kesehatan gratis yang mengevaluasi tingkat aktivitas fisik dan kondisi jasmani.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi tenaga kesehatan di puskesmas untuk mendeteksi masalah sejak dini sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan sebelum berubah menjadi penyakit kronis.
“Latihan penguatan otot dan tulang dianjurkan dilakukan setidaknya tiga kali seminggu, dan dapat menjadi bagian dari 60 menit aktivitas harian tersebut," imbuh Tasripin.
Selain itu, penggunaan gawai dan layar perlu dibatasi. Anak sebaiknya tidak menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari untuk menonton televisi atau bermain gadget.
Menurut Tasripin, sekolah memiliki peranan penting dalam membangun budaya hidup aktif. Bentuknya bisa berupa peregangan 5-10 menit sebelum kelas dimulai, permainan sederhana saat istirahat, lomba kebersihan antar kelas, hingga kegiatan ekstrakurikuler olahraga seperti sepak bola, bola voli, basket, atau bela diri. Kegiatan seni yang melibatkan gerak misalnya tari dan musik juga dapat menjadi alternatif yang menyehatkan.
Baca juga: 3 Ide Aktivitas Petualangan Edukatif untuk Bangkitkan Imajinasi Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Hal lebih mengkhawatirkan, rendahnya aktivitas fisik menjadi masalah terbesar. Tasripin menyebut, 76,2% pelajar usia 13-17 tahun tidak aktif secara fisik. Kebiasaan ini diperburuk oleh pola tidur yang kurang, sebab 62% siswa tidur kurang dari 8 jam sehari.
Perbandingan data Riset Kesehatan Dasar 2013 dan 2018 dengan Survei Kesehatan Indonesia 2023 memperlihatkan lonjakan signifikan pada kasus kurang aktivitas fisik. Hal ini menunjukkan Indonesia masih jauh dari target Global Action Plan on Physical Activity WHO yang menargetkan penurunan prevalensi hingga 28,5%.
Baca juga: Risiko Sedentary Lifestyle Mengintai Pekerja Kantoran, Begini Cara Menghindarinya
Selain itu, distribusi masalah tidak merata antarwilayah. Beberapa provinsi melaporkan lebih dari separuh penduduknya kurang bergerak. Remaja usia 10-19 tahun menjadi kelompok dengan tingkat sedentary lifestyle tertinggi dibanding usia lainnya.
“Anak-anak yang memiliki kebugaran cukup akan mempunyai prestasi yang lebih baik, imunitas meningkat, angka kesakitan rendah, dan mendukung pendidikan karakter mereka,” ujar Tasripin.
Minimnya aktivitas gerak berdampak langsung pada aspek kebugaran seperti kekuatan otot, daya tahan jantung-paru, kelenturan tubuh, hingga komposisi fisik. Anak-anak yang tidak bugar lebih mudah merasa lelah, berisiko tinggi terkena penyakit tidak menular pada masa depan, serta lebih sulit berkonsentrasi dalam belajar.
Jika dibiarkan, dampak jangka panjangnya mencakup meningkatnya angka obesitas, diabetes tipe 2, gangguan jantung, hingga masalah kesehatan mental. Kombinasi pola tidur yang buruk, konsumsi gula berlebihan, dan gaya hidup pasif menjadi ancaman nyata bagi generasi muda.
Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan RI meluncurkan program kesehatan olahraga yang menekankan peningkatan kebugaran melalui latihan fisik dan olahraga sesuai kaidah kesehatan. Untuk kalangan pelajar, upaya ini diperkuat dengan pemeriksaan kesehatan gratis yang mengevaluasi tingkat aktivitas fisik dan kondisi jasmani.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar bagi tenaga kesehatan di puskesmas untuk mendeteksi masalah sejak dini sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan sebelum berubah menjadi penyakit kronis.
Bagaimana Seharusnya Aktivitas Fisik Anak?
Mengacu pada pedoman WHO, anak usia sekolah disarankan melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit per hari. Waktu ini bisa dibagi ke beberapa sesi singkat seperti berjalan kaki ke sekolah selama 10 menit, berolahraga saat jam istirahat 10-15 menit, dan melanjutkannya dengan aktivitas sore seperti bersepeda atau bermain 20-30 menit.“Latihan penguatan otot dan tulang dianjurkan dilakukan setidaknya tiga kali seminggu, dan dapat menjadi bagian dari 60 menit aktivitas harian tersebut," imbuh Tasripin.
Selain itu, penggunaan gawai dan layar perlu dibatasi. Anak sebaiknya tidak menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari untuk menonton televisi atau bermain gadget.
Menurut Tasripin, sekolah memiliki peranan penting dalam membangun budaya hidup aktif. Bentuknya bisa berupa peregangan 5-10 menit sebelum kelas dimulai, permainan sederhana saat istirahat, lomba kebersihan antar kelas, hingga kegiatan ekstrakurikuler olahraga seperti sepak bola, bola voli, basket, atau bela diri. Kegiatan seni yang melibatkan gerak misalnya tari dan musik juga dapat menjadi alternatif yang menyehatkan.
Baca juga: 3 Ide Aktivitas Petualangan Edukatif untuk Bangkitkan Imajinasi Anak
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.