47 Persen Hotel di Indonesia Kalah Cepat dari Kompetitor, AI Disebut Bisa Jadi Solusi
26 October 2025 |
22:00 WIB
Industri perhotelan Indonesia terus bergerak di tengah lanskap yang makin kompetitif dan dinamis. Lonjakan wisata domestik, masuknya event internasional, hingga perubahan cepat dalam perilaku wisatawan membuat kecepatan mengambil keputusan menjadi faktor penentu dalam mempertahankan keuntungan.
Namun, di balik potensi besar tersebut, banyak hotel masih tertinggal dalam hal respons pasar dan pemanfaatan teknologi. Temuan terbaru situs SiteMinder menunjukkan bahwa sebagian besar hotel di Indonesia kerap kehilangan peluang pendapatan hanya karena tidak mampu bergerak cukup cepat saat permintaan melonjak atau harga kompetitor berubah.
Baca juga: Hotel Swiss-Belresidences Rasuna Epicentrum Gelar Sunset Pool Dinner, Nostalgia Musik 90-an
Sebanyak 47% hotelier di Indonesia mengaku sering melewatkan peluang pendapatan sedikitnya sekali setiap minggu karena tidak mampu merespons cukup cepat terhadap perubahan pasar terutama ketika kompetitor mengubah harga atau munculnya event baru.
Fenomena tersebut menggambarkan tantangan besar dalam industri perhotelan di Indonesia. Sebanyak 92% hotelier di Indonesia menyatakan bahwa kecepatan merespons pasar (speed-to-market) menjadi makin penting dalam 1 tahun terakhir. Namun, banyak hotel yang masih mengandalkan proses manual. Tanpa disadari, hal ini membatasi kemampuan mereka untuk menyesuaikan strategi harga dan ketersediaan kamar dengan cepat.
Menurut survei yang dilakukan SiteMinder pada Agustus 2025 terhadap 700 hotelier global termasuk 59 responden dari Indonesia 46% hotelier lokal hanya memperbarui tarif kamar sebulan sekali atau bahkan lebih jarang, sementara 42% lainnya melakukannya seminggu sekali saja. Padahal, kondisi pasar bisa berubah beberapa kali dalam sehari, terutama ketika permintaan melonjak akibat event besar.
Keterlambatan dalam merespons pasar menjadi makin terasa karena industri perhotelan Indonesia tengah menikmati gelombang peluang dari berbagai event besar. Data SiteMinder menunjukkan bahwa hotel-hotel di Lombok dan Bali Selatan mencatat kenaikan tarif kamar rata-rata hingga 19% year-on-year selama ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025, dengan tarif harian rata-rata mencapai Rp3.013.711 dan total pemesanan meningkat hampir 10%.
Angka ini menegaskan potensi keuntungan yang bisa diraih jika hotel mampu menyesuaikan harga dan strategi penjualan secara dinamis sesuai pergerakan permintaan pasar.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI) makin diandalkan untuk menjawab berbagai tantangan industri, termasuk dalam sektor perhotelan yang membutuhkan keputusan cepat dan berbasis data.
Minat hotelier Indonesia terhadap solusi berbasis teknologi untuk mengurusin hal ini juga meningkat. Menurut data SiteMinder, 68% hotelier di Indonesia secara aktif mencari solusi berbasis AI, jauh di atas rata-rata global sebesar 49%, sementara 25% lainnya terbuka terhadap rekomendasi berbasis AI.
Melihat hal tersebut, SiteMinder memperkenalkan Dynamic Revenue Plus, sebuah solusi manajemen pendapatan berbasis mobile yang dikembangkan bersama IDeaS. Teknologi ini dirancang agar pendapatan manajemen tingkat lanjut dapat diakses oleh semua jenis hotel tanpa perlu memiliki tim khusus atau sistem yang kompleks.
Platform ini menawarkan intelijen pasar real-time dan memungkinkan hotelier mengambil aksi langsung terhadap strategi harga, inventori, dan distribusi, dengan rekomendasi harian yang disesuaikan berdasarkan event lokal, perubahan kompetitor, dan tren permintaan pasar.
Market Vice President untuk Asia Pasifik di SiteMinder Bradley Haines mengatakan, banyak hotel di Indonesia belum memiliki tim khusus untuk manajemen pendapatan, sementara dinamika pasar makin kompleks, mulai dari event olahraga besar hingga pola perjalanan yang cepat berubah. Untuk itu, Dynamic Revenue Plus diluncurkan dalam upaya mendorong adopsi manajemen pendapatan yang lebih luas dengan menggabungkan intelijen pasar real-time dan kemampuan eksekusi instan dalam satu sistem mobile-first.
"Hotel mana pun di Indonesia, baik dari butik di Ubud maupun resor di Lombok, dapat beralih dari praktik manual statis menuju operasional yang benar-benar dinamis," kata Haines. Menurut Haines, produk ini hadir sebagai strategi pemberdayaan hotel lokal agar lebih tangkas dalam menghadapi pasar yang makin digital dan kompetitif.
Adapun Dynamic Revenue Plus dibangun di atas ekosistem data milik SiteMinder yang memproses lebih dari 130 juta reservasi hotel per tahun. Ditenagai oleh SiteMinder iQ, mesin AI internal perusahaan, platform ini mampu mengonversi data dalam jumlah besar menjadi insight yang bisa langsung ditindaklanjuti, sehingga hotelier bisa mengambil keputusan strategis secara cepat dan akurat.
Baca juga: Lee Do-hyun dan Shin Si-a Bakal Jadi Penghuni Hotel Misterius Grand Galaxy Hotel
Namun, di balik potensi besar tersebut, banyak hotel masih tertinggal dalam hal respons pasar dan pemanfaatan teknologi. Temuan terbaru situs SiteMinder menunjukkan bahwa sebagian besar hotel di Indonesia kerap kehilangan peluang pendapatan hanya karena tidak mampu bergerak cukup cepat saat permintaan melonjak atau harga kompetitor berubah.
Baca juga: Hotel Swiss-Belresidences Rasuna Epicentrum Gelar Sunset Pool Dinner, Nostalgia Musik 90-an
Sebanyak 47% hotelier di Indonesia mengaku sering melewatkan peluang pendapatan sedikitnya sekali setiap minggu karena tidak mampu merespons cukup cepat terhadap perubahan pasar terutama ketika kompetitor mengubah harga atau munculnya event baru.
Fenomena tersebut menggambarkan tantangan besar dalam industri perhotelan di Indonesia. Sebanyak 92% hotelier di Indonesia menyatakan bahwa kecepatan merespons pasar (speed-to-market) menjadi makin penting dalam 1 tahun terakhir. Namun, banyak hotel yang masih mengandalkan proses manual. Tanpa disadari, hal ini membatasi kemampuan mereka untuk menyesuaikan strategi harga dan ketersediaan kamar dengan cepat.
Menurut survei yang dilakukan SiteMinder pada Agustus 2025 terhadap 700 hotelier global termasuk 59 responden dari Indonesia 46% hotelier lokal hanya memperbarui tarif kamar sebulan sekali atau bahkan lebih jarang, sementara 42% lainnya melakukannya seminggu sekali saja. Padahal, kondisi pasar bisa berubah beberapa kali dalam sehari, terutama ketika permintaan melonjak akibat event besar.
Keterlambatan dalam merespons pasar menjadi makin terasa karena industri perhotelan Indonesia tengah menikmati gelombang peluang dari berbagai event besar. Data SiteMinder menunjukkan bahwa hotel-hotel di Lombok dan Bali Selatan mencatat kenaikan tarif kamar rata-rata hingga 19% year-on-year selama ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025, dengan tarif harian rata-rata mencapai Rp3.013.711 dan total pemesanan meningkat hampir 10%.
Angka ini menegaskan potensi keuntungan yang bisa diraih jika hotel mampu menyesuaikan harga dan strategi penjualan secara dinamis sesuai pergerakan permintaan pasar.
AI Jadi Solusi Praktis

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Sumber gambar: Unsplash)
Minat hotelier Indonesia terhadap solusi berbasis teknologi untuk mengurusin hal ini juga meningkat. Menurut data SiteMinder, 68% hotelier di Indonesia secara aktif mencari solusi berbasis AI, jauh di atas rata-rata global sebesar 49%, sementara 25% lainnya terbuka terhadap rekomendasi berbasis AI.
Melihat hal tersebut, SiteMinder memperkenalkan Dynamic Revenue Plus, sebuah solusi manajemen pendapatan berbasis mobile yang dikembangkan bersama IDeaS. Teknologi ini dirancang agar pendapatan manajemen tingkat lanjut dapat diakses oleh semua jenis hotel tanpa perlu memiliki tim khusus atau sistem yang kompleks.
Platform ini menawarkan intelijen pasar real-time dan memungkinkan hotelier mengambil aksi langsung terhadap strategi harga, inventori, dan distribusi, dengan rekomendasi harian yang disesuaikan berdasarkan event lokal, perubahan kompetitor, dan tren permintaan pasar.
Market Vice President untuk Asia Pasifik di SiteMinder Bradley Haines mengatakan, banyak hotel di Indonesia belum memiliki tim khusus untuk manajemen pendapatan, sementara dinamika pasar makin kompleks, mulai dari event olahraga besar hingga pola perjalanan yang cepat berubah. Untuk itu, Dynamic Revenue Plus diluncurkan dalam upaya mendorong adopsi manajemen pendapatan yang lebih luas dengan menggabungkan intelijen pasar real-time dan kemampuan eksekusi instan dalam satu sistem mobile-first.
"Hotel mana pun di Indonesia, baik dari butik di Ubud maupun resor di Lombok, dapat beralih dari praktik manual statis menuju operasional yang benar-benar dinamis," kata Haines. Menurut Haines, produk ini hadir sebagai strategi pemberdayaan hotel lokal agar lebih tangkas dalam menghadapi pasar yang makin digital dan kompetitif.
Adapun Dynamic Revenue Plus dibangun di atas ekosistem data milik SiteMinder yang memproses lebih dari 130 juta reservasi hotel per tahun. Ditenagai oleh SiteMinder iQ, mesin AI internal perusahaan, platform ini mampu mengonversi data dalam jumlah besar menjadi insight yang bisa langsung ditindaklanjuti, sehingga hotelier bisa mengambil keputusan strategis secara cepat dan akurat.
Baca juga: Lee Do-hyun dan Shin Si-a Bakal Jadi Penghuni Hotel Misterius Grand Galaxy Hotel
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.