PBB Sebut Dampak AI Generatif Lebih Rentan Terhadap Perempuan
17 June 2025 |
10:51 WIB
Kecerdasan buatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari banyak pekerjaan pada saat ini. Studi terbaru Persatuan Bangsa Bangsa tentang dampak kecerdasan buatan mengungkapkan bahwa kelompok pekerja perempuan terdampak lebih besar di tengah inovasi artificial intelligence (AI) yang kian masif.
Dikutip dari laman PBB, studi bersama antara PBB melalui ILO dan Poland’s National Research Institute menunjukkan bahwa 4,7 persen pekerjaan perempuan masuk dalam kategori risiko tertinggi secara global akibat kecerdasan buatan generatif. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan laki-laki, yakni 2,4 persen.
Baca juga: Waspada Serangan Siber Pakai AI, Begini Cara Mencegahnya
Sementara itu, di negara-negara dengan pendapatan tinggi, jumlah pekerjaan perempuan yang berisiko digantikan oleh kecerdasan buatan juga tercatat lebih tinggi, yakni 9,6 persen atau hampir 3 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan pekerjaan laki-laki.
Studi tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan yang terjadi sebagian besar karena representasi berlebih perempuan dalam peran administratif dan bersangkutan dengan golongan rohaniwan (klerikal), menjadi pekerjaan paling terpapar oleh kecerdasan buatan.
“Pekerjaan ini sering kali melibatkan tugas-tugas seperti entri data, pemformatan dokumen, dan penjadwalan – fungsi-fungsi yang sudah dapat dilakukan secara efisien oleh teknologi AI,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Meskipun pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak mungkin hilang sepenuhnya, laporan itu memperingatkan bahwa otomatisasi parsial dapat menurunkan kualitas pekerjaan. Pada akhirnya, dapat menjadi penyebab berkurangnya tanggung jawab, stagnasi upah, dan meningkatnya ketidakamanan.
Kondisi tersebut berpotensi membuat beberapa pekerja – terutama perempuan – menghadapi peluang yang terbatas untuk beradaptasi jika tidak ada pelatihan atau perancangan ulang peran kerja.
Selain perbedaan antara wanita dan laki-laki, studi juga menunjukkan bahwa ada perbedaan mencolok terkait dengan keberadaan kecerdasan buatan generatif di berbagai wilayah. Di berbagai negara dengan pendapatan tinggi, 34 persen pekerjaan berada di bidang yang terpapar GenAI.
Sementara itu, di negara-negara dengan pendapatan rendah, hanya 11 persen pekerjaan yang terpapar oleh kecerdasan buatan generatif. Wilayah dengan pendapatan menengah seperti Amerika Latin dan sebagian Asia berada di antara keduanya.
Eropa dan Asia Tengah menunjukkan kesenjangan gender tertinggi, disebabkan oleh tingginya jumlah perempuan yang bekerja di bidang administrasi dan meluasnya adopsi digital.
Kawasan seperti Afrika sub-Sahara, Asia Selatan, dan negara-negara Arab saat ini menunjukkan paparan keseluruhan yang lebih rendah tetapi masih dapat mengalami gangguan signifikan jika teknologi AI menyebar tanpa perlindungan.
Studi tersebut memperingatkan bahwa paparan yang lebih rendah tidak sama dengan risiko yang lebih rendah. Di wilayah-wilayah yang akses digitalnya terbatas atau perlindungan tenaga kerja lemah, bahkan otomatisasi skala kecil dapat mengganggu stabilitas sektor-sektor yang rentan.
Secara keseluruhan, studi tersebut juga mengungkapkan bahwa satu dari empat pekerjaan di seluruh dunia berpotensi terpapar Kecerdasan Buatan Generatif. Studi juga menemukan bahwa mengubah deskripsi pekerjaan, bukan kehilangan pekerjaan secara luas, adalah hasil yang lebih mungkin terjadi.
Baca juga: Skill Digital Indonesia Tumbuh, Tapi Partisipasi Perempuan Masih Rendah
GenAI merujuk pada sistem yang dapat membuat konten seperti teks, gambar, kode, atau ringkasan data sebagai respons terhadap permintaan pengguna. Seiring dengan semakin luasnya penggunaannya, alat-alat tersebut diharapkan dapat mengubah tugas-tugas yang dilakukan karyawan setiap hari.
Indeks ILO-NASK yang baru diambil dari hampir 30.000 deskripsi pekerjaan dunia nyata dengan menggunakan survei pekerja, tinjauan ahli, dan model AI untuk mengidentifikasi pekerjaan yang paling rentan terhadap perubahan yang didorong AI.
Dikutip dari laman PBB, studi bersama antara PBB melalui ILO dan Poland’s National Research Institute menunjukkan bahwa 4,7 persen pekerjaan perempuan masuk dalam kategori risiko tertinggi secara global akibat kecerdasan buatan generatif. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan laki-laki, yakni 2,4 persen.
Baca juga: Waspada Serangan Siber Pakai AI, Begini Cara Mencegahnya
Sementara itu, di negara-negara dengan pendapatan tinggi, jumlah pekerjaan perempuan yang berisiko digantikan oleh kecerdasan buatan juga tercatat lebih tinggi, yakni 9,6 persen atau hampir 3 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan pekerjaan laki-laki.
Studi tersebut menunjukkan bahwa ketimpangan yang terjadi sebagian besar karena representasi berlebih perempuan dalam peran administratif dan bersangkutan dengan golongan rohaniwan (klerikal), menjadi pekerjaan paling terpapar oleh kecerdasan buatan.
“Pekerjaan ini sering kali melibatkan tugas-tugas seperti entri data, pemformatan dokumen, dan penjadwalan – fungsi-fungsi yang sudah dapat dilakukan secara efisien oleh teknologi AI,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Meskipun pekerjaan-pekerjaan tersebut tidak mungkin hilang sepenuhnya, laporan itu memperingatkan bahwa otomatisasi parsial dapat menurunkan kualitas pekerjaan. Pada akhirnya, dapat menjadi penyebab berkurangnya tanggung jawab, stagnasi upah, dan meningkatnya ketidakamanan.
Kondisi tersebut berpotensi membuat beberapa pekerja – terutama perempuan – menghadapi peluang yang terbatas untuk beradaptasi jika tidak ada pelatihan atau perancangan ulang peran kerja.
Selain perbedaan antara wanita dan laki-laki, studi juga menunjukkan bahwa ada perbedaan mencolok terkait dengan keberadaan kecerdasan buatan generatif di berbagai wilayah. Di berbagai negara dengan pendapatan tinggi, 34 persen pekerjaan berada di bidang yang terpapar GenAI.
Sementara itu, di negara-negara dengan pendapatan rendah, hanya 11 persen pekerjaan yang terpapar oleh kecerdasan buatan generatif. Wilayah dengan pendapatan menengah seperti Amerika Latin dan sebagian Asia berada di antara keduanya.
Eropa dan Asia Tengah menunjukkan kesenjangan gender tertinggi, disebabkan oleh tingginya jumlah perempuan yang bekerja di bidang administrasi dan meluasnya adopsi digital.
Kawasan seperti Afrika sub-Sahara, Asia Selatan, dan negara-negara Arab saat ini menunjukkan paparan keseluruhan yang lebih rendah tetapi masih dapat mengalami gangguan signifikan jika teknologi AI menyebar tanpa perlindungan.
Studi tersebut memperingatkan bahwa paparan yang lebih rendah tidak sama dengan risiko yang lebih rendah. Di wilayah-wilayah yang akses digitalnya terbatas atau perlindungan tenaga kerja lemah, bahkan otomatisasi skala kecil dapat mengganggu stabilitas sektor-sektor yang rentan.
Secara keseluruhan, studi tersebut juga mengungkapkan bahwa satu dari empat pekerjaan di seluruh dunia berpotensi terpapar Kecerdasan Buatan Generatif. Studi juga menemukan bahwa mengubah deskripsi pekerjaan, bukan kehilangan pekerjaan secara luas, adalah hasil yang lebih mungkin terjadi.
Baca juga: Skill Digital Indonesia Tumbuh, Tapi Partisipasi Perempuan Masih Rendah
GenAI merujuk pada sistem yang dapat membuat konten seperti teks, gambar, kode, atau ringkasan data sebagai respons terhadap permintaan pengguna. Seiring dengan semakin luasnya penggunaannya, alat-alat tersebut diharapkan dapat mengubah tugas-tugas yang dilakukan karyawan setiap hari.
Indeks ILO-NASK yang baru diambil dari hampir 30.000 deskripsi pekerjaan dunia nyata dengan menggunakan survei pekerja, tinjauan ahli, dan model AI untuk mengidentifikasi pekerjaan yang paling rentan terhadap perubahan yang didorong AI.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.