Sutradara Loeloe Hendra (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Jalan Panjang Sutradara Loeloe Hendra Melahirkan Film Pertama Tale of The Land

25 October 2025   |   08:30 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk memperjuangkan sebuah karya lahir. Namun, bagi sutradara pendatang baru Loeloe Hendra, waktu panjang itu adalah bagian dari proses untuk menempa diri dan karyanya sampai akhirnya siap untuk diproduksi dan tayang untuk publik.

Melalui Tale of The Land, yang menjadi debut film panjangnya, Loeloe menunjukkan bahwa ketekunan dan keyakinan bisa mengubah ide sederhana menjadi kisah yang menggugah hati. Lewat film ini, Loloe mencoba membuka mata publik tentang perjuangan manusia mempertahankan tanah dan identitasnya dalam balutan tangga dramatik yang menggugah.

Loeloe mulai mengembangkan naskah Tale of The Land sejak 2016. Saat itu, dirinya tengah prihatin dengan isu sosial dan lingkungan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia, terutama Kalimantan. Dari sana, dirinya mencoba menggali isu tersebut dengan riset yang mendalam. Dari riset, dia lalu mengubahnya dengan naskah cerita fiksi yang menarik.

Baca Juga: Tale of the Land & Yohanna Raih Penghargaan di Asian Film Festival 2025 di Roma

“Saya mulai menulis dari tahun 2016. Waktu itu belum terpikir kapan akan diproduksi, tapi saya tahu cerita ini penting untuk disuarakan,” kata Loe Loe Hendra.

Cerita tersebut kemudian mengendap cukup lama. Sebab, sejak naskah pertama ditulis, dirinya harus menunggu hingga delapan tahun untuk masuk ke fase produksi. Loloe menyebut prosesnya memang cukup lama karena ada beberapa faktor.

Pertama, terkait dengan pendanaan. Mengingat ini adalah debut feature-nya, dirinya pun mencoba mencari pendanaan ke berbagai festival maupun lab tertentu. Dirinya bersyukur, film ini akhirnya menemukan jalan karena mendapat sambutan yang cukup baik. Film ini kemudian menjadi koproduksi bersama beberapa negara, seperti Taiwan, Filipina, dan Qatar.

Menurut Loe, kerja sama lintas negara ini memungkinkan filmnya memiliki skala produksi yang lebih besar sehingga ide-idenya bisa mewujud lebih baik. Sebenarnya, katanya, film ini bisa diproduksi lebih cepat. Namun, pada 2020, dunia mengalami pandemi Covid-19 sehingga memperpanjang proses pengembangan film.

Meski demikian, Loe tetap bertahan karena keyakinannya terhadap pesan yang ingin disampaikan lewat film ini. Di sisi lain, waktu yang panjang ini juga membuat dirinya makin memperdalam cerita di dalam naskahnya.

Sebab, seiring waktu, Kalimantan, yang menjadi setting tempat di filmnya juga mengalami banyak perubahan. Dirinya pun menyesuaikan beberapa detail cerita dengan perkembangan situasi sosial yang terjadi di Indonesia.

"Salah satu hal yang memengaruhi penulisan adalah rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan, yang secara tidak langsung memberikan konteks baru terhadap cerita dan karakter film," jelasnya.
 

Sutradara Loeloe Hendra, produser, dan pemain Tale of The Land (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)

Sutradara Loeloe Hendra, produser, dan pemain Tale of The Land (Sumber gambar: Chelsea Venda/Hypeabis.id)


Situasi sosial yang dinamis membuat Loeloe terus merefleksikan relevansi cerita yang dia tulis. Dia juga mengamati perubahan yang terjadi di lapangan, dari pergeseran kehidupan masyarakat hingga tekanan terhadap komunitas adat. Hal-hal tersebut akhirnya memperkaya dimensi cerita Tale of The Land, menjadikannya lebih hidup dan dekat dengan realitas sosial yang ada.

“Saya melihat banyak teman-teman adat berjuang mempertahankan tanahnya. Tapi faktanya, kebanyakan dari mereka selalu kalah,” imbuhnya.

Situasi-situasi inilah yang kemudian coba disangkut-pautkan dengan karakternya, baik dalam bentuk cerita maupun latar belakang di balik keputusan-keputusan yang diambil di film.

Dalam proses pengembangan, Loe juga terus memperdalam karakter utama bernama Tuha. Tokoh ini menjadi simbol perjuangan dan keputusasaan manusia yang mencoba melawan arus besar kekuasaan.

Setelah rampung diproduksi pada 2024, film ini mulai berkeliling untuk mendistribusikan karyanya lewat jalur festival. Film ini juga sempat mendapatkan kesempatan pemutaran di Busan International Film Festival 2024 hingga mendapat Most Original Film Award di ajang Asian Film Festival 2025. Terbaru film ini juga diputar di Jakarta Film Week 2025

Film Tale of the Land menggambarkan kisah seorang gadis Dayak bernama May yang tengah berada pada masa paling kelam dalam hidupnya. Dia terus dibayangi trauma mendalam akibat kematian kedua orang tuanya dalam konflik perebutan lahan.

Tragisnya, peristiwa itu membuat May tak lagi mampu menjejakkan kaki di tanah. Sejak saat itu, dia memilih tinggal di rumah terapung bersama sang kakek, Tuha. Melalui kisah ini, Tale of the Land menyoroti kehidupan masyarakat adat yang terpaksa hidup di perahu terapung setelah kehilangan tanah tempat mereka berpijak.

Film yang dibintangi Shenina Cinnamon, Arswendy Bening Nasution, Angga Yunanda, Yusuf Mahardika dan Bagus Ade Saputra dikabarkan tengah menjalani proses untuk segera tayang di bioskop komersil setelah setahun berkeliling di sejumlah festival. Dalam waktu dekat, film akan tayang di bioskop, meski jadwal tayang masih belum diungkap.

Baca Juga: Ini Alasan Film Tale of The Land Meraih FIPRESCI Prize di Busan International Film Festival 2024

SEBELUMNYA

Ramaikan Jakarta Running Festival 2025, Strava Rilis Temuan Tren & Pola Latihan Pelari

BERIKUTNYA

AI Ubah Wajah Dunia Kerja, Meutya Hafid: Jangan Takut

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga