Profil Sanae Takaichi yang Resmi Jadi Perdana Menteri Perempuan Pertama Jepang
21 October 2025 |
15:57 WIB
Jepang menorehkan sejarah pada Selasa (21/10), ketika Sanae Takaichi terpilih menjadi perdana menteri perempuan pertama. Presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) itu memenangkan 237 suara di Majelis Rendah dan 125 suara di Majelis Tinggi, mengungguli rivalnya dari Partai Demokrat Konstitusional, Yoshihiko Noda.
Kemenangannya menandai puncak karier politik yang telah dia bangun selama tiga dekade. Takaichi telah menjadi anggota Majelis Rendah selama hampir 30 tahun, dan sebelumnya menjabat sebagai Menteri Keamanan Ekonomi serta Menteri Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi.
Baca juga: Mengenal Penerus Takhta Kekaisaran Jepang, Pangeran Hisahito dari Akishino
Perjalanan menuju kursi perdana menteri bukanlah hal mudah. Dilansir dari The Guardian, dia baru berhasil menjadi pemimpin LDP pada Oktober 2025 setelah dua kali gagal dalam upaya sebelumnya. Kemenangannya semakin pasti setelah LDP menjalin koalisi dengan Japan Innovation Party (Nippon Ishin no Kai) pada Senin (20/10/2025), malam. Kesepakatan tersebut memastikan dukungan yang cukup untuk memenangkan pemungutan suara parlemen.
Dalam pidato singkatnya, Takaichi berjanji akan membentuk kabinet inklusif dan memberi lebih banyak ruang bagi politisi perempuan, sebagaimana dia isyaratkan selama kampanye kepemimpinan partai. Media Jepang melaporkan bahwa sejumlah nama besar seperti Yoshimasa Hayashi, Shinjiro Koizumi, dan Toshimitsu Motegi berpotensi masuk dalam jajaran kabinet barunya.
Kemenangan Takaichi memicu euforia sekaligus skeptisisme. Di satu sisi, dia menjadi simbol pencapaian perempuan di negara yang masih menempati peringkat rendah dalam kesetaraan gender global. Namun di sisi lain, banyak perempuan muda di Jepang meragukan kemampuannya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, mengingat pandangan tradisionalnya soal pernikahan sesama jenis, sistem nama keluarga, dan suksesi kekaisaran yang hanya boleh dipegang laki-laki.
Secara politik, Takaichi mewarisi beban berat. Jepang sedang menghadapi inflasi tertinggi dalam beberapa dekade, biaya hidup melonjak, dan penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Skandal penggalangan dana yang menyeret anggota senior LDP membuat rakyat kecewa karena partai dianggap gagal menegakkan akuntabilitas.
Takaichi bukan politisi keturunan bangsawan atau anak keluarga politik, sesuatu yang langka di dunia politik Jepang yang masih sangat feodal. Lahir di Nara dari ayah pegawai perusahaan otomotif dan ibu polisi, dia tumbuh dengan keras dan mandiri. Orang tuanya menolak membiayai kuliah karena menganggap perempuan tak perlu sekolah tinggi, sehingga dia bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kuliahnya sendiri.
Sebelum terjun ke dunia politik, Takaichi sempat bekerja sebagai pembawa acara televisi dan bahkan dikenal sebagai drummer heavy metal yang kerap membawa banyak stik karena sering memecahkannya saat tampil. Dia juga dikenal gemar otomotif dan masih memiliki mobil Toyota Supra kesayangannya yang kini dipajang di museum lokal Nara.
Perjalanannya di politik dimulai saat bergabung dengan Partai Demokrat Liberal (LDP) dan menjadi murid ideologis mantan perdana menteri Shinzo Abe. Dia meniti karier perlahan, terpilih sembilan kali menjadi anggota parlemen dan menduduki berbagai posisi penting seperti Menteri Urusan Gender, Demografi, dan Keamanan Ekonomi.
Dengan keberhasilannya, Takaichi kini menjadi simbol baru bagi perempuan Jepang di dunia politik, meskipun ideologinya tetap tergolong konservatif. Ia sering disebut sebagai “Iron Lady of Japan,” julukan yang disematkan karena ketegasannya dan kekagumannya pada mantan perdana menteri Inggris, Margaret Thatcher.
Terlepas dari arah politiknya, terpilihnya Sanae Takaichi menandai momen penting dalam sejarah Jepang modern, menembus batas budaya patriarki yang selama puluhan tahun menutup jalan perempuan menuju kekuasaan tertinggi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kemenangannya menandai puncak karier politik yang telah dia bangun selama tiga dekade. Takaichi telah menjadi anggota Majelis Rendah selama hampir 30 tahun, dan sebelumnya menjabat sebagai Menteri Keamanan Ekonomi serta Menteri Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi.
Baca juga: Mengenal Penerus Takhta Kekaisaran Jepang, Pangeran Hisahito dari Akishino
Perjalanan menuju kursi perdana menteri bukanlah hal mudah. Dilansir dari The Guardian, dia baru berhasil menjadi pemimpin LDP pada Oktober 2025 setelah dua kali gagal dalam upaya sebelumnya. Kemenangannya semakin pasti setelah LDP menjalin koalisi dengan Japan Innovation Party (Nippon Ishin no Kai) pada Senin (20/10/2025), malam. Kesepakatan tersebut memastikan dukungan yang cukup untuk memenangkan pemungutan suara parlemen.
Dalam pidato singkatnya, Takaichi berjanji akan membentuk kabinet inklusif dan memberi lebih banyak ruang bagi politisi perempuan, sebagaimana dia isyaratkan selama kampanye kepemimpinan partai. Media Jepang melaporkan bahwa sejumlah nama besar seperti Yoshimasa Hayashi, Shinjiro Koizumi, dan Toshimitsu Motegi berpotensi masuk dalam jajaran kabinet barunya.
Kemenangan Takaichi memicu euforia sekaligus skeptisisme. Di satu sisi, dia menjadi simbol pencapaian perempuan di negara yang masih menempati peringkat rendah dalam kesetaraan gender global. Namun di sisi lain, banyak perempuan muda di Jepang meragukan kemampuannya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, mengingat pandangan tradisionalnya soal pernikahan sesama jenis, sistem nama keluarga, dan suksesi kekaisaran yang hanya boleh dipegang laki-laki.
Secara politik, Takaichi mewarisi beban berat. Jepang sedang menghadapi inflasi tertinggi dalam beberapa dekade, biaya hidup melonjak, dan penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Skandal penggalangan dana yang menyeret anggota senior LDP membuat rakyat kecewa karena partai dianggap gagal menegakkan akuntabilitas.
â–¼Ms. TAKAICHI Sanae has been designated as the 104th Prime Minister. pic.twitter.com/1j5wXPHZuo
— PM's Office of Japan (@JPN_PMO) October 21, 2025
Dari Drummer Heavy Metal ke Kursi Perdana Menteri
Takaichi bukan politisi keturunan bangsawan atau anak keluarga politik, sesuatu yang langka di dunia politik Jepang yang masih sangat feodal. Lahir di Nara dari ayah pegawai perusahaan otomotif dan ibu polisi, dia tumbuh dengan keras dan mandiri. Orang tuanya menolak membiayai kuliah karena menganggap perempuan tak perlu sekolah tinggi, sehingga dia bekerja paruh waktu untuk membayar biaya kuliahnya sendiri.Sebelum terjun ke dunia politik, Takaichi sempat bekerja sebagai pembawa acara televisi dan bahkan dikenal sebagai drummer heavy metal yang kerap membawa banyak stik karena sering memecahkannya saat tampil. Dia juga dikenal gemar otomotif dan masih memiliki mobil Toyota Supra kesayangannya yang kini dipajang di museum lokal Nara.
Perjalanannya di politik dimulai saat bergabung dengan Partai Demokrat Liberal (LDP) dan menjadi murid ideologis mantan perdana menteri Shinzo Abe. Dia meniti karier perlahan, terpilih sembilan kali menjadi anggota parlemen dan menduduki berbagai posisi penting seperti Menteri Urusan Gender, Demografi, dan Keamanan Ekonomi.
Dengan keberhasilannya, Takaichi kini menjadi simbol baru bagi perempuan Jepang di dunia politik, meskipun ideologinya tetap tergolong konservatif. Ia sering disebut sebagai “Iron Lady of Japan,” julukan yang disematkan karena ketegasannya dan kekagumannya pada mantan perdana menteri Inggris, Margaret Thatcher.
Terlepas dari arah politiknya, terpilihnya Sanae Takaichi menandai momen penting dalam sejarah Jepang modern, menembus batas budaya patriarki yang selama puluhan tahun menutup jalan perempuan menuju kekuasaan tertinggi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.