Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo dalam acara diskusi dengan awak media di Jakarta, Jumat (24/10/2025) malam. (sumber gambar: Kemenkebud)

Peluncuran Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Dijadwalkan 14 Desember 2025, Bertepatan dengan Hari Sejarah Nasional

25 October 2025   |   16:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Peluncuran buku penulisan ulang sejarah Indonesia kembali dijadwalkan ulang setelah sempat tertunda dari rencana awal pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan RI. Rencananya, buku tersebut akan diterbitkan pada akhir tahun 2025.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan, proses penulisan buku sejarah Indonesia saat ini sudah rampung. Tim penulis dan editor kini tengah menyelesaikan proses penyuntingan. Dengan demikian, peluncuran buku penulisan ulang sejarah Indonesia dijadwalkan pada 14 Desember 2025.

“Saat ini penulisan sejarah sedang dalam tahap penyuntingan oleh para editor jilid dan editor umum. Setelah itu, kami akan melakukan uji publik satu hingga dua kali. Harapannya, buku ini bisa diluncurkan pada 14 Desember mendatang, bertepatan dengan Hari Sejarah Nasional,” ujarnya kepada awak media.

Baca Juga: Menbud Fadli Zon Beberkan Alasan Buku Sejarah Indonesia Batal Rilis 17 Agustus 2025

Lebih lanjut, Fadli mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah seminar dan uji publik penulisan ulang buku sejarah Indonesia sejak Juli 2025. Agenda tersebut, paparnya, menjadi bagian penting dari rangkaian rencana penerbitan buku babon sejarah nasional yang digarap oleh Kementerian Kebudayaan.

Secara total, terdapat empat diskusi publik yang digelar di empat kampus, yakni Universitas Indonesia pada 25 Juli 2025, disusul Universitas Lambung Mangkurat pada 28 Juli 2025, Universitas Negeri Padang pada 31 Juli 2025, dan Universitas Negeri Makassar pada 4 Agustus 2025.

Fadli menegaskan bahwa program penulisan sejarah nasional bukanlah gagasan baru, melainkan kelanjutan dari upaya memperbarui narasi sejarah Indonesia yang selama ini stagnan. Gagasan ini, menurutnya, muncul saat dirinya bertemu dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia pada 2024 di Bandung.

“Selama 26 tahun kita tidak menulis sejarah. Waktu itu saya langsung bilang, kita targetkan penulisan pada bulan Agustus sebanyak mungkin untuk 80 tahun Indonesia. Maksudnya, kalau lebih cepat, bisa diluncurkan pada Agustus. Jadi, Agustus kemarin sebenarnya sudah selesai,” imbuhnya.

Diketahui, buku yang nantinya berjudul Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global ini dikerjakan oleh 112 penulis dengan latar belakang disiplin ilmu beragam, mulai dari arkeologi, sejarah, epigrafi, filologi, geografi, hingga ilmu sosial-humaniora.

Para penulis berasal dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia dan delapan lembaga nonakademik, dengan memperhatikan keterwakilan wilayah serta keseimbangan gender. Buku sejarah tersebut terdiri atas 10 jilid, dan setiap jilidnya berisi sekitar 550 halaman.

Penyusunan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global dinakhodai oleh Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum. (Universitas Indonesia), Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum. (Universitas Diponegoro), dan Prof. Jajat Burhanudin, M.A. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Kendati dianggap sebagai langkah penting untuk memutakhirkan data sejarah, proses penyusunan buku ini tidak lepas dari sorotan publik, terutama dari kalangan akademisi. Salah satu suara kritis datang dari arkeolog dan ahli prasejarah senior Truman Simanjuntak, yang sempat terlibat namun kemudian memilih mundur.

Dalam diskusi bertajuk “Prasejarah Bukan Sejarah” yang diadakan oleh Center for Prehistory and Austronesian Studies (CPAS), Truman mengungkap sejumlah kejanggalan dalam proses penyusunan buku tersebut. Salah satu sorotan utamanya adalah target waktu pengerjaan yang dianggap terlalu terburu-buru dan tidak realistis.

Dia menilai, waktu pengerjaan selama lima bulan, terhitung sejak Januari hingga Juni, tidak cukup untuk menyusun ulang sejarah nasional yang kompleks dan luas. Truman menekankan bahwa proses akademik untuk menulis buku sejarah semestinya dilakukan secara cermat dan mendalam, bukan dengan tenggat yang singkat.

Sebagai perbandingan, dia menyinggung proyek Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS) yang memakan waktu satu dekade, dari 2002 hingga 2012. “Bukan main. Kita yang sudah biasa menulis buku sejarah bisa butuh waktu bertahun-tahun,” ujar Truman.

Truman juga menyoroti kemungkinan adanya campur tangan kekuasaan dalam penyusunan konsepsi ilmiah buku tersebut. Menurutnya, hal ini berpotensi mengganggu independensi akademik yang seharusnya dijaga dalam setiap proyek ilmiah. Salah satu contohnya adalah penggantian istilah ‘prasejarah’ menjadi ‘sejarah awal’.

Baca Juga: Peluncuran Buku Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Mundur Jadi Oktober-November 2025

SEBELUMNYA

Indonesia Comic Con X Anime Con 2025 Resmi Digelar, Event Seru Para Pencinta Budaya Pop

BERIKUTNYA

Ruang Baca Cucu Intelektual Vol. 2 Hadir untuk Mengenang 6 Tahun Wafatnya B. J. Habibie

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga