Menteri Komdigi Meutya Hafid. (Sumber gambar: Desyinta Nuraini/Hypeabis.id)

AI Ubah Wajah Dunia Kerja, Meutya Hafid: Jangan Takut

25 October 2025   |   09:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Artificial intelligence (AI) kini tidak bisa dilepaskan dari aktivitas masyarakat saat ini. Teknologi kecerdasan buatan ini bahkan diprediksi dapat mengubah wajah dunia kerja di Indonesia. Bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan pemicu perubahan besar seperti pada alur cara bekerja, pengambilan keputusan, serta kompetensi penugasan AI di masa depan. 

Dari hasil riset bertajuk Indonesia AI Report 2025 yang dirilis Kumparan dan Populix, sebanyak 45% perusahaan di Indonesia, aktif mendorong penggunaan AI di tempat kerja. Jika dilihat dari sektor industri, sektor digital & media menunjukkan sikap paling progresif, dengan persentase tertinggi yakni 55 persen. 

Sementara itu, 57 persen publik yang sudah menggunakan chatbot AI generatif, baik itu ada atau tidaknya dukungan organisasi pada penggunaan AI dalam pekerjaan. Adapun 70 persen karyawan dalam survei ini merasa keterampilan AI yang mereka miliki sudah sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, terutama di organisasi yang mendorong penggunaan AI.

Baca Juga: PBB Sebut Dampak AI Generatif Lebih Rentan Terhadap Perempuan

“Dari hasil riset ini, 95 persen responden percaya AI akan mengubah kerjaan mereka dalam 5 tahun ke depan. Namun di sisi lain, 68 persen juga khawatir pekerjaan mereka bisa tergantikan oleh AI,” tutur Co-Founder dan CTO Populix Jonathan Benhi, dikutip Jumat (24/10/2025).

Jonathan menyebut fenomena ini sebagai bukti adanya inisiatif bottom-up di kalangan pekerja Indonesia. Kesadaran untuk belajar dan mengadopsi AI sudah muncul dari individu, bahkan sebelum diinisiasi oleh perusahaan. “Ini fondasi penting untuk tumbuh bersama AI,” imbuhnya.

Meski bayang-bayang kehilangan pekerjaan tetap ada, publik juga melihat peluang baru yang ditawarkan teknologi ini. Dari hasil survei, 17 persen responden percaya AI akan membuka lapangan kerja baru, sementara 56 persen yakin Indonesia sudah siap secara ekonomi untuk menyambut transformasi AI.

Jonathan menilai, angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak menempatkan AI semata-mata sebagai ancaman, melainkan sebagai katalis perubahan yang tak bisa dihindari. “Perubahan karena AI ini tidak bisa dihindari, tapi publik kita sudah menunjukkan kesiapan dan rasa ingin tahu yang besar untuk terus belajar,” katanya.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (AI) adalah peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, bukan ancaman bagi tenaga kerja manusia.

Memang, dikabarkan kecerdasan artifisial akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan pada  2025. Namun, pada saat yang bersamaan, AI juga berpotensi menciptakan 90 juta pekerjaan baru di berbagai bidang. “Karena itu, AI perlu diwaspadai, tetapi tidak perlu ditakuti,” tegas Meutya dalam acara kumparan AI for Indonesia di The Ballroom Djakarta Theater, Kamis (23/10/2025).

Menurut Meutya, Indonesia termasuk salah satu negara paling optimistis di dunia dalam menghadapi perkembangan AI. Masyarakat menunjukkan kesiapan tinggi dalam menerima teknologi baru tanpa rasa takut berlebihan.

“Berdasarkan berbagai survei, Indonesia dinilai sebagai negara yang mampu menerima AI dengan baik, tidak takut, dan itu merupakan pertanda yang baik,” ucapnya.

Dia berpendapat, AI harus diposisikan untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Pemerintah pun tengah menyusun Peta Jalan Nasional AI sebagai panduan strategis lintas sektor. Regulasi ini diharapkan terbit pada awal 2026 melalui Peraturan Presiden.

“Insyaallah pada awal tahun 2026, Peraturan Presiden tentang peta jalan ini sudah dapat diterbitkan dan menjadi pedoman bagi kita semua,” jelasnya.

Selain menyiapkan regulasi, pemerintah juga berfokus pada pemerataan akses digital agar seluruh masyarakat dapat menikmati manfaat AI. Pemerintah juga juga telah melelang frekuensi 1,4 GHz untuk menghadirkan internet yang lebih murah dan merata.

Meutya menambahkan ketika pemanfaatannya dilakukan dengan baik, AI akan membawa kebaikan. “Demokrasi teknologi menuntut tanggung jawab bersama, dan kita semua memiliki peran yang sama penting dalam menentukan arah perkembangan AI ke depan,” pungkasnya.

Baca Juga: Banyak Orang Tua Resah, Meutya Minta Roblox Ikut Aturan Perlindungan Anak Indonesia

SEBELUMNYA

Jalan Panjang Sutradara Loeloe Hendra Melahirkan Film Pertama Tale of The Land

BERIKUTNYA

Teguh Ostenrik: Seni Bukan Sekadar Jawaban, Tapi Keberanian untuk Bertanya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga