Saat Estetika Film Merambah Iklan Komersial di Tangan Bizaroid
27 October 2025 |
14:34 WIB
Industri periklanan modern, terutama yang melayani merek-merek mewah internasional menuntut tingkat keahlian dan kualitas visual yang tinggi. Oleh karena itu, bagi agensi periklanan global seperti Bizaroid, apa yang disebut sebagai craftsmanship menjadi nilai yang dijunjung dalam dunia periklanan berbasis estetika.
Kualitas tersebut kerap diwujudkan melalui sentuhan sinematik yang dianggap sebagai standar emas dalam produksi visual. Pendekatan sinematik inilah yang kemudian menarik banyak profesional kreatif untuk terlibat di dalamnya, termasuk para editor yang melihat iklan lebih dari sekadar alat pemasaran saja.
Film Editor Bizaroid Chee Han Kartosen Wong contohnya, melihat iklan juga sebagai medium ekspresi visual. Dia mengakui bahwa daya tariknya terhadap dunia iklan berawal dari kekaguman terhadap kualitas produksi yang luar biasa. Ketertarikannya tumbuh ketika ia menyadari bahwa iklan tidak sekadar promosi, melainkan juga karya seni yang mampu membangkitkan emosi.
“Saya terinspirasi oleh salah satu iklan TV paling ikonik yang dibuat oleh Nike di tahun 90-an. Dan saya pikir Messi ada di dalamnya, pemain sepak bola internasional yang sangat terkenal. Dan iklan TV itu sangat sinematik sehingga saya berpikir saya ingin berada di dalamnya,” kata Chee Han.
Baca juga: Jakarta Film Week 2025 Jadi Tonggak Baru Menuju Jakarta Kota Sinema
Bagi Chee Han, estetika sinematik tidak hanya tentang visual yang memanjakan mata, tetapi juga tentang bagaimana setiap detail dikerjakan dengan ketelitian dan rasa. Dia melihat hubungan erat antara sinema dan keahlian tangan manusia yang melahirkan karya bernilai tinggi.
“Jadi bagi saya, itu juga sangat selaras dengan hal yang sama. Sinema bagi saya berarti keahlian dari craftman atau craftwoman,” katanya.
Kualitas semacam itu menjadi tuntutan utama dari merek-merek besar seperti Nike dan Adidas yang memahami pentingnya produksi berstandar tinggi untuk menjaga citra merek mereka.
Namun, diakui Chee Han, mempertahankan kualitas sinematik kini menjadi tantangan tersendiri di tengah keterbatasan anggaran dan dominasi konten media sosial. Banyak merek kecil belum memahami proses panjang di balik produksi film yang memerlukan waktu dan perencanaan matang, berbeda dengan merek besar yang sadar bahwa nilai visual tak bisa diciptakan secara instan.
Pandangan serupa diungkapkan oleh International Product Manager Bizaroid, Erick Rikmawan. Dia menjelaskan bahwa perusahaannya banyak bekerja sama dengan klien merek mewah (high brand luxury) yang terkenal secara global. Mereka yang memiliki standar kualitas sangat tinggi dan mengutamakan estetika sebagai identitas merek.
Erick melihat adanya tren baru dalam industri periklanan yang bergerak ke arah visual sinematik yang dipicu oleh kebutuhan merek-merek mewah untuk menghadirkan kesan eksklusif.
Bizaroid kerap dipercaya menangani proses post-production dan berinteraksi langsung dengan klien, termasuk Chanel yang memiliki departemen internal sendiri untuk iklan.
Dalam kampanye merek-merek mewah seperti ini, standar kualitas tertinggi menjadi hal mutlak. Sentuhan manusia tetap dianggap tak tergantikan, bahkan di tengah tren penggunaan AI yang makin marak. Nilai tinggi sebuah karya diyakini terletak pada proses dan keahlian, bukan sekadar kecepatan produksi digital.
Erick menegaskan keyakinannya terhadap arah tren tersebut. “Berdasarkan pengalaman saya, karena saya bukan orang teknis di sini, tetapi sebagai hubungan dengan klien dan keseluruhannya, saya pikir tren itu mengarah ke arah itu sekarang,” katanya.
Salah satu contoh nyata adalah kolaborasi Bizaroid dengan Chanel, di mana tim mereka mengerjakan pre-visualization untuk produksi virtual menggunakan layar biru, sehingga hasil akhir dapat dilihat secara real-time di lokasi syuting. Dalam 3 tahun terakhir, Bizaroid juga terlibat dalam pembuatan lebih dari 300 video untuk berbagai kampanye Chanel.
Pada salah satu kampanye bertema feminitas, kamera film analog 60mm digunakan untuk menghadirkan nuansa klasik dan vintage. Proses ini menuntut ketelitian tinggi karena hasilnya tidak dapat langsung dilihat dan harus melalui tahapan pencetakan yang panjang. Hal ini menekankan pendekatan yang menegaskan bahwa keindahan sejati tetap lahir dari kesabaran dan keahlian manusia.
Dia menggambarkan bahwa dalam proyek iklan komersial, dia sering menilai apakah suatu ide sudah masuk akal sekaligus menyeimbangkan dua kepentingan yang berbeda antara tim kreatif yang berupaya menjual merek dengan pendekatan artistik dan pihak merek yang berfokus pada visibilitas logo. Dalam situasi seperti itu, peran editor ditempatkan di tengah-tengah, di antara dua arah pandang yang kontras tapi sama-sama penting.
Tugas seorang editor kemudian ditekankan sebagai upaya membantu tim kreatif dan sutradara mencapai tujuan estetika sembari memastikan pesan produk tersampaikan dengan jelas kepada audiens. Sebab, pada akhirnya, publik perlu memahami produk apa yang sedang mereka lihat.
Di sisi lain, tantangan berbeda dihadapi oleh Erick yang berperan sebagai penghubung budaya. Dia menjelaskan bahwa dalam proses beauty retouch di Eropa, terdapat batasan ketat mengenai sejauh mana perubahan boleh dilakukan misalnya dalam menghilangkan jerawat atau tanda lahir. Namun, standar tersebut berbeda di Asia, di mana tuntutan akan hasil dengan kulit sangat putih terasa lebih ekstrem.
Dalam menghadapi dua standar itu, Erick berusaha menemukan titik tengah yang tetap menjaga nilai estetika tanpa kehilangan keaslian visual. Menurutnya, kualitas dan penceritaan yang jujur justru menjadi kunci agar audiens dapat terhubung secara emosional dengan sebuah iklan. Karena itu, dia meyakini bahwa kualitas yang lahir dari craftsmanship akan selalu menjadi hal yang dicari oleh klien.
Baca juga: Jalan Panjang Sutradara Loeloe Hendra Melahirkan Film Pertama Tale of The Land
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kualitas tersebut kerap diwujudkan melalui sentuhan sinematik yang dianggap sebagai standar emas dalam produksi visual. Pendekatan sinematik inilah yang kemudian menarik banyak profesional kreatif untuk terlibat di dalamnya, termasuk para editor yang melihat iklan lebih dari sekadar alat pemasaran saja.
Film Editor Bizaroid Chee Han Kartosen Wong contohnya, melihat iklan juga sebagai medium ekspresi visual. Dia mengakui bahwa daya tariknya terhadap dunia iklan berawal dari kekaguman terhadap kualitas produksi yang luar biasa. Ketertarikannya tumbuh ketika ia menyadari bahwa iklan tidak sekadar promosi, melainkan juga karya seni yang mampu membangkitkan emosi.
“Saya terinspirasi oleh salah satu iklan TV paling ikonik yang dibuat oleh Nike di tahun 90-an. Dan saya pikir Messi ada di dalamnya, pemain sepak bola internasional yang sangat terkenal. Dan iklan TV itu sangat sinematik sehingga saya berpikir saya ingin berada di dalamnya,” kata Chee Han.
Baca juga: Jakarta Film Week 2025 Jadi Tonggak Baru Menuju Jakarta Kota Sinema
Bagi Chee Han, estetika sinematik tidak hanya tentang visual yang memanjakan mata, tetapi juga tentang bagaimana setiap detail dikerjakan dengan ketelitian dan rasa. Dia melihat hubungan erat antara sinema dan keahlian tangan manusia yang melahirkan karya bernilai tinggi.
“Jadi bagi saya, itu juga sangat selaras dengan hal yang sama. Sinema bagi saya berarti keahlian dari craftman atau craftwoman,” katanya.
Kualitas semacam itu menjadi tuntutan utama dari merek-merek besar seperti Nike dan Adidas yang memahami pentingnya produksi berstandar tinggi untuk menjaga citra merek mereka.
Namun, diakui Chee Han, mempertahankan kualitas sinematik kini menjadi tantangan tersendiri di tengah keterbatasan anggaran dan dominasi konten media sosial. Banyak merek kecil belum memahami proses panjang di balik produksi film yang memerlukan waktu dan perencanaan matang, berbeda dengan merek besar yang sadar bahwa nilai visual tak bisa diciptakan secara instan.
Pandangan serupa diungkapkan oleh International Product Manager Bizaroid, Erick Rikmawan. Dia menjelaskan bahwa perusahaannya banyak bekerja sama dengan klien merek mewah (high brand luxury) yang terkenal secara global. Mereka yang memiliki standar kualitas sangat tinggi dan mengutamakan estetika sebagai identitas merek.
Erick melihat adanya tren baru dalam industri periklanan yang bergerak ke arah visual sinematik yang dipicu oleh kebutuhan merek-merek mewah untuk menghadirkan kesan eksklusif.
Bizaroid kerap dipercaya menangani proses post-production dan berinteraksi langsung dengan klien, termasuk Chanel yang memiliki departemen internal sendiri untuk iklan.
Dalam kampanye merek-merek mewah seperti ini, standar kualitas tertinggi menjadi hal mutlak. Sentuhan manusia tetap dianggap tak tergantikan, bahkan di tengah tren penggunaan AI yang makin marak. Nilai tinggi sebuah karya diyakini terletak pada proses dan keahlian, bukan sekadar kecepatan produksi digital.
Erick menegaskan keyakinannya terhadap arah tren tersebut. “Berdasarkan pengalaman saya, karena saya bukan orang teknis di sini, tetapi sebagai hubungan dengan klien dan keseluruhannya, saya pikir tren itu mengarah ke arah itu sekarang,” katanya.
Salah satu contoh nyata adalah kolaborasi Bizaroid dengan Chanel, di mana tim mereka mengerjakan pre-visualization untuk produksi virtual menggunakan layar biru, sehingga hasil akhir dapat dilihat secara real-time di lokasi syuting. Dalam 3 tahun terakhir, Bizaroid juga terlibat dalam pembuatan lebih dari 300 video untuk berbagai kampanye Chanel.
Pada salah satu kampanye bertema feminitas, kamera film analog 60mm digunakan untuk menghadirkan nuansa klasik dan vintage. Proses ini menuntut ketelitian tinggi karena hasilnya tidak dapat langsung dilihat dan harus melalui tahapan pencetakan yang panjang. Hal ini menekankan pendekatan yang menegaskan bahwa keindahan sejati tetap lahir dari kesabaran dan keahlian manusia.
Menjembatani Visi Kreatif dan Tuntutan Merek
Dalam ruang editorial, editor kerap dihadapkan pada posisi sebagai penengah antara tim kreatif yang ingin menyampaikan pesan seindah mungkin dan pihak merek yang menuntut agar logo mereka terlihat di setiap sudut. Posisi netral itu kerap dirasakan oleh Chee Han dalam proses penyuntingan.Dia menggambarkan bahwa dalam proyek iklan komersial, dia sering menilai apakah suatu ide sudah masuk akal sekaligus menyeimbangkan dua kepentingan yang berbeda antara tim kreatif yang berupaya menjual merek dengan pendekatan artistik dan pihak merek yang berfokus pada visibilitas logo. Dalam situasi seperti itu, peran editor ditempatkan di tengah-tengah, di antara dua arah pandang yang kontras tapi sama-sama penting.
Tugas seorang editor kemudian ditekankan sebagai upaya membantu tim kreatif dan sutradara mencapai tujuan estetika sembari memastikan pesan produk tersampaikan dengan jelas kepada audiens. Sebab, pada akhirnya, publik perlu memahami produk apa yang sedang mereka lihat.
Di sisi lain, tantangan berbeda dihadapi oleh Erick yang berperan sebagai penghubung budaya. Dia menjelaskan bahwa dalam proses beauty retouch di Eropa, terdapat batasan ketat mengenai sejauh mana perubahan boleh dilakukan misalnya dalam menghilangkan jerawat atau tanda lahir. Namun, standar tersebut berbeda di Asia, di mana tuntutan akan hasil dengan kulit sangat putih terasa lebih ekstrem.
Dalam menghadapi dua standar itu, Erick berusaha menemukan titik tengah yang tetap menjaga nilai estetika tanpa kehilangan keaslian visual. Menurutnya, kualitas dan penceritaan yang jujur justru menjadi kunci agar audiens dapat terhubung secara emosional dengan sebuah iklan. Karena itu, dia meyakini bahwa kualitas yang lahir dari craftsmanship akan selalu menjadi hal yang dicari oleh klien.
Baca juga: Jalan Panjang Sutradara Loeloe Hendra Melahirkan Film Pertama Tale of The Land
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.